Notaris Lutfi Divonis Tanpa Kehadiran Terdakwa

Kamis, 13 September 2018 16:11:34
Reporter : Nyuciek Asih
Notaris Lutfi Divonis Tanpa Kehadiran Terdakwa

Surabaya (beritajatim.com) - Majelis hakim yang diketuai Pesta Sirait menjatuhkan vonis percobaan satu tahun pada notaris Lutfi Affandi SH MKn. Namun putusan yang cukup ringan untuk kasus penggelapan dalam jabatan ini tidak dihadiri terdakwa atau in absentia.

Alasan majelis hakim memvonis hukuman tanpa kehadiran terdakwa adalah perkara ini sudah berjalan enam bulan dan terdakawa juga tidak kooperatif sampai hakim mengeluarkan surat penetapan penjemputan paksa. Namun terdakwa juga tetap tidak datang.

Sebelum membacakan vonis, hakim terlebih dahulu menyakan keberadaan terdakwa Lutfi ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darmawati Lahang.

" Kita apa sudah menghubungi serta mengirimkan surat panggilan ke rumah terdakwa pak hakim tapi terdakwa tetap tidak datang," ujar JPU Darmawati.

Dengan jawaban seperti itu, hakim kemudian memutuskan untuk menghukum tanpa dihadiri terdakwa ke persidangan.

Perlu diketahui, dalam sidang sebelumnya JPU Darmawati Lahang menuntut pidana penjara selama satu tahun.

Kasus ini berawal terjadinya jual beli sebidang tanah tambak yang berlokasi di desa Gebang, Kabupaten Sidoarjo. Jual beli tersebut terjadi tahun 2011.

Tanah yang dibeli Pudji Lestari itu luasnya 24 hektar. Tanah itu milik empat orang. Sebenarnya, di dalam sertifikatnya, total tanah tambak itu adalah 34 hektar, milik enam orang. Namun, dua orang lainnya tidak menjual tanah tambak sisanya, yakni 10 hektar ke Pudji.

Hj. Pudji Lestari kemudian membuat akte jual beli ke notaris Lutfi Afandi, dikantornya yang waktu itu masih beralamat di Jalan Raya Waru, Sidoarjo. Untuk memecah sertifikat, Hj. Pudji sempat meminjam sertifikat induk ke notaris Lutfi.

Lama ditunggu, lanjut ternyata akte jual beli itu tak kunjung selesai. Di tahun 2013, Hj. Pudji Lestari mengetahui adanya sebuah akte jual atas tanah tersebut. Ironisnya, akte itu dibuat notaris Sugeng Priadi, bukan notaris Lutfi Afandi. Dan itu terjadi tahun 2013.

Hj. Pudji berusaha untuk mengecek kebenaran hal itu namun selalu gagal. Hingga akhirnya, Hj. Pudji Lestari mendapatkan informasi jika pada tahun 2011 itu, notaris Lutfi Afandi belum Petugas Pembuat Akte Tanah (PPAT). Ia hanya seorang notaris biasa.

Masih menurut Robinson, karena semakin curiga, Hj. Pudji Lestari kemudian melakukan penelusuran. Hasilnya, sertifikat tanah seluas 34 hektar itu sudah dialihkan notaris Lutfi entah kemana. [uci/kun]

Tag : penipuan, penggelapan

Berita Terkait

Komentar

Kanal Hukum & Kriminal