Wayang Mbah Gandrung, Unik dan Berselimut Mistik

Selasa, 10 Oktober 2017 00:04:07
Reporter : Nanang Masyhari
Wayang Mbah Gandrung, Unik dan Berselimut Mistik

Kediri (beritajatim.com) - Nama Wayang Gandrung bagi orang Kediri dan sekitarnya dianggap wayang mistis. Selain selalu dijamas dan hanya ditampilkan di bulan Suro atau kepentingan lain misalnya bagi mereka yang punya ujar (nazar).

Wayang Gandrung menurut kisahnya terlahir dari sebuah bongkahan kayu yang terdampar di sungai pada saat terjadi banjir di daerah Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri sekitar abad 17.

Bahkan tentang keunikan wayang ini, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia di era SBY, Jero Wacik pernah memberikan penghargaan khusus kepada Mbah Kandar (almarhum)  sang dalang, sebagai maestro seni tradisi.

Beberapa keunikan yang berhasil ditelusuri berdasarkan penuturan ahli warisnya antara lain, wayang ini terlahir dari bongkahan kayu jati yang hanyut saat terjadi banjir, seperti dituturkan secara turun temurun oleh Lamidi (60) sang pewaris ketujuh Wayang Gandrung dari kakek buyutnya Ki Demang Proyosono.

Kayu jati yang terdampar itu dibelah oleh orang misterius setelah penduduk Pagung, gagal membelahnya.
"Wayang ini adalah peninggalan kakek buyut saya yakni Demang Proyosono, tokoh spiritual dari Surakarta yang sedang topo (bertapa) di Gunung Wilis. Wayang ini hanya boleh dibuka saat pementasan saja selain itu tidak boleh," tutur Lamidi, Senin (9/10/2017).

Pertunjukkan Wayang Mbah Gandrung hari ini digelar di Balai Desa Pagung, Kecamatan Semen. Agenda rutin setiap bulan Suro atau Muharram dalam kalender Islam dihadiri beberapa orang warga. Anggota kepolisian juga hadir untuk menyaksikan sekaligus menjaga keamanan.

Lamidi menambahkan, kemana saja ketika masih bisa dijangkau, mulai wayang, kenong, gong, rebab, kendang, gambang, dipikul/diangkut dengan jalan kaki. Pilihan dengan jalan kaki ini lantaran pernah pada suatu ketika peralatan pentas pagelaran wayang diangkut dengan gerobak, gerobaknya tidak bisa jalan. Demikian pula ketika diangkut mobil, mobil itu pun mogok.

Ketiga, saat penentuan alur cerita dalam pagelaran wayang, sang dalang seperti Mbah Kandar tidak memiliki otoritas menentukan lakon. Semua hanya berdasarkan wangsit yang diterima Lamidi, keturunannya, setelah dirinya melakukan laku ritual.

Peran kuat Lamidi dalam pengaturan proses 'mungel' (proses pementasan) merambah ke seluruh aspek aktualisasi Wayang Gandrung, baik fisik maupun psikis. Hal ini membangun kerangka mistik yang terstruktur bagi menguatnya mitos masyarakat terhadap Wayang Gandrung. [nng/suf]

Tag : seni tradisional

Berita Terkait

Kanal Gaya Hidup