Pasar Seni Lukis Indonesia: Agar Kesenian Tidak Punah Digerus Politik

Rabu, 10 Oktober 2018 11:34:42
Reporter : Ribut Wijoto
Pasar Seni Lukis Indonesia: Agar Kesenian Tidak Punah Digerus Politik
Lukisan Tedjo Konte, salah satu peserta PSLI.

Surabaya (beritajatim.com) – Ajang Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) atau dalam bahasa Inggris  dinamai Indonesia Art Mart bakal digelar tanggal 12 – 21 Oktober 2018, di JX International Surabaya. Ketua penyelenggara, M Anis, menyatakan bahwa PSLI adalah bagian dari upaya untuk mempertahankan agar kesenian tidak punah digerus oleh politik.

Benarkah kesenian terancam punah? M Anis membeberkan bahwa perhatian publik bangsa Indonesia saat ini lebih tersita oleh hingar bingar politik. Tiap hari tiap waktu tiap detik, masyarakat dijejali oleh peristiwa dan opini politik. Masyarakat seperti tidak diberi ruang untuk memikirkan hal lain di luar politik.

Situasi tidak kondusif tersebut tidak lain tidak bukan oleh sebab elit-elit negeri yang selalu membuat manuver untuk memperebutkan kekuasaan. Manuver sekaligus intrik-intrik politik. Dan, masyarakat terbawa arus karenanya.

“Di tengah hingar bingar politik seperti sekarang ini, kesenian semakin tersisih dan terpinggirkan. Sebagian masyarakat bahkan sudah lupa, kita punya kesenian yang beragam,” kata M Anis, Rabu (10/10/2018).

Mantan wartawan senior harian sore Surabaya Post ini menambahkan, masyarakat perlu diingatkan kembali bahwa kesenian adalah hal yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan batin. “Apabila kesenian terus semakin terdesak, alangkah ruginya kita sebagai bangsa, yang katanya, menjunjung tinggi tinggi budaya,” katanya.

Tanda-tanda kesenian bakal tergerus oleh politik itu sudah dirasakan M Anis sejak belasan tahun lalu. Makanya, dia melalui  Sanggar Merah Putih menggelar ajang Pasar Seni Lukis Indonesia. Tahun ini merupakan ajang yang kesebelas.

Dipaparkannya, PSLI memberikan wadah bagi ratusan pelukis untuk memaerkan hasil olah gagasan dan kreasi. Bukan sekadar dipamerkan, PSLI mempertemukan pelukis dan para kolektor dan tokoh-tokoh yang peduli kesenian. Dari tahun ke tahun, jumlah pelukis semakin banyak. Mencakup para pelukis di hampir seluruh penjuru Nusantara, bahkan pelukis dari luar negeri.

Ruang gerak PSLI juga semakin lebar. Dari ranah seni rupa, PSLI memberi ruang pula bagi pertunjukan teater, sastra, musik, dan sarasehan budaya.

Tahun ini misalnya, PSLI menyelanggarakan talk show dan pembacaan puisi. Tidak tanggung-tanggung, penyair yang diundang adalah Abdul Hadi WM, Akhudiat, dan Afrizal Malna. Ketiganya bakal memaparkan situasi terkini sastra Indonesia sekaligus mendialogkannya dengan publik sastra di Surabaya.

“Alhamdulillah, kami bisa menjaga dan menyelenggarakan PSLI ini secara rutin tiap tahun. Ini tentu berkat suport dan dorongan semua pihak. Para seniman dan masyarakat pecinta seni. Tidak lupa Pemerintah, dalam hal ini, Pemprov Jatim dan juga Pemerintah Pusat, dalam hal ini, Kementrian Pariwisata RI,” paparnya. [but]

Tag : seni rupa

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup