Ini Penyebab Angka Kematian Ibu di Kabupaten Mojokerto Tinggi

Rabu, 06 Desember 2017 08:24:49
Reporter : Misti P.
Ini Penyebab Angka Kematian Ibu di Kabupaten Mojokerto Tinggi
Seorang ibu hamil sedang diperiksa kehamilannya.

Mojokerto (beritajatim.com)--Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto saat ini mengawasi 4.472 ibu hamil (bumil) karena masuk dalam kategori resikp tinggi (risti).

Upaya tersebut dilakukan agar tidak terjadi angka kematian ibu di Mojokerto. Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kabupaten Mojokerto, Susy Dwi Harini, mengatakan, perilaku bumil yang tidak sehat menjadi penyabab tingginya kasus tersebut.

"Oleh sebab itu, kita telah memetakan sejumlah bumil yang masuk dalam kategori risti," ungkapnya, Rabu (6/12/2017).

Upaya tersebut dilakukan dengan perhitungan skor Poedji Rochjati, yakni perhitungan berdasarkan sejumlah indikator risiko yang disandang bumil. Di antaranya adalah riwayat penyakit yang diderita, usia bumil, bayi kembar maupun posisi janin yang nyungsang.

"Masing-masing memiliki bobot skor berbeda. Setiap bumil dibekali dengan buku Kesehatan Ibu dan Anak atau KIA yang bertujuan untuk pemantauan kesehatan selama masa kehamilan dan melahirkan. Namun, tidak sedikit dari bumil yang tidak patuh pada prosedur pemeriksaan," katanya.

Antara lain ibu dengan kondisi kesehatan yang berisiko masih tetap nekad untuk memutuskan untuk hamil. Padahal, ada riwayat penyakit jantung dan kanker serviks.

Perilaku tidak sehat tersebut menambah tingginya angka kematian. Sehingga, bagi bumil yang masuk dalam kategori risiko sangat tinggi akan mendapatkan tanda khusus berupa stempel merah.

"Jika ada tanda merah tersebut mengharuskan bumil harus menjalani penanganan persalinan di puskesmas dan rumah sakit. Jadi, bidan di mana pun tidak boleh menangani kalau ada tanda merah itu. Karena risti harus dilayani di faskes, yang terpenting adalah upaya pencegahan agar bumil tidak sampai jatuh pada kondisi risti," ujarnya.

Salah satunya dengan pemberian susu bagi bumil yang kekurangan energi protein. Selain itu, bumil juga diwajibkan melakukan pemeriksaan sekurang-kurangnya empat kali selama masa kehamilan. Masing-masing dilakukan satu kali pada trimester I dan II, kemudian dua kali periksa pada trimester III.

"Bumil juga harus melakukan pemeriksaan antenatal care (ANC) terpadu minimal satu kali. ANC adalah memeriksakan kondisi kehamilan berkelanjutan mulai dari dokter umum, dokter spesialis kandungan, dokter gigi serta petugas laboratorium, hingga ahli gizi. Lebih banyak melakukan pemeriksaan lebih baik," jelasnya.[air/tin]

Tag : keluarga

Berita Terkait

Kanal Pendidikan & Kesehatan