Bersama Sang Kakek, Dedi Febrianto Terima Pesanan Pembuatan Gamelan

Kamis, 06 Desember 2018 07:28:18
Reporter : Misti P.
Bersama Sang Kakek, Dedi Febrianto Terima Pesanan Pembuatan Gamelan

Mojokerto (beritajatim.com) - Dedi Febrianto (35) warga Dusun Sawo, Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini merupakan pengrajin gamelan. Bersama sang kakek, Samiaji (69) membuat gamelan (alat musik Jawa, red) di belakang rumah yang dijadikan bengkel reparasi hingga pembuatan alat musik tradisiomal tersebut.

Karena tak hanya menerima jasa reparasi, mereka juga menerima jasa pembuatan gamelan. Samiaji dan Dedi melayani pembuatan satu set gamelan maupun satuan. Mulai dari kempul, kenong, bonang, demung, saron, peking, slentem, gender, gambang hingga rebab.

Samiaji mengaku, keterampilan dalam membuat gamelan tersebut ia peroleh dari ayahnya saat duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR atau setingkat Sekolah Dasar, red). Namun setelah ayahnya meninggal, ia mewarisi usaha pembuatan gamelan tersebut dan ilmunya ia tularkan ke cucunya, Dedi Febrianto.

Samiaji mengungkapkan, gamelan buatannya memiliki perbedaan dengan gamelan dari Solo. Perbedaan itu terletak pada bahan campuran gamelan. "Gamelan dari Solo campuran bahannya dari tembaga dan timah. Sedang gamelan buatan saya berbahan pelat besi," ungkapnya, Kamis (6/12/2018).

Ketebalan pelat yang dia gunakan juga beragam. Untuk membuat gong diameter 1 meter, bapak dua anak ini menggunakan pelat besi setebal 2 mm. Sementara untuk perangkat gamelan lainnya cukup dengan pelat setebal 1,5 mm. Dia juga menjelaskan perangkat gamelan jenis gong, kempul, kenong dan bonang, terdapat tiga bagian yang dibuat terpisah.

"Bagian dasar, lempengan tengah dan pencu atau bagian ujung yang ditabuh. Ketiga bagian itu kemudian disatukan dengan cara dilas. Selanjutnya tinggal dilaras (disetel suaranya, red) dan dicat dengan warna emas. Untuk membuat satu set gamelan membutuhkan waktu 2 hingga 3 bulan. Itu sudah termasuk proses pembuatan wadah gamelan berbahan kayu," katanya.

Wadah-wadah tersebut dilengkapi dengan ukiran khas Solo bermotif bunga dan naga. Menurutnya, setiap proses pembuatan gamelan lama karena dimulai dari memotong pelat besi hingga membentuk dan menghaluskan membutuh ketelitian. Ditamnah untuk menyetel nada gamelan, hal tersebut butuh keahlian khusus.

"Untuk harga, gong Rp2 juta, kempul Rp600 ribu, kenong Rp400 ribu, bonang Rp200 ribu, demung Rp700 ribu, saron Rp1 juta dan peking Rp700 ribu. Sedangkan gamelan slentem, gender dan gambang masing-masing Rp1,5 juta. Kalau satu set lengkap harganya Rp30 juta, itu yang berbahan besi. Kalau reparasi, itu untuk menyelaraskan nada," tuturnya

Sementara itu, Dedi Febrianto (35) mengatakan, pesanan selama ini datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, mulai dari Sumenep, Probolinggo, Lamongan, Bojonegoro, Surabaya, Gresik, Malang, hingga Kediri. "Rata-rata jumlah pesanan mencapai 10 perangkat gamelan setiap bulannya," ujarnya.

Perangkat gamelan yang banyak diminati yakni jenis bonang, kenong dan kempul. Untuk pembelinya didominasi oleh pemilik hiburan kuda lumping, reog, wayang kulit. Ada juga pesana dari sekolah dan instansi. Omzet bisnis gamelan ini mencapai Rp10 juta/bulan. Keuntungan yang didapatkan Samiaji pun mencapai Rp5 juta setiap bulannya.

"Tapi ada juga pesanan gamelan datang dari luar Jawa, seperti NTB dan Kalimantan. Bahkan ada pesanan dari Malaysia dan Jerman. Pesanan dari Malaysia dua set gamelam, pernah juga pesanan gong diameter 2 meter dari Jerman. Harganya lebih mahal karena biaya pengiriman juga mahal," jelasnya. [tin/suf]

Tag : musik

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup