Kirim Doa Untuk Leluhur, Umat Budha Gelar Upacara Ulambana di Maha Vihara Mojopahit

Rabu, 17 Agustus 2016 19:19:54
Reporter : Misti P.
Kirim Doa Untuk Leluhur, Umat Budha Gelar Upacara Ulambana di Maha Vihara Mojopahit

Mojokerto (beritajatim.com) - Umat Budha menggelar upacara Ulambana di Maha Vihara Mojopahit Dusun Kedung Wulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Upacara Ulambana atau pati dana (dana untuk orang mati) nerupakan salah satu hari suci umat Buddhis yang diselenggarakan pada tanggal pertama hingga ke-17 penanggalan Imlek.

Selama lebih dari dua jam, umat Budha menggelar upacara Ulambana yang didahului dengan sembayang di Maha Vihara Mojopahit. Setelah sembayang, umat Budha kemudian berdoa dab kirim doa di depan Maha Vihara Mojopahit dilanjutkan dengan membagikan sejumlah sembako kepada fakir miskin di sekitar lokasi Maha Vihara Mojopahit.

Upacara yang dipimpin bhiksu senior di Jawa Timur, A Viriyanadi Mahathera atau Bhante Vir ini kemudian melakukan pembakaran sesaji yang berbentuk kapal. Di dalam kapal berisi ratusan kotak yang didalamnya ada barang-barang yang disukai arwah leluhur yang akan dikirim ke surga dengan cara dibakar.

Ada patung kertas malaikat penyabut nyawa yang disimbulkan sebagai pembawa kapal tersebut menuju surga. Bhante Vir yang merupakan salah satu anggota presidium Sangha Agung Indonesia ini kemudian memercikan air suci diikuti umat Budha berkeliling kapal yang terbuat dari kertas sembari memegang dupa dan dibakar.

"Setiap tahun, setiap tanggal 17 pertengahan bulan purnama, Imlek penanggalan China, umat Budha menggelar upacara mengirim doa kepada leluhur, juga kepada semua makhluk hidup yang tidak diselamati dengan pengiriman sesajian. Seperti uang, pakaian yang dimasukan dalam kotak (koper)," ungkapnya, Rabu (17/8/2016).

Masih kata Bhante Vir, karena setelah kematian para arwah ada di alam lain menunggu dan jika habis waktunya akan turun sesuai amal kebajikannya bisa menjadi manusia enak atau tidak enak. Sehingga manusia yang hidup mengirim doa kepada leluhur dengan menggunakan sesaji berupa kotak isi pakaian yang mereka sukai atau sesuatu yang melekat untuk dikirim ke surga.

"Pakaian tersebut kemudian dibakar karena penderitaan manusia ada di yang melekat. Kapal hanya alat untuk menyebrangkan saja, Budha mengajarkan dharma (ajaran) yang diibaratkan sebagai kapal. Seperti umat Islam, mengetahui ajaran Nabi Muhammad SAW tapi tidak dilaksanakan, umat Budha hafal mantera, pujian tapi ada bencana tidak menyumbang padahal ajarannya diminta untuk menyumbang," katanya.

Kapal tersebut diarahkan ke barat, lanjut Bhante Vir, semua ajaran mengarah ke arah barat karena surga sukawati berada sebelah barat. Pada peringatan hari kemerdekaan RI, Bhante Vir berharap, dengan diadakan upacara tersebut semoga arwah para pejuang bisa tenang dan dengan ketenangan dan kebahagian tersebut semoga dilimpahkan kepada bangsa Indnesia yang lagi banyak masalah dengan meminta kepada Amitaba (Allah SWT).

Salah satu umat Budha, Liana Setyowati mengatakan, ia jauh-jauh dari Besuki bersama suami sengaja untuk mengikuti upacara tersebut. "Semoga semua arwah bisa mendapatkan tempat bahagia, tidak hanya arwah keluarga saja tapi semua arwah yang tidak dikenal. Saya kirim uang, koper, makanan, beras untuk para leluhur yang berasnya diberikan kepada fakir miskin," jelasnya.[tin/kun]

Tag : budha, mojokerto

Berita Terkait

Kanal Gaya Hidup