Mahasiswa NERS UM Surabaya Cegah Mewabahnya Penyakit Leptospirosis

Kamis, 07 Desember 2017 00:14:36
Reporter : Fahrizal Tito
Mahasiswa NERS UM Surabaya Cegah Mewabahnya Penyakit Leptospirosis

Surabaya (beritajatim.com) - Mencegah mewabahnya bakteri leptospira yang disebabkan tikus di pemukiman dengan lingkungan yang banyak sampah dan lahan kosong rimbun, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) yang tergabung dalam Komunitas Keperawatan Keluarga dan Gerontik, melalui program sahabat keluarga (SAGA) melakukan pendampingan dan penyuluhan warga di RT 3 RW 1 Kelurahan Kejawan Putih Tambak, Kecamatan Mulyorejo.

Mereka memilih wilayah itu karena jumlah tikus di kawasan ini juga terbilang banyak, bahkan mereka sudah tak segan menampakkan diri di siang hari.

Ketua Pelaksana SAGA, Ahmad Ilham Wahyudi mengatakan, kegiatan itu akan dilakukan secara berkesinambungan dengan mendatangi warga dan memberikan edukasi terkait bakteri yang sempat merenggut nyawa warga Surabaya itu.

"Tak hanya sosialisasi, mahasiswa juga turun memberikan penjelasan di pusat kegiatan warga seperti posyandu ataupun PKK. Mereka juga mengadakan kerja bakti bersama warga. Sebelum melakukan pendampingan, tim kami melakukan survei ke lapangan. Survei ini melihat kebutuhan keluarga atau warga setempat," jelasnya di sela sosialisasi kepada warga, Rabu (6/12/2017).

Ia mengatakan, dari survei itu ada tiga poin yang dihasilkan. Pertama, melihat lokasi yang ternyata di Kejawan Putih Tambak ini banyak warga yang bekerja sebagai pengepul sampah. Kedua dari sisi ekonomi. "Warga di sini rata-rata ekonomi menengah ke bawah. Kami harus berupaya meningkatkan ekonomi warga," jelas Ilham.

Mahasiswa Profesi Ners ini menggungkapkan, ketiga  minat untuk perilaku hidup bersih dan sehat. Menurut Ilham, minat warga sekitar terhadap kebersihan minim. "Rata-rata di sini sampah ditimbun, kalau sudah mulai busuk baru ada tindakan. Dengan kondisi ini, lingkungan sekitar ada potensi muncul virus leptospirosis, itu yang menjadi tim kami memutuskan untuk melakukan pendampingan dan penyuluhan di perkampungan ini," ungkapnya.

Dekan FIK UM Surabaya Mundakir mengatakan, program SAGA di tahun kedua ini melibatkan 37 mahasiswa dan mereka telah menyiapkan program-program yanh akan diterapkan.

"Pendampingan selama satu bulan, para mahasiswa mengajak warga untuk mengolah sampah menjadi produk bernilai jual, membuat bank sampah, budidaya tanaman toga dengan model hidroponik, dan pembagian puluhan poster seruan pencegahan leptospirosis," kata Mundakir.

Ia menambahkan, program Saga UM Surabaya ini juga sudah melakukan pendampingan di lima kelurahan Surabaya dengan tujuan untuk mewujudkan masyarakat sehat melalui lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

"Kalau lingkungan Kelurahan Kejawen Putih bersih, tidak akan mendatangkan tikus yang membawa virus leptospirosis. Apalagi musim penghujan seperti sekarang ini," ungkapnya.

Dia mengungkapkan, program SAGA yang ditangani mahasiswa FIK UM Surabaya di tiap kelurahan berbeda-beda. Menyesuaikan kebutuhan masyarakat. "Di sini membutuhkan pengelolaan sampah, pemanfaatan lahan, terus pencegahan virus leptospirosis," kata Mundakir.

Ia menjelaskan, gejala virus leptospirosis hampir sama dengan meriang. Untuk menjadi inveksi dibutuhkan waktu antara 3-4 hari. Kalau kondisinya drop, waktu infeksi bisa lebih cepat sehari. "Semoga keluarga yang ada disana tidak ada yanh terjangkit virus serupa," tandas Mundakir.

Sementara itu, Lurah Kejawan Putih Tambak, Eny Kurniawati mengungkapkan upaya penerapan hidup bersih biasanya dilakukan setiap RT. Namun dengan adanya mahasiswa ini, pihaknya merasa terbantu dan mengapresiasi kegiatan tersebut.

"Terimakasih untuk UMSurabaya semoga warga bisa digerakkan untuk kerja bakti serentak. Sehingga antara selokan antar RT bisa dibersihkan maksimal. Serta pendampingan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat," ungkap Eny. [ito/suf]

Tag : penyakit

Berita Terkait

Kanal Pendidikan & Kesehatan