Dusun di Banyuwangi Ini Kuat Kaitannya dengan Singapura

Rabu, 25 Juli 2018 15:08:36
Reporter : Rindi Suwito
Dusun di Banyuwangi Ini Kuat Kaitannya dengan Singapura

Banyuwangi (beritajatim.com) - Dusun Rejopuro, Desa Kampungnyar, Kecamatan Glagah berada jauh dari pusat kota Banyuwangi. Lokasinya, berada tepat di kawasan lereng Gunung Ijen.

Masyarakat di tempat ini mayoritas bersuku Using, Banyuwangi. Mereka rata-rata hidup dengan keseharian bercocok tanam, peternak dan berkebun.

Lalu, apa kaitannya dengan Singapura? Di sini timbul berbagai pertanyaan. Apakah, karena nama Dusun ini atau karena silsilah lain.

Tokoh adat Dusun Rejopuro, Sunari menjawabnya. Menurutnya, asal dusun ini berawal dari dua keluarga. Hidup menyendiri jauh dari sanak keluarga.

Mereka menggantungkan hidup dengan bertani dan memanfaatkan sebuah sumber yang bernama Sumber Hajar di dekat mereka tinggal. Sehingga pada suatu hari, lama kelamaan dari sumber itu munculah banyak orang yang tahu.

Hingga membuat daerah itu ramai dan dikunjungi. Konon, mereka yang datang rata-rata memuja dan meminta pada leluhur penghuni daerah itu.

"Jadi, Rejo itu artinya ramai dan Puro berarti sepuro atau pengampunan. Sehingga bisa dikatakan banyak yang meminta sepuro di sini. Ada juga yang minta kekayaan dan nomor togel. Tapi alhamdulillah sekarang tidak ada sama sekali,"

"Dan Rejopuro, kemungkinan menurut leluhur dulu orang di sini merupakan peranakan dari Singapura. Yang juga bisa diartikan 'Sing Dingapuro' atau orang yang diampuni," ungkap Sunari, Rabu (25/7/2018).

Berjalannya waktu, banyak warga yang datang dan tinggal. Tidak hanya sanak keturunan tapi juga warga dari daerah lain.

"Di sini, punya watak yang demikian ya diikuti saja, kalau ingin jadi keluarga yang diikuti saja," ungkapnya.

Termasuk, warisan leluhur yang kerap dan sakral diikuti itu adalah tradisi ithuk-ithuk. "Karena leluhur dulu tidak ingin ada warga dan keluarganya yang kelaparan sehingga setiap 11-12 Dzulkoidah selalu diadakan tradisi itu," ungkapnya.

Mereka, kata Sunari, juga menginginkan agar seluruh warga yang tinggal di tempat ini bahagia. Sehingga muncullah dalam rangkaian kegiatan ithuk-ithuk itu disebut 'pager sari'. Artinya, warganya 'pateng seger, susahe mari'.

"Kami keturunan tidak berani meninggalkan tradisi dan warisan leluhur. Justru kami ingin terus melestarikannya. Alhamdulillah, kalau dulu di sini dibilang wingit, sekarang nggak," ujarnya.

Benar saja, setelah munculnya beberapa festival di Banyuwangi tradisi ini justru tak pernah ditinggalkan. Tradisi ini tetap memegang teguh pendirian, melaksanakan budayanya sesuai petunjuk leluhur mereka.

"Pernah dulu mereka meminta dimasukkan dalam Banyuwangi Festival. Tapi, kegiatan yang digelar pemerintah ini kan selalu akhir pekan. Untuk di tempat ini, atau yang berhubungan dengan budaya kita kesampingkan mengikuti aturan budaya mereka. Jadi, ada kalanya pemerintah hadir dan mengikuti kegiatan warga. Bukan, mereka yang terus ikut kita," ungkap Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. [rin/but]

Tag : seni tradisional

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup