Aplikasi Ini Jauhkan Mata dari Katarak

Kamis, 21 Desember 2017 23:14:27
Reporter : Fahrizal Tito
Aplikasi Ini Jauhkan Mata dari Katarak

Surabaya (beritajatim.com) - Kini, deteksi penyakit mata semudah menyentuh layar android. Slogan itu tepat untuk aplikasi www.cekmata.com ciptaan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair Caesar L. Givanni bersama dua orang sahabatnya Ivan Sunarso (serial interpreneur) dan Slyvester Albert (programmer dan dosen IT Universitas Ciputra, Surabaya).

Caesar L. Givanni menjelaskan, www.cekmata.com merupakan aplikasi pemeriksaan mata katarak berbasis machine learning yang mampu menganalisa dan mendeteksi mata katarak hanya dalam hitungan detik melalui android.

"Aplikasi berjargon Selfie Check Healthy ini akan memudahkan siapa saja untuk skrining/pemeriksaan kesehatan mata, sehingga para penderita sakit mata khususnya katarak jika mengetahui sejak dini akan cepat sembuh," jelas Caesar, Kamis (21/12/2017).

Mahasiswa yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr. Soetomo-FK Unair ini mengatakan bahwa latar belakang dikembanganya aplikasi ini karena selain kesadaran masyarakat terhadap skrining mata masih rendah, juga untuk mencegah katarak baru diketahui setelah kondisi akut.

"Hampir 4 juta orang di Indonesia terkena katarak. WHO memperkirakan tahun 2020 mendatang, setiap satu menit orang buta karena katarak di Indonesia. Urgensinya tinggi, mengingat katarak adalah penyebab kebutaan terbesar di dunia," kata Caesar.

Chief Technology Officer cekmata.com, Slyvester Albert mengatakan aplikasi ini menggabungkan teknologi Machine learning dengan konsep skrining katarak. Ia menerangkan, dalam proses pembuatan aplikasi tersebut, melalui pemberian data pembanding komputer diajarkan cara membedakan mana mata katarak dan mata normal.

"Semakin banyak gambar pembanding yang dipelajari, maka komputer semakin pintar, semakin mampu menganalisa, sehingga mampu menghasilkan akurasi analisis yang lebih tinggi lagi," ujar Albert.

Ia mengungkapkan, di luar negeri kemajuan teknologi berbasis machine learning sedang hangat diperbincangkan. Ini merupakan metode analisis terbaru yang dapat diaplikasikan untuk berbagai keperluan. Selain bermanfaat di bidang kedokteran, metode machine learning juga dapat dimanfaatkan untuk analisis toko online, prediksi stok saham, bisnis maupun finansial.

"Di luar negeri sedang dilakukan riset pemanfaatan mesin learning untuk mendeteksi kanker kulit. Ini masih sangat baru, dan Indonesia tidak boleh ketinggalan, ujar Albert.

Albert menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi www.cekmata.com terbilang mudah. Cukup dengan mengakses web tersebut, pengguna dapat langsung memanfaatkan fitur pemeriksaan mata. Untuk proses skrining, pengguna dapat mengarahkan langsung salah satu pupil mata ke kamera handphone yang digunakan, lalu cekreek! Aplikasi ini akan mendeteksi keberadaan katarak pada mata pengguna.

"Aplikasi ini akan langsung mengukur presentase convidence dari gambar mata yang dikirimkan oleh pengguna. Dalam hitungan detik, pengguna dapat langsung mengetahui hasilnya apakah matanya terbilang sehat atau sebaliknya," urai Albert.

Ia menambahkan, bila hasil analisis menunjukkan positif katarak, maka aplikasi tersebut secara otomatis akan mengarahkan pengguna untuk melakukan pemeriksaan lanjut ke dokter klinik mata atau rumah sakit terdekat, serta reputasi dari klinik atau rumah sakit yang direkomendasikan pada aplikasi tersebut.

"Cukup bilang ke dokternya, Dok menurut cekmata.com saya mengalami katarak. Nanti sama dokternya akan diperiksa lebih lanjut," ungkap Caesar.

Untuk menunjang proses pemeriksaan, Albert menyarankan supaya pengambilan gambar berada pada pencahayaan yang baik. Selain mengembangkan aplikasi berbasis online, aplikasi ini juga dapat diakses secara offline. Sehingga aplikasi ini tetap bisa diakses meskipun tanpa sambungan internet.

"Kini siapa saja bisa masuk ke ranah deteksi awal katarak. Karena tanpa harus merayu bapak ibunya supaya mau ke dokter, siapa saja bisa membantu mengakses aplikasi ini, sehingga bisa langsung ketahuan hasilnya katarak atau tidak," kata Albert.

Ia mengklaim tingkat akurasi aplikasi tersebut dapat mencapai hasil analisis hingga 75-80 persen. Namun, menurutnya aplikasi yang dikembangkannya itu masih banyak memperkaya data supaya komputernya makin pinter.

"Jika semakin banyak data yang bisa dipelajari komputer kami, maka hasilnya makin akurat, yakni mendekati 95 persen," tandas Albert.

Sementara itu, Chief Marketing Officer cekmata.com, Ivan Sunarso mengungkapkan, konsep social technopreneurs yang baru dua bulan dijalani ini memerlukan dukungan banyak pihak.

"Tidak menutup kemungkinan akan ada kolaborasi dengan pihak lain untuk meningkatkan fitur aplikasi ini. Saat ini sedang mengembangkan akses kerjasama dengan sejumlah rumah sakit dan klinik mata," tutur Ivan.

Ia berharap, kehadiran aplikasi ini dapat membantu mengurangi angka kebutaan di Indonesia. Dan ia berencana akan merangkul berbagai komunitas peduli katarak, untuk bersama bergerak menyosialisasikan aplikasi tersebut sehingga mudah diakses oleh masyarakat di perkotaan hingga pedesaan.

"Kami perjuangankan supaya aplikasi ini tetap gratis dan mudah diakses siapapun dan dimanapun. Agar kkrining mata katarak dini sangat disadari oleh setiap masyarakat," harap Ivan. [ito/suf]

Tag : penyakit

Berita Terkait

Komentar

Kanal Pendidikan & Kesehatan