Penyerahan Tersangka Pemalsuan Surat ke Kejari Surabaya Batal

Rabu, 17 Januari 2018 19:56:44
Reporter : Nyuciek Asih
 Penyerahan Tersangka Pemalsuan Surat ke Kejari Surabaya Batal

Surabaya (beritajatim.com) - Penyidik Polrestabes Surabaya gagal melimpahkan tersangka pemalsuan surat yakni Eka Ingwahjuniarti Listyadarma ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya.

Kasi pidum Kejari Surabaya Didik Adyatomo menyatakan pihaknya mendapat laporan dari Jaksa yang menangani perkara ini yakni Ali Prakoso dan Karmawan bahwa akan ada tahap dua pada hari ini namun batal alasannya penyidik sakit. 

"Diupayakan Rabu depan," ujar Didik, Rabu (17/1/2018).

Sementara Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya Sudamiran belum bisa dikonfirmasi terkait penundaan tahap dua ini.

Perlu diketahui, tersangka Eka adalah rangkaian perkara yang menjerat tersangka Prof. Dr Lanny Kusumawati Dra SH Mhum, Guru Besar Ilmu Hukum, Universitas Surabaya (Ubaya). Lanny ditetapkan sebagai tersangka setelah membuat cover note yang diduga palsu. 

Nah cover note inilah yang akhirnya digunakan oleh tersangka Eka untuk mendirikan PT Raja Subur Abadi dimana Eka sebagai salah satu pemegang saham berdasarkan Akta Nomor: AHU-24715.AH.01.01 tahun 2012.

Wang Suwandi, juru bicara keluarga Suwarlina Linaksita dan Bambang Soephomo selaku pelapor menyayangkan penundaan tahap dua ini. Wang juga menangkap adanya gelagat yang tidak baik dilakukan penyidik Polreatabes Surabaya karena terus menunda tahap dua ini.

" Informasi yang kita terima, tahap dua akan dilakukan pada Kamis tanggal 11 Januari 2018 kemudian batal dan ditunda Senin tanggal 15 Januari 2018 dan ditunda lagi hari ini. Hari inipun batal, ini ada apa? Kok kesannya mempermainkan jaksa dan juga kita selaku pencari keadilan dalam kasus ini," ujar Wang saat di Kejari Surabaya.

Menurut Wang, gelagat tidak baik sudah dia rasakan sejak kasua ini dilaporkan yang mana dalam kasus ini tak hanya Eka yang dilaporkan namun para petinggi perusahaan PT Raja Subur Abadi.

“ Untuk susunan modal, PT. Subur Abadi Raja mempunyai modal dasar Rp 5 juta terbagi atas 500 saham dengan modal ditempatkan/disetor Rp. 2.000.000 terdiri dari 12 saham prioritas dan 488 saham biasa. Adapun susunan pemegang sahamnya, Eka Ingwahjuniarti Listyadarma sebanyak 1 saham prioriteit dan 99 saham biasa, Ongkodirdjo sebanyak 5 saham prioriteit dan 95 saham biasa, tuan Ongkoprawiro sebanyak 3 saham prioriteit dan 97 saham biasa dan tuan Ongkoprajitno sebanyak 3 saham prioriteit dan 97 saham biasa,” papar Wang.

Jadi menurut Wang, mestinya para petinggi PT Subur Abadi Jaya ini juga diproses secara hukum. " Mereka juga turut terlapor tapi sampai saat ini hanya Eka yang jadi tersangka," ujar Wang.

Dalam kasus ini, tersangka Eka menggunakan cover notes yang dibuat Prof Dr Lanny Kusumawati Dra SH Mhum. Belakangan diketahui Prof Lany membuat keterangan palsu pada akte otentik berupa cover notes yang digunakan Eka untuk mengeksekusi rumah dan tanah yang berlokasi di Jalan Kembang Jepun 29 Surabaya, yang ditempati pelapor sejak tahun 1931 tersebut.

Dasar yang digunakan Eka mengeksekusi rumah dan lahan milik pelapor adalah akta PT Raja Subur Abadi.

"Padahal PT Subur Abadi Raja atau Subur Abadi Raya dibuat berdasarkan Akta Nomor 59 tanggal 18 Juni 1950 sedangkan PT Raja Subur Abadi didirikan berdasarkan akta Nomor 2 tanggal 2 Februari tahun 2012,” ungkap Wang.

Selain itu, lanjut Wang, dalam pembuatan akte pendiriannya, PT. Subur Abadi Raja atau Subur Abadi Raya yang dulu dikenal dengan N.V. Eng Tjhiang v/h Van Asperen & Van Rooy, dibuat dinotaris Sie Kwan Djioe yang berkedudukan di Jakarta.

“Untuk Akta Nomor 2 tanggal 2 Februari 2012 milik PT. Raja Subur Abadi, dibuat dihadapan Prof. Dr Lanny Kusumawati Dra SH Mhum, yang berkedudukan di Surabaya,” jelas Wang Suwandi.

Dalam hal pengesahannya, Wang mengatakan bahwa PT. Subur Abadi Raja atau Subur Abadi Raya dengan PT. Raja Subur Abadi, sangatlah berbeda dan tidak ada keterkaitan apapun satu sama lain.

“ PT. Subur Abadi Raja mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan Nomor : J.A5/24/16 tanggal 15 Agustus 1950. Selanjutnya, PT. Subur Abadi Raja ini telah beberapa kali melakukan perubahan anggaran dasar dan terakhir diubah dengan Akta Nomor: 7 tanggal 3 Februari 1970, yang dibuat dihadapan notaris Oe Siang Dji, SH yang berkedudukan di Surabaya,” kata Wang Suwandi.

"Dan masih jelas perbedaan lain antara kedua PT tersebut, yang satu sama lain sama sekali tidak berkaitan," ujar Wang. [uci/ted]

Tag : pemalsuan surat

Berita Terkait

Komentar

Kanal Hukum & Kriminal