Membatik untuk Sesrahan Pengantin Hingga Jadi Industri

Selasa, 02 Oktober 2018 18:06:21
Reporter : Tulus Adarrma
Membatik untuk Sesrahan Pengantin Hingga Jadi Industri

Bojonegoro (beritajatim.com) - Lembaran kain batik gedog berumur ratusan tahun masih tersimpan rapi. Kain batik tenun itu tidak dijual.

Kain itu merupakan warisan dari sesepuhnya dulu. Motif-motif batik yang disimpan itu menceritakan kondisi kerjaan saat itu, gejala alam, kejadian politik dan lingkungan sekitar.

Oleh Uswatun Hasanah dan Suaminya, warga Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, kain batik kuno itu disimpan dalam kotak dan disimpan rapi. Kain batik tersebut tidak dijual. "Merupakan warisan yang perlu dijaga agar tidak lupa dengan sejarah," ujar Uswatun dalam kesempatannya.

Uswatun generasi keempat dari keluarganya yang juga pembatik. Selain membatik, dia juga menenun, memental dan mewarna. Dari keluarganya dulu, kegiatan membatik itu hanya digunakan untuk acara ritual sesrahan temanten. "Ada 100 lembar batik gedog peninggalan keluarga dulu yang masih tersimpan," ungkapnya.

Dari beberapa motif batik yang kemudian menjadi khas batik Kerek diantaranya, Panji Serong, Panji Ori, Panji Konang dan Panji Doho. Selain di Kerek, batik juga berkembang di Kecamatan Semanding dan memiliki ciri khas sendiri, salah satunya, motif Tekok Dengkul, Pendapa Rante, Wawat, Ukel, dan Semar Ndodok. Juga di Kecamatan Palang, dengan khasnya sendiri, yakni motif Dudo Bengos, Udan Liris, Gringsing dan Enam Kathil.

"Motif-motif batik itu pengaruh dari kerajaan Majapahit, Singosari, pengaruh masuknya islam maupun dari Cina," ungkap wanita kelahiran Tuban, 15 Oktober 1970 itu.

Sementara perajin batik di Kabupaten Bojonegoro sendiri, saat ini juga terus berkembang. Hanya saja, motif batik disesuaikan dengan kondisi wilayah Bojonegoro  saat ini. Sejarah batik di Bojonegoro sendiri juga masih tergolong baru. Baru pada 2009 lalu Pemkab Bojonegoro mengeluarkan 14 motif batik paten khas Bojonegoro.

Motif batik khas Bojonegoro yang menjadi paten itu hasil dari gelaran event festival desain motif batik khas Bojonegoro. Diantaranya, motif Mliwis Mukti, Jagung Miji Emas, Parang Lembu Sekar Rinambat, Rancak Thengul, Gatra Rinonce, Sekar Jati, Sata Ganda Wangi, Parang Dahana Mungal dan Pari Sumilak.

Kemudian pada tahun 2013, motif paten batik ditambah lima motif, yakni Blimbing Lining Lima, Pelem-pelem Sumilar, Sekar Rosella Jonegoroan, Woh Roning Pisang dan Surya Salak Kartika. "Mulai tahun 2013 saya beranikan membatik," ujar salah seorang pembatik asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Luk Gianto, Selasa (2/10/2018).

Dia mengaku tidak ada trah keluarga yang dulunya sebagai pembatik. Namun, dari kesukaannya pada seni rupa kemudian dia mengembangkan kemampuannya untuk membatik. Motif yang digunakan sebagian dari hasil penciptaannya sendiri maupun pengembangan dari motif paten yang sudah ada.

Motif pengembangan itu, diantaranya Jati Sumigar. Pria berusia 25 tahun itu terinspirasi dari kondisi wilayah sekitarnya yang masih banyak warga mencari kayu jati sebagai kayu bakar tungku memasak. "Jadi ceritanya tentang pencari kayu yang dibelah untuk kayu bakar. Biasanya dibelah tengahnya," terangnya.

Dia mengembangkan batik cap dan batik tulis. Menggunakan pewarna kimia dan alami. Setiap produksi, batik yang diberi label Poetra Dolokgede itu untuk batik cap satu hari bisa dua sampai tiga lembar. Sedangkan untuk batik tulis satu lembarnya bisa satu minggu lebih.

"Sejauh ini kita jual dalam bentuk lembaran yang bisa digunakan untuk baju, tas, taplak meja maupun yang lain," pungkasnya. [lus/ted]

Tag : batik

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup