Maulid Nabi di Banyuwangi Muncul Dari Lima Penjuru

Sabtu, 02 Desember 2017 15:25:14
Reporter : Rindi Suwito
Maulid Nabi di Banyuwangi Muncul Dari Lima Penjuru

Banyuwangi (beritajatim.com) - Duyun-duyun barisan sosok berbusana serba putih berdatangan. Lengkap dengan jodang berisi hiasan telur warna-warni. Mereka berkeliling dan muncul dari berbagai sisi dan penjuru.

Ada lima penjuru yang menjadi titik awal kemunculan mereka hingga bermuara di depan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Mereka adalah pasukan sholawat yang turut memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Mengarak jodang dan hiasan telur itu memang bukan tanpa alasan.  Lima penjuru ini yang melambangkan jumlah sholat wajib umat muslim.

“Kegiatan ini punya makna yang luas, selain untuk memperingati Maulid Nabi, kita ingin agar orang-orang di luar Banyuwangi merasakan spirit dan semangat warga kita yang begitu luar biasa dalam memperingati Maulid nabi. Sehingga ini menjadi syiar budaya Islam yang asli produk kearifan lokal Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar, saat perayaan maulid nabi Muhammad SAW, Sabtu (2/12/2017).

Ada makna filosofi yang tinggi dari tradisi endhog-endhogan di perayaan maulid nabi Muhammad SAW di Banyuwangi. Konon, Endhog atau telur memiliki tiga lapisan. Kulit telur, putih telur dan kuning telur.

Kulit telur diibaratkan sebagai lambang keislaman sebagai identitas seorang muslim. Putih telur, melambangkan keimanan, yang berarti seorang yang beragama Islam harus memiliki keimanan yakni mempercayai dan melaksanakan perintah Allah SWT.

Lalu kuning telur melambangkan keihsanan, dimana seorang Islam yang beriman akan memasrahkan diri dan ikhlas dengan semua ketentuan Allah SWT.

“Islam, Iman dan Ihsan adalah harmonisasi risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang jika ditancapkan pada diri manusia akan menghasilkan manusia yang mencerminkan akhlak Rasulullah. Inilah makna Festival endhog-endhogan agar kita selalu ingat dan menjalankan tuntunan nabi,” ujar Bupati Anas.

Peringatan Maulid Nabi sudah selayaknya dilakukan oleh umat muslim, sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi yang akan memberikan syafaatnya bagi umat muslim kelak di hari akhir. Contohnya cukup banyak, baik perilaku kesehariannya dan juga ajaran-ajaran yang disampaikan.

"Rasul telah banyak memberi contoh bagaimana kita menjalani kehidupan agar selamat dunia akherat. Maka tidak lah berlebihan bila kita merayakan Maulid Nabi dengan meriah ini,” ucap Ustad Andi Hidayat dalam Tausiyahnya.

Di akhir acara, Festival endhog-endhogan diakhiri dengan memakan ancak bersama-sama. Satu ancak yang berisi nasi dan lauk pauk dimakan oleh 4-5 orang. Keguyuban pun langsung terasa saat semua berbaur bersama-sama memakan hidangan tersebut.

“Senang sekali bisa merayakan Maulid bersama Bupati dan semua orang disini, biasanya saya ikut endhog-endhogan yang ada di kampung,” kata Sabilla salah seorang warga yang ikut di Festival ini. (rin/kun)

Tag : maulud nabi banyuwangi

Berita Terkait

Kanal Gaya Hidup