Mahasiswa ITS Kembangkan Material Ortopedi Berbasis Magnesium

Rabu, 04 Oktober 2017 20:25:40
Reporter : Fahrizal Tito
Mahasiswa ITS Kembangkan Material Ortopedi Berbasis Magnesium

Surabaya (beritajatim.com) - Bagaimana jika logam-logam yang biasanya digunakan untuk memperbaiki patah tulang, larut bebas kedalam tubuh? Tentu saja akan menjadi kendala bagi kondisi tubuh, pasalnya efek yang ditimbulkannya akan menjadi racun.

Berlatar belakang itulah, Mohammad Mualliful Ilmi dan Denny Okta Kusumawardhana, mahasiswa Departemen Kimia Fakultas Ilmu Alam (FIA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggagas suatu pengembangan material ortopedi berbasis magnesium yang berfungsi untuk membantu memperbaiki patah tulang.

Mohammad Mualliful mengatakan, selama ini alat-alat ortopedi terbuat dari perpaduan logam titanium dan platina atau yang disebut alloy, 

"Sehingga agar tidak menjadi racun, kami berusaha mengembangkan material ortopedi yang berbasis magnesium, karena alat ortopedi sendiri merupakan alat fiksasi patah tulang yang biasanya dipasangkan di tulang yang patah agar bisa menyambung kembali dan mengalami penyembuhan. Dan banyak dibutuhkan masyarakat," jelas pria yang akrab disapa Ilmi itu.

Menurut pengakuan Ilmi, ide tersebut ternyata terinspirasi dari pengalamannya sendiri yang pernah mengalami operasi patah tulang, karena dalam tindakan operasi penyembuhan memakan dua kali kerja. Pertama mengharuskan tulangnya dipasang implan dan membutuhkan biaya besar saat pengangkatan implan.

"Akhirnya saya berkeinginan untuk mencari potensi material pengganti yang dapat terdegradasi tanpa pengangkatan dan dapat disintesis secara ramah lingkungan," ungkap Ilmi.

Dari pengalaman dan pemikiran itulah, akhirnya Ilmi mengajak Denny yang merupakan rekan satu departemennya untuk mewujudkan gagasan tersebut. Selain itu, dalam karyanya tersebut, Ilmi juga merancang metode produksi magnesium yang ramah lingkungan.
 
Menurutnya, selama ini produksi magnesium selalu menggunakan proses down yang mencemari lingkungan karena perlu penggalian atau penambangan yang merusak lingkungan dan mengemisikan CO2.

"Sedangkan kami mencoba menggunakan metode elektrolisis langsung yang cukup pakai energi listrik, dan magnesiumnya kami peroleh dari air laut," papar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Kimia (Himka) itu.

Hebatnya lagi, gagasan yang cemerlang itu pun telah berhasil mengantongi juara pertama dalam ajang Indonesian Youth Conference on Sustainable Development (IYCSD) 2017 di Yogyakarta, akhir September lalu.

Dikethaui, konferensi tersebut berskala internasional karena pesertanya juga berasal dari peserta summer camp di Universitas Gadjah Mada (UGM). Karena itu, Ilmi bersama rekannya harus mempresentasikan gagasannya tersebut dalam Bahasa Inggris.

"Persiapannya mendadak sekali karena harus disampaikan dalam bahasa Inggris, dan kami hanya latihan dalam waktu singkat saat itu," akunya.

Menariknya lagi, kebanyakan peserta dari kategori yang diikutinya ternyata mahasiswa S-2. "Ada empat kategori dalam konferensi tersebut yaitu kesehatan, sains dan teknologi, agroteknologi dan sosial humaniora. Karya kami saat itu termasuk dalam kategori sains dan teknologi," tandas Ilmi. [ito/suf]

Tag : its, penelitian

Berita Terkait

Kanal Pendidikan & Kesehatan