Kebangkitan Nasional, Masihkah Pemuda Berperan?

20 Mei 2018 14:00:58
Penulis : Mochamad Nur Arifin
Email : boganx2003@gmail.com
Kebangkitan Nasional, Masihkah Pemuda Berperan?

Peringatan Harkitnas 2018
Kebangkitan Nasional, Masihkah Pemuda Berperan?

Berperan dan baperan, adalah cerminan psikologis pemuda jaman now. Setidaknya saya yang lahir di tahun 90-an merasa lebih 'bersih' daripada generasi sebelumnya, bersih dari apa? Bersih dari konflik kepentingan rezim baik Orla dan Orba. Gimana tidak bersih, kita masih baru belajar membaca disaat reformasi digulirkan. Tapi apa efeknya? Efeknya ketika kita tumbuh dan menyadari ada kurangnya disana-sini kita akhirnya gampang menuding bahwa generasi tua adalah biang dari segala masalah, dan kita akhirnya merasa layak untuk berperan dan disisi lain hanya sekedar baperan karena bingung memulainya dari mana.

1908-2018

Boedi Oetomo bukan sekedar nama, disana terselip doa bahwa Budi Pekerti yang Mulia adalah senjata awal yang harus ditancapkan sebelum akhirnya Dr. Wahidin mengutus Suratmo untuk masuk volksraad sepuluh tahun kemudian. Pemuda-pemuda itu berproses dan sadar peran, yang intelektual tidak pula jadi kolonial dengan hanya melahap kepintaran untuk keuntungannya sendiri. Sejak 1920 sampai 1935 seluruh lapisan rakyat bergabung dengan Boedi Oetomo.

Sering saya menyampaikan, malunya aku jika menjadi anak muda tapi meminta-meminta dari pemerintah. Bukankah dulu anak muda ini yang menuntut, yang mendobrak dan yang melahirkan Republik ini dari rahimnya revolusi fisik, ketubannya imperialisme, dan ari-arinya adalah persatuan. Mengingat semua getir itu malu rasanya kalau sekarang dengan dalih kebangkitan pemuda itu kita hanya minta disusui. Minta diayun dalam kenyamanan, ditimang-timang. Pantas saja sedikit-sedikit merengek.

Top-Down Revolution

Ditengah kebaperan dengan pertanyaan dimana peranku sekarang sebagai pemuda? Ada yang nekat dan berani masuk kedalam sistem dengan cita-cita social betterment, nampaknya gagah diucapkan tapi tidak sedikit yang terbawa arus. Ada yang baru masuk ditangkap karena narkoba sampai korupsi.

Memang revolusi itu juga bisa diperjuangkan dari atas kebawah, dengan kebijakan dan kebijaksanaan yang bertautan dengan rakyat, kursi yang kita dapatkan dari elektoral itu layaknya bak sajadah yang menjadi tempat persujudan. Tetapi sebaliknya, dari kursi itu pula bisa terjadi penghisapan yang maha dahsyat.

Migrasi Politik Anak Muda

Berbondong-bondonglah maju kegelanggang anak-anak muda ini, tantangannya adalah apakah konsisten menjadi anti-virus atau apakah bagian dari replikasi virus yang semakin kuat.

Maka wajar saja banyak pelajar dan mahasiswa yang akhirnya mencari modes-modes baru, mulai dari membangunkan lagi diskursus Negara Islam Indonesia dengan Khilafahnya, berhimpun di organisasi-organisasi kepemudaan dan menekan kebijakan-kebijakan yang lebih pro-rakyat, membangun partainya anak muda, semua ini adalah bentuk ijtihad memanifestokan kembali peran pemuda.

Masalahnya bukan niatnya, tetapi masalahnya adalah semakin banyak modes dan semakin banyak diskursus baru, semakin runcing jurang perpecahan yang kita timbulkan. Lucunya, semuanya saling menuding bahwa pihak yang berlainan adalah biang kerusakan. Yang menuding biang rusak dituding yang lain biang rusak. Akhirnya semuanya rusak.

Taman Sari Indonesia Merdeka

Kemerdekaan adalah sebuah jembatan emas, kata Bung Karno, dan diujung jembatan emas itulah Taman Sarinya Indonesia Merdeka harus kita sempurnakan. Maka jangan ada perasaan zwaarwichtig, kata Bung Karno meyakinkan bahwa Indonesia harus merdeka dan melandaskan diri pada kesepakatan bersama yang saat itu dibahas dan disebutlah dia Pancasila.

Sebagai orang Islam saya haqqul yakin bahwa mengamalkan Pancasila adalah ladang pahala, dan berupaya mengingkarinya dan merusaknya bahkan dengan dalih agama paling suci sekalipun adalah ketercelaan yang luar biasa, mengapa? Coba telaah semua fikih, Islam menjunjung tinggi yang namanya akad (kesepakatan/perjanjian), dalam jual-beli, dalam pernikahan, dan segala hubungan sosial lainnya, akad dalam Islam tinggi martabatnya.

Contoh, mengapa dengan wanita yang sama saat masih berpacaran dihukumi dosa tapi saat sudah berakad dan menikah dihukumi halal? Mengapa sebuah mangga saat diambil diam-diam dihukumi haram tetapi saat dibolehkan oleh sipemiliknya menjadi halal? Semuanya adalah kesepakatan. Pancasila adalah kesepakatan kita, setialah! Amalkanlah!

Pakde Karwo, Pemuda dan Jawa Timur

Sejak menjadi wakil bupati saya menjadi beruntung sering menghadiri acara-acara protokoler kepemerintahan, tidak terkecuali memahami sosok Pak Dhe Karwo. Usia dan kumisnya tidak bisa menutupi jiwa mudanya dan jatidirinya sebagai manusia pergerakan. Sering saya dengar langsung _working-ideology_ itu yang harus dibumikan, bukan lagi sekedar membeo pro-rakyat, bla bla bla.

Tetapi ada penyampaian beliau yang menjadi perhatian terbesar saya, ketika membahas bonus demografi ataukah bencana demografi. Disaat Indonesia diprediksi akan menjadi 5 negara terbesar dunia 2035 ditinjau dari kue ekonominya atau GDP nya, karena dipengaruhi banyaknya penduduk usia produktif yang artinya harusnya nilai produksi dan konsumsinya besar, tetapi di Jawa Timur menurut Pak Dhe Karwo, puncak bonus demografi Jawa Timur terjadi di tahun 2019, apa artinya?

Pemuda Jawa Timur punya waktu yang lebih sempit untuk membuktikan apakah layak disebut pemuda yang mendulang bonus atau bencana. Bisa juga diartikan bahwa pemuda Jawa Timur haruslah menjadi lokomotif dari semua pergerakan keproduktifan anak muda, karena fase awal puncak bonus demografi itu dimulai disini. Wajar saja jika Jawa Timur selalu mendulang pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata nasional, karena bonus demografi dilain negara selalu bisa memacu ekonomi 2-4 persen.

Ini penghargaan bagi pemuda Jawa Timur tapi juga bukan tugas yang mudah untuk jadi pelopor. Saya bahagia Pak Dhe Karwo punya visi membangun Tri Sakti Institute, agar kelak saat beliau menua tapi gagasannya akan selalu bisa dilahap oleh sekian generasi. Jawa Timur menjadi kotak pandora. Bukan saya mulai chauvinis tidak! Tetapi saya berharap semua pemuda memang harus sudah merasa bahwa ini mepet, ini krusial, agar tidak berlenggang kangkung.

Kado 100 Tahun Indonesia Merdeka

Jika pemuda menjadi demam, over-politics, dan baperan hanya untuk berperan elektoral tapi lupa politik ekonomi kreatif, politik tengok bawah, politik pendidikan dan kesehatan, serta politik-politik kebangsaan dan kerakyatan lainnya, maka saya malu menyerahkan kado 100 tahun Indonesia Merdeka.

Sering saya curhat kepada sesama pemuda. Teman-teman, kasihan rakyat Trenggalek hanya punya wakil bupati lulusan SMA bukan sarjana, maka harusnya kalian yang lain diluar sana apalagi yang bisa bersekolah karena beasiswa negara adalah saya katakan lebih layak! Jangan jadi kolonial dengan memainkan intelektualmu untuk mengambil keuntungan sendiri.

Jadilah gentle,jika ada kurang-kurangnya Indonesia saat ini bersyukurlah, siapa tahu kita sedikit-sedikit punya peran memperbaikinya. Maka, Indonesia yang sedikit-sedikit masih punya awan kelam adalah tempat kita untuk menjadi pahlawan-pahlawan selanjutnya.

"Selamat Hari Kebangkitan Nasional, dan tidak ada kebangkitan tanpa simpul-simpul persatuan," kata Bung Besar.

Salam Pemuda,
Merdeka

Mochamad Nur Arifin

Kabar Anda Lainnya