Hari Ghulur, Penari Surabaya yang Lebih Dikenal Dunia

Jum'at, 03 Agustus 2018 21:53:23
Reporter : Dyah Ayu Setyorini
Hari Ghulur, Penari Surabaya yang Lebih Dikenal Dunia

Surabaya (beritajatim.com) - Seni Tari Indonesia memang telah dikenal luas, terutama tari tradisional. Namun kali ini ada seorang pendobrak baru yang berani tampil di kancah internasional dengan tarian eksperimental atau kontemporer.

Moh Hariyanto, laki-laki kelahiran 16 September 1986 ini telah menorehkan prestasi gemilang dalam bidang tari atau dance di kancah internasional. Ia telah melanglang buana dalam festival tari internasional. Seperti di China, Malaysia, Singapura, Belgia, dan terakhir Amerika.

Baru seminggu yang lalu laki-laki yang lebih dikenal dengan Hari Ghulur itu pulang dari ajang  bergengsi di Amerika, yakni International Choreographers Residency (ICR). Even yang termasuk dalam salah satu proyek America Dance Festival (ADF) yang diadakan tahunan sebagai wadah para penari kelas dunia untuk berkumpul dan menampilkan karya terbaik mereka.

Dia menjadi satu-satunya penari Indonesia yang mewakili residensi koreografer internasional untuk dunia. Ada 10 koreografer yang tergabung dalam ICR yakni, Latvia, Spanyol, Thailand, Indonesia, Itali, Rusia, Vietnam, Jerman, Taiwan dan Kamboja.

Dalam usia muda, Hari mampu membuat seni tari kontemporer Indonesia dikenal dunia. Hari pun menuturkan bahwa dirinya sempat mendapat perlakuan yang sebelah mata oleh peserta lainnya sebelum dirinya menampilkan tariannya yang ia beri judul 'Sila'.

"Saya sempat tidak diperhatikan dan dipandang sebelah mata, karena selama latihan saya tidak memperlihatkan gerakan tari yang mereka kenal. Tapi ketika hari H dan saya tampilkan Sila mereka seperti buaya yang menganga dan tidak bisa menutup mulutnya sendiri," ungkap Dosen Teater di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya ini, Jumat (3/8).

Kepada beritajatim.com, Hari mengatakan bahwa sebenarnya dirinya tidak pernah memikirkan bahwa tarian yang ia bawakan merupakan konsep tarian kontemporer. Ia mengaku hanya menarikan apa yang ada dipikirannya.

"Sebenarnya saya tidak pernah bilang bahwa tarian saya merupakan dance kontemporer. Semuanya berawal dari kegelisahan dan saya keluarkan lewat tarian yang tidak memperdulikan metode. Mungkin karena itulah terlihat seperti dance kontemporer," ungkapnya.

Sila sendiri merupakan solo dance yang berlandaskan teori limitasi, yang mana ia menampilkan tarian dengan konsep duduk bersila yang membatasi gerak kaki atau menghilangkan fungsi kaki. Dalam Sila, Hari hanya mengeksplorasi bagian tubuh dari lutut hingga ujung rambut dengan nuansa musik yang gelap dan mencekam.

Sila juga merupakan tarian yang sangat dekat dengan konsep ke-timuran yang ingin Hari tonjolkan di setiap karyanya. Hari menambahkan bahwa upayanya mencapai ADF merupakan jalan yang panjang, dan tidak semua seniman bisa menembus festival tersebut. Ia pun harus menunggu 1 tahun untuk bisa bergabung dengan ADF.

"Saya sudah mengajukan karya sejak tahun lalu, tapi baru dipanggil tahun ini. Tentunya ini karena mereka melihat track record saya sepertinya saya dipanggil karena saya sudah menebus Europalia Art Festival Indonesia di Brussell," ungkap pria yang awalnya juga seorang atlet lari ini.

Menyoroti fenomena masyarakat yang lebih suka tarian negara asing. Hari mengatakan langkah besar yang ia lakukan merupakan salah satu harapannya untuk masyarakat Indonesia, khususnya seniman muda agar mau lebih mencintai budaya Indonesia. Karena menurutnya, budaya leluhur Indonesia pun tetap bisa keren dan sanggup membuat dunia terpukau.

"Sangat normal jika kita terpukau dengan sesuatu yang baru yang datang dari luar. Sama halnya dunia terpukau dengan apa yang saya lakukan. Karena menurut mereka apa yang saya bawa adalah kebaruan dan tentunya menyisakan gejolak yang membara untuk mempelajari apa yang saya bawa," pungkasnya. [adg/but]

Tag : seni

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup