PT Merak Jaya Beton Kediri Disegel

Warga Berang! Ganti Rugi Dampak Polusi Debu Belum Jelas

Rabu, 17 Mei 2017 17:44:35
Reporter : Nanang Masyhari
Warga Berang! Ganti Rugi Dampak Polusi Debu Belum Jelas

Kediri (beritajatim.com) - Masyarakat di sekitar pabrik cor PT Merak Jaya Beton di Dusun Grompol, Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri menuntut ganti rugi dampak polusi debu. Kebocoran tabu membuat makanan siap saji tercemar, baju kotor, dan rumah menjadi kotor.

Darmawan, warga RT 1 RW 2 mengaku, paska aksi protes, Selasa (16/5/2017) kemarin, malam harinya warga menemui pihak perusahaan. Pertemuan tersebut membahas tentang dampak polusi debu dan ganti rugi atas kerugian yang ditimbulkan. Tetapi, hingga larut malam tidak ada keputusan yang diambil.

"Pihak perusahaan terus menarik ulur permasalahan tersebut. Sementara warga menghendaki adanya ganti rugi atas dampak buruk yang ditimbulkan. Perundingan tersebut berlangsung alot, tetapi belum ada keputusan final," jelas Darmawan kepada wartawan, Rabu (17/5/2017) siang.

Masyarakat menuntut ganti rugi materi yang nilainya ditentukan dalam tiga ring berdasarkan radius. Untuk warga yang rumahnya terpaut jarak 50 meter dari pabrik masuk dalam ring satu. Kemudian warga yang rumahnya di radius 100-150 meter dari pabrik dikategorikan ring dua dan ring tiga mereka yang rumahnya terpaut jarak lebih dari 150 meter dari pabrik.

"Dari warga belum ada kepastian. Siapa saja yang masuk di ring satu, serta berapa nilai ganti rugi yang diminta. Sementara dari pihak perusahaan sepertinya berusaha untuk tidak mau bertanggung jawab," jelas Darmawan.

Dalam perundingan ini, warga mempercayakan pada Samsul Munir. Dia adalah warga Dusun Grompol. Menurutnya, warga yang berada di ring satu minta ganti rugi sebesar Rp 1,5 juta, yang di ring dua Rp 1 juta dan di ring tiga Rp 750 ribu setiap kepala keluarga (KK) atau tiap rumah.

"Saat warga berdiskusi mengenai nilai ganti rugi, tiba-tiba tiga orang perwakilan dari perusahaan meningglkan tempat pertemuan. Sampai sekarang, kami tidak tahu mereka pergi kemana. Dan kita belum mendapatkan kepastian berapa nilai ganti rugi tersebut," jelasnya.

Karena pihak perusahaan melarikan diri, akhirnya warga menyerahkan persoalan ini kepada Pemerintah Desa Ngebrak. Kepala Desa Saeroji mengaku, tengah melakukan pendaftaran terhadap jumlah warganya yang terdampak polusi debu. Data tersebut nantinya akan disodorkan ke PT Merak Jaya Beton agar ditindak lanjuti dengan pemberian ganti rugi.

"Kemarin sudah ada pembicaran dengan pihak perusahaan dari dua RT itu. Mereka sudah mengajukan nominal dengan kejadian kemarin. Permintaan dari perusahaan didata yang ada itu. Tetapi masih lisan saja, dan sebagian sudah ditulis nama-namanya. Perusahaan minta supaya ditulis rinci. Karena disitu dibentuk ring satu dua dan tiga. kemudian ada mushola, toko dan warung," beber Saeroji.

Dari pengajuan warga, mereka yang masuk dalam ring satu berhak ganti rugi Rp 1,5 juta, ring dua Rp 1 juta dan ring tiga Rp 750 ribu. Sedangkan untuk mushola Rp 1,5 juta dan khusus untuk toko dan warung Rp 1 juta.

Menurut Saeroji, nilai yang disodorkan tersebut hana untuk bantuan kebersihan dan ganti rugi atas makanan siap saji yang terpaksa dibuang karena tercemar. Penentuan ring, kata Saeroji, berdasarkan tingkat pencemaran yang ditimbulkan. Setelah dilakukan pendataan sementara, jumlah masyarakat terdampak yang diusulkan sebanyak 124 KK.

Suwaji, warga RT 2 lainnya mengaku, perusahaan sudah semestinya memberikan ganti rugi, karena selama satu tahun beroperasi ini belum memberikan kompensasi atas dampak yang ditimbulkan. Bukan, hanya saat tabung semen bocor, Selasa (16/5/2017) kemarin, namun polusi dari pabrik hampir setiap hari diterima masyarakat.

"Suara mesin produksnya sangat keras. Apalagi malam hari. Sebab, pabrik ini beroperasi selama 24 jam. Bisa dibayangkan, kami yang berada di sekitar pabrik ini. Kemudian debu yang ditimbulkan. Bukan debu biasa, tetapi semen," ungkap Saeroji.

Menurut warga, banyak diantara mereka yang terserang gangguan saluran pernafasan akibat banyak menghirup debu. Terutama adalah anak-anak. Warga sudah melaporkan keluhan itu kepada pemerintah desa, tetapi Kepala Desa Saeroji tidak menggubrisnya. Akhirnya, mereka berobat secara mandiri.

"Kepala desa tidak pernah merespon keluhan kami. Katanya warga akan dipertemkan dengan pihak pabrik, kenyataanya belum terealisasi. Hingga akhirna kejadian tabung semennya bocor. Seingat saya, sepanjang perjalanan pabrik ini beroperasi, kurang lebih satu tahu, hanya sekali memberikan uang satu bulan sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun lalu," jelas Suwaji.

Uang tunjangan hari raya (THR) pabrik itu dibulan sebelum lebaran. Nilainya antara Rp 50 hingga Rp 200 ribu, disesuaikan dengan jauh dan dekatnya rumah warga. Tetapi, waktu itu ada beberapa warga yang mengembalikan pemberian uang THR pabrik. Alasan mereka, nilai uang tersebut tidak sebanding dengan dampak yang sudah ditimbulkan.

Menurut Saeroji, Kepala Desa Ngebrak pemberian uang THR tersebut sebenarnya salah satu bentuk kepedulian pabrik terhadap masyarakat di sekitarnya. Pihak pemerintah desa juga mengapresiasi pabrik, karena saat ada acara hajatan di desa, mereka juga mendapatkan sumbangan dana untuk kebutuhan.

"Setiap lebaran pabrik memberikan THR kepada warga. Nominal sekitar Rp 100 ribu per rumah. Kalau masalah nilai, besar atau kecil menurut saya, bisa dilihat di tempat lain. Bisa dibandingkan saja, berapa nilai yang perusahaan berikan kepada warganya seperti di daerah Papar sana," jelas Saeroji.

Sampai saat ini belum ada penjelasan resmi dari PT Merak Jaya Beton. Sementara itu, kini pabrik sudah tidak beroperasi. Polisi menyegel pabrik usai menuai protes dari warga. Masyarakat sudah tidak bisa memberikan toleransi kepada pabrik atas dampak lingkungan yang ditimbulkan, hingga mereka meminta supaya pabrik ditutup total. [nng/but]

Tag : pencemaran kediri

Berita Terkait

Kanal Pendidikan & Kesehatan