Tak Ada Fasilitas Gedung, Rumah Disulap Jadi Ruang Pameran

Selasa, 25 April 2017 23:49:40
Reporter : Tulus Adarrma
Tak Ada Fasilitas Gedung, Rumah Disulap Jadi Ruang Pameran

Bojonegoro (beritajatim.com) - Rumah yang ada di Jalan Serma Ma'un, Kelurahan Banjarejo, Kabupaten Bojonegoro menjadi ruang pameran seni rupa. Pameran digelar selama tiga hari. Hari ini adalah pameran terakhir, Selasa (25/4/2017).

Pameran tunggal yang digelar oleh pelukis, Dwi Putra Puguh Pambudi (24) asal Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro itu merupakan bentuk aksi solidaritas terhadap perjuangan masyarakat Gunung Kendeng, Jawa Tengah yang mempertahankan tanahnya dari pembangunan pabrik semen.

"Seperti ada keprihatinan dengan kondisi yang terjadi di Kendeng. Terhadap perjuangan Kartini Kendeng. Munculah kemudian ide untuk melakukan pameran," ujar Puguh, sapaan akrabnya.

Karena belum adanya gedung pameran yang ada di Bojonegoro, dia kemudian memaksimalkan rumah kontrakannya. Rumah itu dosulap menjadi galeri seni rupa. Dari depan suguhan mural di tembok dua orang perempuan, Kartini dan Yu Patmi, Warga Kendeng yang meninggal saat melakukan aksi mengecor kakinya menggunakan semen.

Saat masuk ke dalam ruang tamu, suasana hijau pedesaan. Seolah-olah pengunjung diajak melihat bagaimana perjuangan petani menjalani profesinya. Sebuah kesederhanaan. Dua orang, yang satu sedang mendirikan gubuk dan satunya sedang makan makanan​ bekal.

Setelah masuk lebih dalam, ada seni instalasi dari barang-barang bekas. Dari sisa gulungan kabel. Kayu-kayu itu dibentuk menjadi seorang yang seperti superhero petani. Bentuknya satir, bersenjata cangkul dan bersayap dari sarung. "Superheronya petani ya begini," katanya, disambung tawa.

Lalu, sebuah lukisan berukuran dua kali tiga meter. Juga tentang seorang petani. Lukisan itu dikonsep menjadi korden. Beberapa petani sedang tandur atau menanam. Dengan latar belakang gedung dan perumahan. "Saya sering melihat lahan pertanian itu sekarang banyak yang sudah beralih fungsi. Menjadi berdiri bangunan-bangunan," jelasnya.

Lukisan realis itu kemudian diberi judul "Ironi Kemakmuran". Sebuah protes yang ingin ia suarakan dari selembar lukisan. "Dari lukisan-lukisan ini saya berharap bisa mewakili suara dari masyarakat," ungkapnya.

Bahkan di atap rumah juga dimanfaatkan sebagai media pameran. Sebuah pesan pendek ditulis di atap dan seorang astronot. Dalam tulisan itu berbunyi, "Jika Tak Ada Lagi Tanah Untuk Kau Tanam, Mari Bercocok di Luar Angkasa". Sedang di ruang dalam, pameran dengan bentuk mix media. Dari perpaduan antara buku, kayu bekas, ban vespa, maupun botol.

Pameran seni rupa yang mengunakan rumah sebagai ruang pamer tersebut tergolong baru di Bojonegoro. Pameran biasanya digelar di ruang terbuka, pendopo Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), maupun di gedung. [lus/suf]

Tag : seni lukis

Berita Terkait

Komentar

Kanal Gaya Hidup