Sejarah Tradisi Endhog-Endhogan Maulid di Banyuwangi

Sabtu, 02 Desember 2017 14:51:14
Reporter : Rindi Suwito
Sejarah Tradisi Endhog-Endhogan Maulid di Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) - Setiap daerah di Indonesia memeriahkan Maulid Nabi dengan tradisi yang khas. Tak ketinggalan Banyuwangi memiliki tradisi merayakan tersebut yang dikenal dengan Endog-endogan, mengarak ribuan telur yang ditancapkan dalam pelepah pisang simbol nilai-nilai Islam yang harus dimiliki setiap umat Islam.

Ada makna filosofi yang tinggi dari tradisi endhog-endhogan di perayaan maulid nabi Muhammad SAW di Banyuwangi. Konon, Endhog atau telur memiliki tiga lapisan. Kulit telur, putih telur dan kuning telur.

Kulit telur diibaratkan sebagai lambang keislaman sebagai identitas seorang muslim. Putih telur, melambangkan keimanan, yang berarti seorang yang beragama Islam harus memiliki keimanan yakni mempercayai dan melaksanakan perintah Allah SWT.

Lalu kuning telur melambangkan keihsanan, dimana seorang Islam yang beriman akan memasrahkan diri dan ikhlas dengan semua ketentuan Allah SWT.

“Islam, Iman dan Ihsan adalah harmonisasi risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang jika ditancapkan pada diri manusia akan menghasilkan manusia yang mencerminkan akhlak Rasulullah. Inilah makna Festival endhog-endhogan agar kita selalu ingat dan menjalankan tuntunan nabi,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Sabtu (2/12/2017).

Sementara itu, Hasnan Singodimayan sejarawan dan budayawan Banyuwangi menyebut perayaan endhog-endhogan selalu menggunakan telur itik. Ini juga mengandung filosofis mendalam.

"Kalau telur ayam, ayam bertelur dua saja sudah koar-koar kemana-mana, tapi kalau bebek atau itik ini masiyo bertelur banyak tetap saja diam," kata Hasnan.

Tak hanya itu, perbedaan menggunakan telur dalam tradisi ini juga memiliki maksud berbeda. Itik dilambangkan dengan sesuatu yang selalu dekat dengan air.

"Itik juga mudah diarahkan, apalagi dia sering dekat dengan air alias sering berwudlu. Jelas kalau umat islam yang dekat dengan air wudlu insya Allah akan lebih dengan tuhan-Nya," ucapnya lagi.

Sementara itu, sejarah lahirnya tradisi endhog-endhogan Banyuwangi ini dimulai sejak sekitar 1926 lalu, atau beberapa bulan setelah deklarasi jam’iyah NU.

Saat itu, Syaikhona Kholil, Bangkalan memanggil para alumnus Ponpes Kademangan Bangkalan yang dipimpinnya. Mereka antara lain adalah KH. Hasyim Ashari, pendiri Ponpes Tebu Ireng Jombang, Kyai Abdul Karim, Lirboyo Kediri, Kyai Abdul Wahab Hasbulloh, Tambak Beras Jombang, dan RM.Mudasir atau dikenal KH.Abdullah Fakih pendiri Ponpes Cemoro, Balak Songgon Banyuwangi

Selain itu ada juga, KH. Asmuni, Teratai Sumenep Madura, Kyai Ach. Abas Buntet Cirebon, serta Kyai Nawawi Gersik dan lain-lain.

“Mbah Yai Kholil itu ngendika, saiki kembange Islam wis lahir ning Nusantara arupa endhog. Yoiku, kulite NU isine amaliyah ke-NU-an. Kulit tanpa isi kopong, isi tanpa ono kulite ya keleleran." Kata Fauzi, saat di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Jum'at (1/12/2017).

Sepulang dari tempat itu, kata Fauzi, para Kyai tersebut kembali ke daerah masing-masing. Mereka mentafsirkan apa yang disampaikan sang maha guru Syaikhona Kolil tersebut.

"Salah satunya Kyai Abdullah Fakiq yang mengumpulkan telur dan meneluarkan jodang dari gedebog pisang kemudian telor yang ditusuk dengan bilah bambu, dihias bunga-bunga ditancapkan pada gedebog. Kemudian diangkat berkeliling kampung sembari melantunkan salawat dan bacaan dzikir lainnya," katanya.

Hingga waktu berlalu, tradisi ini terus berkembang dan lestari di tanah Blambangan. Meski awalnya hanya dilakukan oleh kalangan warga suku Using, yang notabene mayoritas santri Mbah Abdullah Faqih. Namun, bergulirnya waktu tradisi ini telah membudaya dan merambah seluruh sendi lapisan warga lintas suku di Banyuwangi. (rin/kun)

Tag : maulud nabi banyuwangi

Berita Terkait

Kanal Gaya Hidup