Siswa MTs DO Tak Sanggup Bayar SPP

Sekolah Intervensi Wali Murid Buat Surat Pernyataan Bohong

Selasa, 16 Mei 2017 16:43:10
Reporter : Nanang Masyhari
Sekolah Intervensi Wali Murid Buat Surat Pernyataan Bohong

Kediri (beritajatim.com) - Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Kandat, Kabupaten Kediri diduga mengintervensi Ramidi, ayah Bayu Wahyudi Pratama, siswa kelas 7E untuk membuat surat pernyataan bohong. Di dalam surat pernyataanya bermaterai 6000 itu, dia menyatakan bahwa berita yang beredar di media tidak benar.

Ditemui di rumahnya di Dusun Ringin Jejer, Desa Ringin Anyar, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Ramidi mengakui, telah membuat surat pernyataan tersebut di MTsN Kandat, pada Senin (15/5/2017) pagi. Waktu itu, dia mengantar anaknya ke sekolah, setelah sempat mengundurkan diri.

"Kemarin mengantar sekolah, pada Senin pagi. Disuruh ke kantor dan disuruh menulis surat pernyataan berita media yang tidak benar. Langsung saya tanda tangani," aku Ramidi, Selasa (16/5/2017).

Ramidi mengaku, diarahkan oleh pihak sekolah untuk menulis surat pernyataan tersebut. Sedangkan isi dari surat dari Kepala MTsN Kandat Abdullah Rosad. "Kata-katanya pak Rosad. Saya dituntun, kemudian tanda tangan," tegas pedagang pentol keliling ini.

Sebenarnya ada dua poin yang ada didalam surat pernyataan Ramidi yang ditanggali 13 Mei 2017 di Ringinrejo tersebut. Dia menyatakan "anak saya yang bernama Bayu Wahyudi Pratama tidak mengundurkan diri dari madrasah (MTsN Kandat). Sampai saat ini masih tetap belajar di MTsN Kandat. Informasi yang beredar di media itu tidak benar".

Masih kata Ramidi, tidak hanya surat pernyataan, dirinya juga diminta untuk menandatangani beberapa kertas dokumen. Sesuai ingatannya, ada lima dokumen. Selain surat pernyataan, adalah dokumen berita acara. Semuanya ia kerjakan di sekolah. Padahal, pada tulisan berita acara tersebut seolah dibuat di rumah Ramidi, pada Jumat (12/5/2017) pukul 20.30 WIB.

Ditanya tandangan pembuatan itu di sekolah apa di rumah? Jawab Ramidi semua di kantor sekolahan. "Tidak ada tandangan di rumah sendiri. Saya tidak sempat membacanya. Hanya diminta untuk tanda tangan," bebernya.

Ramidi kembali menegaskan, bahwa dirinya tidak tahu isi dari dokumen surat yang telah ditanda tanganinya. "Nantinya bagaimana, saya tidak tahu. Pernyataan tertulis itu dituntun oleh pak Rosad. Yang menempelkan materai pak rosad," tandasnya.

Kepada sejumlah wartawan Ramidi menegaskan, apabila berita yang beredar di media sudah benar. Berita itu berasal dari pernyataana langsung dan anaknya.

Terpisah, Kepala MTsN Kandat Abdullah Rosad ketika dikonfirmasi mengatakan, apabila persoalan tersebut telah ia anggap selesai. Perihal surat pernyataan Ramidi yang dibantah sendiri oleh yang bersangkutan, menurut Rosad tujuannya agar Bayu bisa nyaman dalam belajar kembali di sekolah.

"Itu pak ramidi juga tahu. Iya kalau yang nempel materai memang saya. Pak Ramidi ada. Saya ada," katanya ditemui di MTsN Kandat, Selasa (16/5/2017).

Ditanya apakah mendekte Ramidi untuk membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa media tidak benar? jawab Rosad dirinya tidak bermaksud untuk itu.

"Supaya informasi berimbang. Jadi, anak itu juga biusa nyaman kembali ke sekolah. Faktanya anak itu bisa kembali ke madrasah. Sampai hari ini. Tidak ada mkaksud istilahnya menjatuhkan wartawan. Saya mohon maaf kepada semuanya. Akibat ini membuat ketidak nyamanan semua," ungkap Rosad.

Surat pernyataan itu dan penandatanganan beberapa dokumen termasuk berita acara tersebut, diakui Rosad, dilakukan Ramidi, pada Senin (15/5/2017) pagi di sekolah. Berita acara tersebut didapat dari kesepakatan dalam pertemuan antara Rosad dengan Ramidi di rumahnya, pada Jumat (12/5/2017) malam.

Dia mengakui, apabila berita acara yang ditanda tangani Ramidi pada Senin itu ditanggali, Jumat malam. "Itu merupakan kesepakatan awal yang kita sampaikan. Berita acar itu memang kita tanda tangani disini. Tetapi hasil kesepakatan itu, pak ramidi juga tahu. Dia tanda tangan, pada hari Senin," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Bayu Wahyudi Pratama, siswa kelas 7E MTsN Kandat nyaris gagal mengikuti ujian kenaikan kelas, pada Senin (15/5/2017) lalu setelah tidak sanggup membayar iuran jariyah dan buku LKS sebesar Rp 1,650 juta. Menurut Ramidi, dia sodori surat pengunduran diri oleh oknum guru MTsN Kandat. Sebab, apabila tidak sanggup membayar, Bayu tidak mendapat nomor ujian dan tidak bisa mengikuti ujian.

Setelah media massa memberitakan, MTsN Kandat akhirnya mendatangi Bayu dan Ramidi di rumahnya, pada Jumat (12/5/2017) malam. Kepala MTsN Rosad meminta Bayu kembali bersekolah dan membebaskan dari seluruh biaya. Bahkan, setelah pemberitaan gencar, banyak dermawan yang datang untuk memberikan sumbangan. Ada dermawan yang memberi uang untuk biaya sekolah, ada pula yang memberi bantuan peralatan sekolah. Sumbangan mengalir dari berbagai pihak.

Tetapi ironisnya, Ramidi justru membuat surat pernyataan bohong yang berisi bahwa berita di media tidak benar. Dia juga menyatakan bahwa anaknya Bayu tidak pernah mengundurkan diri. Menurut Ramidi pembuatan surat pernyata itu atas intervensi dari Kepala MTsN Kandat Abdullah Rosad. (nng/kun)

Tag : Mts, kediri

Berita Terkait

Komentar

Kanal Pendidikan & Kesehatan