Singgah di 298 Kabupaten/Kota

Kisah Ismail, Gowes Sepeda Selama 28 Tahun untuk Keliling Indonesia

Selasa, 11 September 2018 14:27:43
Reporter : Misti P.
Kisah Ismail, Gowes Sepeda Selama 28 Tahun untuk Keliling Indonesia

Mojokerto (beritajatim.com) - Ismail (48) warga Desa Cangko RT 7 RK II Blok Desa/Kecamatan Banggodua, Indramayu, Jawa Barat keliling Indonesia sejak 28 tahun lalu. Dengan sepeda angin, ia sudah singgah di 298 kabupaten/kota di Indonesia.

"Saya mulai keliling Indonesia menggunakan sepeda sejak umur 20, tepatnya tanggal 20 Juli 1989 mulai dari Bali ke wilayah timur. Ini merupakan cita-cita saya sejal kelas IV ingin menaklukan nusantara dengan sepeda," ungkapnya saat mengunjungi media center wartawan Mojokerto, Selasa (11/9/2018).

Setiap ke daerah yang ia singgahi, ia selalu minta bukti fisik ke Pemda maupun tokoh di daerah tersebut. Tercatat, dari 298 Kabupaten/Kota termasuk Mojokerto, sudah ada 3,9 juta tanda tangan dan 154 buku untuk mengumpulkan tanda tangan. Buku yang sudah penuh ia dikirim ke Indramayu.

"Kalau sepeda, ini sudah sepeda yang ke 33. Empat diantaranya pernah saya jual karena medannya yang tidak memungkinkan, sehingga saat sampai daerah tujuan baru saya belikan sepeda lagi. Kalau merk, beda-beda. Yang paling enak, pemberian dari Gubenur Timor-timur sebelum jadi Timur Leste," katanya.

Saat itu, ia sudah mengayun sepeda yang ke 15. Ia dibelikan sepeda oleh Gubenur Timor-timur di tahun 1989. Namun sepeda tersebut terpaksa ia jual karena ia risih dengan pandangan masyarakat yang dilaluinya. Karena sepeda pemberian tersebut cukup bagus dan mahal.

"Saya risih dilihat orang, jadi saya jual dan memang mahal. Waktu itu saya jual laku Rp100 juta lebih. Memang akses jalan juga tidak sebagus di Jawa yang membuat kondisi sepeda awet. Dengan naik sepeda, saya jadi tahu profil setiap daerah," ujarnya.

Ada beberapa pulau sulit dijangkau, kapal tidak mau berlayar karena adanya ombak besar sehingga naik pesawat. Sehingga saat di tujuan, beli sepeda lagi. Praktis, selama 28 tahun, sudah ada empat sepeda yang dijual. Ismail menjelaskan, banyak cerita dan kesan di setiap Kabupaten/Kota yang disinggahi.

"Saya pernah ditawan di Papua selama dua hari karena menabrak seekor babi dan menyebabkan kaki babi itu terluka. Saya juga pernah kesasar dan pulang cukup lama, seperti pada 2002 terjadi konflik di Sampit. Saat itu saya pulang setengah tahun menunggu suasana kondusif," tuturnya.

Sepeda ia tinggal dan pulang. Setelah dinyatakan kondusif, ia kembali melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Barat (Kalbar) dan Sumatra. Namun kota yang paling lama disinggahi yakni Jogja karena ingin menemui Sri Sultan Hamengkubuwono X.

"Antrenya cukup lama, sampai dua bulan baru bisa bertemu. Itupun tidak bisa minta foto. Tapi dari 298 kabupaten/kota, yang paling berkesan yakni Aceh karena saya kenal calon istri saya disana. Kalau berapa pengeluaran selama ini, hampir Rp300 juta. Uang untuk pengeluaran saya. Saya dapat dari Youtube dan sponsor," jelasnya.

Menurutnya, pengeluaran naik sepeda lebih banyak karena lebih mudah capek dan haus sehingga banyak pengeluaran. Ismail menargetkan Maret 2019, perjalanan keliling Indonesia selesai dan akan diakhiri di Bali sesuai awal perjalanannya.

"Saya akan menikah. Karena saya menilai sudah telat. Karena keinginan saya naik sepeda keliling Indonesia, sehingga keinginan untuk menikah itu tidak ada. Kalau sudah selesai, saya target Maret tahun depan selesai, saya akan menata kembali hidup saya," pungkasnya. [tin/suf]

Tag : petualangan

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup