Dampak Polusi PT Merak Jaya Beton

Warga Tidur Hirup Debu Semen, Ikan Budidaya Banyak Stres

Selasa, 23 Mei 2017 12:45:10
Reporter : Nanang Masyhari
Warga Tidur Hirup Debu Semen, Ikan Budidaya Banyak Stres

Kediri (beritajatim.com) – Seminggu paska tangki pengolahan cor PT Merak Jaya Beton di Dusun Grompol, Desa Ngebrak, Kecamatan Ngampengrejo, Kabupaten Kediri bocor dampaknya masih terasa.

Warga mengeluh debu semen yang masuk melalui pernafasan serta ikan budidaya mereka banyak yang stres akibat kolam dipenuhi semen.
 
Ketua RT 2/RW 1 Sunarno menuturkan, debu semen sisa kebocoran tangki masih bertebaran. Debu yang menempel ke pepohonan di jalan berhamburan saat tertiup angin. Debu dari semen itu kemudian masuk ke tubuh warga melalui saluran pernafasan.
 
“Saat tiduran di rumah debu yang terbawa angin masuk ke hidung dan ke mata. Rasanya sangat tidak nyaman saat bernafas dan di mata pedih. Sungguh, warga disini sangat resah terhadap adanya polusi ini. Meskipun pabrik sudah tidak beroperasi, tetapi debu semennya masih mengotori lingkungan,” aku Sunarno, Selasa (23/5/2017).
 
Debu semen ini juga menempel di dinding dan atap rumah warga. Meski sudah diberikan oleh tiap tiap pemilik rumah, namun masih saja ada. Warga terpaksa harus bolak-balik menyapu lantai rumahnya dari debu. Yang membuat mereka kesal, debu lembut tersebut masuk ke dalam rumah dan mencemari makanan.
 
Wajar apabila warga mengeluh, karena sampai hari ini belum ada tindakan nyata baik dari pabrik maupun pemerintah. Perihal ganti rugi yang dijanjikan, masih belum terealisasi. Sementara pembersihan masih dilakukan secara pribadi oleh masing-masing warga.
 
“Semestinya pemerintah bisa membantu warga membersihkan lingkungan dan juga rumah-rumah yang terdampak. Ada mobil PMK atau mobil lainnya yang bisa diterjunkan untuk membersihkan sisa-sisa debu yang ada di jalan, di rumah maupun di tanaman milik warga. Sebab, selama ini warga hanya bisa membersihkan secara pribadi, dan kemampuannya sangat minim,” keluh Sunarno mewakili warganya.
 
Masih kata Sunarno, sejak kejadian tangki pengolahan semen bocor, Selasa (16/5/2017) lalu hingga saat ini, baru ada bantuan berupa pemberian masker saja. Penutup hidung dan mulut ini memang perlu, tetapi menurut warga, daripada sekedar masker, seharusnya pemerintah bisa membersihkan debu semen menggunakan penyemprot air.
 
Samsul Munir, warga RT 2 mengatakan, apabila pemerintah telah mengeluarkan izin operasional PT Merak Jaya Beton, seharusnya pemerintah cepat dalam bertindak. Insiden kebocoran tangki seperti ini dapat segera diatasi sebagaimana analisa dampak yang telah diteliti sebelum izin dikeluarkan. “Kalau seperti ini tentu Amdalnya kami ragukan,” tegasnya.
 
Semua instansi terkait yang terlibat dalam pengeluaran izin PT Merak Jaya Beton diminta untuk segera menyelesaian persoalan ini. Sudah satu minggu lamanya warga menantikan tindakan nyata dari pemerintah, tetapi belum terlihat. Sementara yang ada mereka terus merasakan dampak polusi debu bercampur semen yang membahayakan kesehatan tersebut.
 
Yayuk, warga RT 2/RW 1 lainnya mengaku, selain mengotori lingkungan dan menggangu pernafasan, polusi debu semen dari kebocoran tangki pabrik sudah mengancam keselamatan ikan budidayanya. Kini sektar 50 ikan jenis gurami dan patin, serta lele dalam ukuran besar dalam keadan setres. Dia khawatir apabila ikan-ikan yang telah dipelihara selama 3 tahun tersebut kondisinya semakin parah.
 
“Saat ini saja ikan stres, tidak mau makan. Saya tidak bisa membayangkan apabila ikan peliharaan ini akhirnya mati. Ikan ikan ini bukan jenis ikan budidaya untuk konsumsi tetapi pembesaran untuk hias. Harganya berbeda dengan kebanyakan ikan konsusi. Saya memeliharanya dari mulai bibit sampai tiga tahun terakhir ini,” keluh Yayuk.
 
Ikan budidaya milik Yayuk ini beratnya lebih dari 5 kilogram dengan panjang kurang lebih 40-50 centimeter tiap ekor. Saat tangki cor bocor, kolam dipenuhi dengan semen. Seketika itu, dia langsung menguras kolam ikan untuk diganti airnya. Ternyata, dasar kolam dipenuhi dengan kotoran debu bercampur semen.
 
“Ikan ini stres imbas dari semen kemarin. Air kolam menjadi keruh, sehingga setiap hari harus ganti air seperti ini. Dinas Perikanan kemarin sudah datang kemarin. Mereka menyarankan supaya ikan tidak boleh dikasih makan selama satu minggu. Sebab, apabila ikan tidak mau memakan makanannya, justru makanan yang busuk menjadi racun yang bisa menyebabkan ikan mati,” jelasnya.
 
Yayuk sudah melaporkan persoalan budidaya ikannya tersebut kepada Pemerintah Desa. Dia berharap, selain mendapatkan ganti rugi uang kebersihan yang dijanjikan pabrik, juga mendapat ganti rugi untuk ikan ternaknya. Betapa tidak, selama ini dia juga sudah mengelurkan banyak biaya untuk membeli obat untuk air kolam supaya perilaku ikan miliknya yang setres kembali normal.
 
Sementara itu, pada Senin (22/5/2017) malam, warga sempat berniat menggeruduk rumah Kepala Desa Ngebrak Saeroji karena dinilai paling bertanggung jawab di tingkat desa. Kades adalah seseorang yang pertama kali mengetahui rencana PT Merak Jaya Beton berinvestasi di desanya. Sehingga Kades dianggap paling seseorang yang paling dekat dengan perusahaan. Bahkan, kebanyakan warga mengatakan, apabila pabrik tersebut milik kepala desa.
 
Untuknya, rencana warga terendus oleh pihak keamanan. Akhirnya, puluhan persolnil kepolisian diterjunkan. Acara yang semula untuk menagih janji kepala desa dengan mendatangi rumahnya berubah menjadi rapat di Balai Desa Ngebrak. Dalam pertemuan tersebut dijaga ketat oleh sejumlah anggota polisi.
 
Rapat yang berlangsung panas karena muncul berbagai protes itu ditutup dengan dua kesepakatan. Satu, warga tetap menuntut uang ganti rugi kepada pihak perusahaan. Kedua, warga sepakat untuk mengusir PT Merak Jaya Beton dari tempatnya berproduksi yaitu di Dusun Ngebrak.
 
Perihal permintaan ganti rugi, ada sekitar 168 kepala keluarga (KK) terdampak yang meminta supaya diberikan dana kebersihan. Nilainya, untuk warga di ring satu kawasan paling dekat dengan pabrik sebesar Rp 1,5 juta per KK, sedangkan ring dua Rp 1 juta per KK dan ring tiga Rp 750 ribu per KK. Akan tetapi, pihak pabrik sempat menawar dengan memberi uang ganti rugi hanya Rp 25 juta, yang akhirnya ditolak oleh masyarakat melalui Ketua RT dan RW.
 
Sementara perihal desakan penutupan, menurut warga harus dilakukan segal penyegelan, pada Selasa (16/5/2017) lalu hingga selama-lamanya. Bagi mereka, insiden penyegelan tersebut adalah final dari kegiatan produksi pabrik harus dihentikan. Kedua poin tersebut sebenarnya sudah disepakati oleh pabrik paska penyegelan terjadi dan kini ditagih kembali oleh masyarakat.
 
Terpisah, Kepala Desa Ngebrak Saeroji mengaku, hanya bisa memfasilitasi warga dengan perusahaan dalam menindaklanjuti persoalan tersebut. Baginya, penutupan pabrik tidak dapat ia putuskan, karena sudah menjadi wewenang pemerintah daerah, sebagaimana izin yang sudah dikeluarkan.
 
 “Langkah desa ya menindak lanjutinya, saya hanya bisa memfasilitasi antara warga dengan perusahaan, kita mediasi. Ditutup dan tidaknya bukan urusan desa, saya masih belum tahu. Itu nanti hanya bisa diputuskan oleh perusahaan dengan mekanisme seperti apa,” tegas Saeroji.
 
Menurut Saeroji, hal lain yang mestinya dipikirkan adalah perilah sewa-menyewa antara pemerintah desa dengan pabrik. Sebab, dari masa sewa dua tahun, kini baru berjalan satu tahun saja. Sementara perihal perjanjian sewa tersebut dibuat dalam bentuk memorandum of understanding atau MoU.
 
Sesuai rencana, Saeroji mengaku, pemerintah desa akan mempertemukan warga dengan pihak perusahaan, pada Selasa (23/5/2017) malam nanti. Di dalam pertemuan tersebut, desa hanya sebagai mediator saja. (nng/ted)

Tag : pencemaran kediri

Berita Terkait

Kanal Pendidikan & Kesehatan