Mengenal Tradisi Ithuk-Ithuk di Banyuwangi

Rabu, 25 Juli 2018 13:44:32
Reporter : Rindi Suwito
Mengenal Tradisi Ithuk-Ithuk di Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) - Tradisi Ithuk-Ithuk serasa asing di telinga. Tapi, bagi masyarakat Using di Dusun Rejopuro atau biasa yang dikenal Japuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah hal ini menjadi ritual yang karib dilaksanakan.

Bahkan, kegiatan ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat setempat. Orang di tempat ini pun telah memiliki jadwal resmi untuk mengadakan tradisi ini.

"Tradisi adat ituk-itukan yang selalu digelar disetiap 12 Dzulkaidah," kata Sunari, tokoh adat setempat, Rabu (25/7/2018).

Ritualnya, kata Sunari, merupakan tradisi turun temurun melestarikan budaya leluhur. "Maksut digelarnya tradisi ini adalah melanjutkan seruan leluhur Rejopuro yang bernama Buyut Wuku kepada masyarakat untuk saling memberi makanan yang umumnya berwadah ithuk supaya di Rejopuro tidak ada orang yang kelaparan," katanya.

Bentuk tradisi ini, warga menyiapkan puluhan sampai ratusan 'peteteng' atau 'ingkung' ayam. Lalu, ayam itu disajikan ke dalam 'ithuk' atau wadah dari daun pisang yang diletakkan  dalam nampan.

Kemudian, oleh warga disunggi (ditaruh di atas kepala) dan mengaraknya dari pusat pemukiman Rejopuro menuju sumber air yang bernama Sumber Hajar.

"Sebelum dimakan, peteteng bersama-sama diberi doa di sumber air tersebut. Dari sinilah muncul yang namanya pager sari yang artinya 'pateng seger susahe mari'. Dulu dari awalnya susah makan, karena baiknya jalinan tali silaturahmi sehingga semua warga bahagia," ujarnya.

Sumber Hajar sangat penting bagi masyarakat Rejopuro karena air nya yang sangat melimpah dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan kebutuhan sehari hari.

Setelah diadakannya ithuk-ithukan masyarakat Rejopuro melaksanakan tradisi membaca lontar atau yang disebut mocoan pada malam harinya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengapresiasi gerakan yang timbul dari warga tersebut. Menurutnya, hal ini menjadi bagian yang sangat mendukung bagaimana budaya daerah dapat terus lestari dan memompa semangat gotong royong. Sehingga tercipta, peluang ekonomi di daerah.

"Contohnya, sekarang sudah banyak warga asing yang datang ke sini. Dulu, banyak orang ke sini minta kekayaan atau nomor (togel), tapi sekarang tidak ada. Justru tumbuh menjadi lokasi wisata, sehingga menggerakkan ekonomi warga sekitar," jelasnya. [rin/but]

Tag : seni tradisional

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup