Bagian 2

Perkembangan Oklik, Kolaborasi Antara Nyanyian dan Tari

Kamis, 08 Nopember 2018 18:21:55
Reporter : Tulus Adarrma
Perkembangan Oklik, Kolaborasi Antara Nyanyian dan Tari

Bojonegoro (beritajatim.com) - Di rumah Djagat Pramudjito, di Kelurahan Ledok Kulon, Kabupaten Bojonegoro, berserakan bambu yang sudah dimodifikasi menjadi alat musik. Bambu tersebut merupakan hasil eksperimen yang dilakukannya saat mencari nada yang pas dan selaras untuk menciptakan alat musik oklik.

Seniman yang baru saja mendapat penghargaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur atas dedikasinya itu merupakan salah satu yang mencoba mengkombinasikan musik oklik dengan nyanyian dan tarian. Agar, musik oklik bisa dinikmati semua orang sebagai bentuk hiburan tradisional.

"Sesuai perkembangannya, oklik sudah menjadi bentuk kesenian musik tradisional yang digunakan sebagai bentuk hiburan masyarakat," ujarnya, Kamis (8/11/2018).

Meski demikian, yang menjadi konsentrasinya adalah apa yang menjadi pakem dari kesenian oklik ini tidak ditinggalkan. Kesenian Oklik Bojonegoro memiliki ciri khas, tidak ada alat musik lain selain bambu. Sehingga, dia hanya memodifikasi bambu menjadi beberapa karakter suara.

"Mempertahankan keaslian oklik agar setara dengan musik yang lain. Menjadi oklik yang punya struktur dan kaidah yang bisa dipelajari," tegasnya.

Sementara perkembangan musik oklik saat ini, kata dia, banyak meninggalkan keaslian oklik dengan menambah alas musik lain, seperti tong maupun gamelan. Sehingga, karakter bunyi dari oklik yang khas Bojonegoro sendiri justru malah hilang.

"Banyak yang meninggalkan oklik aslinya ini memang karena membosankan. Sangat terbatas bentuk alat dan bunyi sehingga untuk dieksplorasi sulit. Ketika sudah tidak menarik, maka ditinggal pendukungnya, bukan dikembangkan secara bentuk aslinya," ungkapnya.

Dalam upaya pelestarian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro dengan cara melakukan festival oklik setiap tahun. Festival itu digelar setiap Bulan Ramadhan. Namun, masih banyak peserta yang tidak sesuai dengan oklik khas Bojonegoro.

Sebagian peserta, banyak yang menambah alat musik lain seperti jedor, bedug, gamelan, rebana maupun tong. Secara aransemen memang lebih enak dan rancak jika didengarkan. Namun, jika keaslian oklik sendiri tidak dijaga, maka lambat laun akan hilang.

Agar keaslian kesenian oklik ini tetap terjaga, pria kelahiran 22 Desember 1958 itu juga sempat melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Selain itu, dia juga membuktikan dengan membuat aransemen oklik asli yang dikombinasikan lagu dengan tari.

Salah satu komposisi musik oklik yang diciptakannya berjudul Soerak (Soeara Rakyat). Sebuah komposisi yang melambangkan bahwa oklik ini merupakan komunitas masyarakat. Oklik juga memiliki bunyi, bahwa masyarakat juga memiliki suara untuk disuarakan dalam sebuah demokrasi.

"Dalam demokrasi semuanya memiliki kedudukan masing-masing. Ada yang memimpin dan yang dipimpin. Dari perpaduan itu kemudian muncul dialog (kebijakan) untuk sebuah tatanan yang dikehendaki," terangnya.

Prinsip demokrasi, kata dia, ada tatanan sebuah negara dengan harapan bisa menciptakan sesuatu yang baik, indah, tertata dan bermakna. Hal itu selaras dengan keterbatasan oklik yang bisa memunculkan kekayaan bunyi yang indah. "Keterbatasan bukan hal yang sepele, namun bisa menghasilkan sesuatu yang indah jika bisa ditata," jelasnya.

Dalam pertunjukan komposisi oklik itu, ritme ketukan di pimpin oleh pemusik yang memegang marakas. Marakas bambu ini menjadi tongkat komando sebagai pemimpin. Komposisi musik ini dimainkan oleh enam orang pemain. Komposisi ini pernah dimainkan dalam Festival Musik Bambu, dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, di Pandaan, Pasuruan 2018 lalu. [lus/ted]

Tag : oklik, bojonegoro

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup