Tembakau Akan Tetap Menjadi Tumpuan Petani di Jatim

Selasa, 07 Agustus 2018 23:02:09
Reporter : Renni Susilawati
Tembakau Akan Tetap Menjadi Tumpuan Petani di Jatim

Surabaya (beritajatim.com) - Jawa Timur menjadi salah satu penghasil cukai rokok yang cukup besar bagi Indonesia, sebab 27 kabupaten dan kota di Jatim memiliki pabrik rokok mulai dari skala usaha mikro hingga pabrik rokok besar. Total cukai dari rokok yang didapatkan sekitar Rp 80 triliun sedangkan pemerintah Jatim mendapat 2 persen yakni sekitar Rp 1,5 triliun.

Menurut Fatah Yasin, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Jatim, jika semua hasil cukai itu semua diberikan ke pemerintah Jatim maka semua masalah pendanaan infrastruktur di Jatim akan terselesaikan.

"Tetapi tentu kita harus tunduk pada amanat undang-undang dan aturan pemerintah pusat. Yang saya sampaikan ini hanya ilustrasi bagaimana pentingnya industri pertembakauan di Jawa Timur. Meskipun ada pembatasan tetapi perolehan cukai rokok selalu meningkat," beber Fatah Yasin, dalam seminar Prospek dan Tantangan Dalam Pertembakauan: Kebijakan Cukai Hasil Tembakau (domestik dan internasional) Dan Dampak Ekonomi Tenaga Kerja" yang digelar oleh Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Selasa (7/8/2018).

Dikatakan, saat ini bisnis tembakau masih tetap menjanjikan. Sebab Indonesia sendiri masih menjadi pengimpor tembakau. Itu karena petani tembakau tak bisa memenuhi kebutuhan pabrik. Dan kini tanaman tembakau terus bertambah di Jatim yakni sekitar 250 ribu hektar lahan yang tersebar di 20 kabupaten dan kota.

"Keberadaan tembakau dan industrinya memang menjadi penopang ekonomi di Jatim. Sebab industri tembakau menjadi salah satu perusahaan tenaga kerja yang besar di Jatim. Bayangkan jika nanti hal itu ditekan," kata Fatah.

Hal senada juga diungkapkan oleh Bambang Eko Afiatno, Peneliti di Lembaga Penelitian Ekonomi Pembangunan (LPEP) FEB Unair yang berharap masyarakat dan pengambil kebijakan melihat pertembakauan dari berbagai sisi. Sebab selama ini kampanye yang gencar adalah tentang bahaya merokok dan pembatasannya serta isu betapa murahnya harga rokok sehingga semua masyarakat bisa mendapatkan dengan mudah.

"Padahal hasil penelitian kami di lapangan hal itu tidak sepenuhnya benar. Memang rokok memiliki dampak negatif tetapi juga memiliki dampak positif. Buktinya ada peneliti dari Malang malah menjadi asap rokok sebagai pengobatan," jelasnya dosen yang akrab dipanggil Eko itu.

Ditambahkan, harga rokok saat ini di Indonesia bukannya murah. Bahkan harga rokok di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan dari negara maju seperti China dan benua Amerika.

"Seminar ini sengaja kami gelar agar membuka mata semua orang bahwa tembakau dan industrinya harus dikaji dari semua aspek," tandasnya. [rea/suf]

Tag : tembakau

Berita Terkait

Komentar

Kanal Ekonomi