Korban 859 Nasabah dengan Kerugian Hampir Rp 1 Triliun

BOS PT Brant Scurities Jakarta Dimeja Hijaukan dalam Kasus Investasi Bodong

Senin, 10 September 2018 20:26:35
Reporter : Nanang Masyhari
BOS PT Brant Scurities Jakarta Dimeja Hijaukan dalam Kasus Investasi Bodong

Kediri (beritajatim.com) - Pengadilan Negeri Kota Kediri, Jawa Timur mulai menyidangkan kasus dugaan penipuan investasi bodong dengan terdakwa Direktur PT Brant Scurities Jakarta Yandi Suratna Gondo Prawiro. Penipuan ini dialami oleh para korban tercatat kurang lebih 859 nasabah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sidang perdana kasus dugaan penipuan investasi bodong PT Brant Scurities dan PT Brant Ventura Jakarta ini digelar di ruang utama PN Kota Kediri. Terdakwa tunggal dihadirkan dimuka persidangan. Hadir sejumlah korban yang menganakan pakaian sama ‘Korban Brant Scurities’.

Kasus penipuan investasi bodong ini terjadi, pada 2014 lalu. Tercatat kurang lebih 859 orang nasabah di seluruh indonesia yang menjadi korban. Mereka menanamkan ivesntasinya di dua perusahaan saham tersebut dalam jangka waktu tertentu. 

Para korban diberi surat pengakuan hutang jangka menengah atau medium term noties  (MTN). Surat ini adalah bukti mereka sudah menjadi nasabah. Besar bunga dan jangka waktu investasi tercantum dalam surat tersebut. Untuk bunganya diatas rata-rata bunga perbankan. 

Nasabah sempat menerima bunga investasi selama tiga kali pencairan, tetapi pada bulan keempat mengalami gagal bayar. Setelah merasa telah ditipu, akhirnya korban melapor ke kantor polisi.

Salah satunya adalah Hartono, pengusaha asal Kota Kediri yang sempat maju dalam bursa pencalonan sebagai wakil walikota Kediri 2013 lalu. Dia mengaku mengalami kerugian hingga Rp 7 miliar dari ivestasi bodong tersebut. Selain dirinya, ada sekitar 35 orang lain di Kota Kediri yang bernasib sama.

“Korbannya ada di seluruh Indonesia. Untuk Kota Kediri dan Tulungagung sekitar Rp 35 orang dengan kerugian sejumlah sama yaitu, Rp 35 miliar,” kata Hartono ditemui di Pengadilan Negeri Kota Kediri, Senin (10/9/2018).

Dijelaskan Hartono, modus operandi pelaku yaitu menawarkan investasi melalui perusahaan Brant Scurities kepada korban. Setelah menghimpun dana dari masyarakat, PT Brant Scuritas kemudian mengalihkan dana tersebut ke PT Brant Ventura yang notabene pemilik perusahaan adalah orang yang sama yaitu terdakwa.

Akhirnya terjadi gagal bayar dan uang investasi para korban raib. Jumlahnya hampir mencapai Rp 1 triliun. Dari jumlah tersebut yang terdaftar kurang lebih Rp 859 miliar. PT Brant Scurities tidak bertanggung jawab terhadap uang para nasabah. Akhirnya korban melaporkan kasus itu kepada pihak yang berwajib.

“Seharusnya ini yang bertanggung jawab atas kegagalan terhadap adalah PT Brant Scurities. KarenaBbrant Scurities yang mencari dana ke masyarakat. Tetapi dialihkan ke PT Brant Ventura, dengan pemilik orang yang sama. Dengan leluasan menstrasnfer dan mengalihkan serta meminjamkan tanpa prosedur yang jelas,” beber Hartono.
 
Sementara itu, sidang perdana yang dihadiri oleh para korban ini akhirnya ditunda. Penyebabnya, dua orang hakim anggota berhalangan hadir. Sidang akan dilanjutkan, pada Kamis mendatang dengan agenda pembacaan dakwaan. Para korban mendesak aparat kepolisian menyelidiki indikasi terjadinya tindak pidana pencucian uang dalam kasus ini.

Ikhsan, selaku kuasa hukum terdakwa belum dapat dikonfirmasi terkait sidang perdana dan persoalan hukum yang membelit kliennya. Dihubungi melalui sambungan telepon genggamnya, yang bersangkutan tidak menjawab. Pun demikian saat dimintai konfirmasi melalui pesan whatsapp juga belum dibalas. [nng/but]

Tag : penipuan

Berita Terkait

Komentar

Kanal Hukum & Kriminal