PKK Banyuwangi Kreasikan Bahan Karbohidrat Non-Beras

Ada Pisang Disulap Jadi Nasi Goreng, Hingga Puding Ubi

Rabu, 18 Juli 2018 23:19:03
Reporter : Rindi Suwito
Ada Pisang Disulap Jadi Nasi Goreng, Hingga Puding Ubi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Memperkaya ragam olahan makanan berkabohidrat, Banyuwangi menggelar lomba kreasi menu non beras dan non terigu. Berbagai olahan menu disajikan para peserta ibu-ibu. Ada yang mengolah pisang jadi ‘nasi goreng’, talas menjadi salad, jantung pisang menjadi perkedel, dan ubi ungu menjadi puding.

"Kita harus mulai mengenal dan mengolah karbohidrat dari bahan lain selain nasi dan tepung. Karena jumlah lahan pertanian kita semakin berkurang sementara jumlah penduduk terus bertambah, jadi kita harus kreatif mencari alternatif karbohidrat, misalnya dari umbi-umbian," jelas Ketua Penggerak PKK Kabupaten Banyuwangi Ny. Ipuk Fiestiandhani Azwar Anas, saat membuka lomba tersebut di Pantai Grand Watudodol, Rabu (18/7/2018). 

Lomba ini diikuti oleh ibu-ibu PKK se-Banyuwangi. Mereka berkompetisi menyajikan olahan non-beras dan non terigu terbaiknya. Seperti yang ditunjukkan Kecamatan Kalibaru yang membuat menu ‘nasi goreng’ dari pisang. Ini adalah makanan yang terbuat dari pisang kukus yang diparut kasar dan kemudian dimasak seperti layaknya nasi goreng.

"Ini dari pisang agung yang dikukus, lalu diparut kasar. Baru kemudian diolah seperti nasi goreng. Sengaja kita menggunakan pisang agung karena kita ingin memanfaatkan potensi lokal. Di wilayah Kalibaru, pisang jenis ini sangat banyak dan harganya terjangkau, sehingga ekonomis," kata Endang, salah satu anggota PKK Kecamatan Kalibaru.

Selain itu, juga ada menu Tiwul Bakar yang disajikan oleh kelompok PKK Kecamatan Muncar. Tiwul adalah olahan dari singkong yang dikeringkan (gaplek), kemudian ditumbuk menjadi tepung. Tiwul bakar ini disajikan bersama lauk pauk yang menggoda. Seperti, Cumi isi sayur bumbu rujak, kepiting isi daging ikan patin, dan scotel tempe yang nikmat.

"Kelihatannya ini menu mahal. Padahal biayanya murah lho karena di Muncar harga ikan juga terjangkau. Jadi, tiwul ini tidak mengurangi kebutuhan konsumsi karbohidrat kita. Apalagi dipadukan dengan lauk pauk dengan gizi seimbang," kata Indra Subariyono, PKK Kecamatan Muncar.

Lomba tersebut mendapat perhatian dari delegasi dari 24 negara peserta pelatihan Internasional yang digelar di Banyuwangi. Mereka memuji kreativitas dan kelezatan makanan hasil kreasi para peserta lomba.

Seperti yang dilontarkan Sanet Petschel asal Afrika Selatan yang sempat mencicipi kebab sidat (oling). "Ini lezat sekali, saya suka banget," kata Sanet.

Selain kebab sidat, Sanet juga sempat mencoba menu kepiting hasil kreasi ibu-ibu PKK Kecamatan Muncar. Sanet rupanya juga menyukai olahan kepiting yang dipadu dengan daging ikan patin. "Ini juga enak namun agak pedas. Kayaknya yang ada di sini enak semua," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Harry Cahyo Poernomo menjelaskan lomba ini sebagai upaya mendorong kreativitas masyarakat mengembangkan dan menciptakan menu berbasis sumber daya lokal.

"Peserta sengaja diimbau untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya sehingga lebih ekonomis. Seperti Kecamatan Glagah yang punya sidat, mereka olah sidatnya," ujar Harry. [rin/suf]

Tag : kuliner

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup