Petani Kopi Dampit Mulai Bersertifikat Organik Dunia

Minggu, 29 Juli 2018 22:22:41
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Petani Kopi Dampit Mulai Bersertifikat Organik Dunia
Perkebunan kopi organik di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. [Foto: Bramayoga/bj.com]

Malang (beritajatim.com)--Produk kopi asal Kabupaten Malang dinilai potensial untuk terus dikembangkan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Malang menargetkan perluasan lahan kopi hingga mencapai 27 ribu hehtare (ha) dalam 5 tahun ke depan.

Seperti halnya petani kopi di Desa Amadanom, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, di mana sejak tahun 2017 lalu, sudah membudidayakan kopi organik dan sudah mengantongi sertifikat organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Dunia dengan penghasilan 1,2 ton kopi organik per hektarnya.

Annisa Arifianti, salah satu fasilitator kopi organik Iskol Argridaya memaparkan, beberapa persyaratan yang masuk standart sertifikasi yakni, produksi kopinya sudah organik dan terbebas dari kimia dan proses penanamannya harus terbebas dari kontaminasi kimia.

Hal yang tak kalah penting, lanjut alumnus Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto ini, juga harus ada zona penyangga atau pembatas dengan lahan nonorganik. Serta yang tak kalah penting adalah, dalam proses pengelolaan lahan tidak harus terjadi pembakaran kawasan sekitar.

“Untuk kopi Dampit, selain dengan produksi organik juga terbebas dari zat kimia. Adapun target dari Dinas Perkebunan Jawa Timur, kopi organik Kecamatan Dampit seluas 15 hektare. Saat ini baru terdata 8,67 hekatare. Guna memenuhi target itu, kami harus melakukan pendataan ulang dan selalu memberi edukasi terhadap para petani,” terang Annisa.

Sebelumnya, para petani Desa Amadanom juga menggelar pameran di Malang Coffe Festival (MCF) II di Taman Krida Budaya Kota Malang. Petani tergabung dalam Kelompok Tani Harapan yang mengembangkan kopi organik ini.

"Kami menanam di 50 hektare lahan, dari total 100 hektare lahan kopi di Desa Amadanom. Baru panen tahun ini, dan sudah memiliki sertifikat organik," terang Witono, Ketua Kelompok Tani (Koptan) Tani Harapan, Minggu (29/7/2018).

Menurutnya, terdapat 136 petani yang melirik kopi organik itu. Witono mengakui, belum semua lahan kopi di Amadanom diubah menjadi pertanian kopi organik. "Kami lakukan bertahap," imbuhnya.

Pertimbangan pendapatan menjadi salah satu faktor petani masih bertahap menerapkan pertanian organik. Tetapi ke depan, petani setempat sepakat bakal menanam kopi organik di kawasan tersebut.

Karena itu, petani di Koptan 'Tani Harapan' sepakat menanam kopi organik karena harga jual kopi tersebut lebih mahal. Tetapi di sisi lain, produktivitas kopi organik dalam lahan satu hektare jauh di bawah kopi nonorganik.

Witono melanjutkan, setiap satu hektare lahan kopi nonorganik bisa menghasilkan 1,2 ton kopi. Sedangkan kopi organik hanya 8 kuintal kopi.

Tetapi harga jual kopi organik jauh di atas kopi nonorganik.

Saat panen kopi tahun ini, pedagang membeli kopi nonorganik hanya Rp 27.000 per Kg biji OC dari petani. Sedangkan kopi organik bisa mencapai Rp 45.000 per kilogram.

"Itu harga di pedagang. Kalau kami menjual sendiri langsung ke konsumen bisa mencapai Rp 100.000 per kg biji OC," beber Witono.

Para petani kopi organik memilih menjual kopi mereka ke pemesan langsung tanpa melalui perantara pedagang atau tengkulak kopi. Pemesan yang dimaksud Witono antara lain pemilik kedai kopi. Dan juga pedagang. Akan tetapi mau membeli dengan harga yang disodorkan petani.

“Jujur untuk harga kopi nonorganik yang dibeli pedagang sangat murah. Keuntungan bagi petani sangat sedikit. Kami inginnya, kopi nonorganik dibeli Rp 50.000 per Kg, dan kopi organik di atas itu," tegasnya.

Kopi organik yang ditanam petani Amadanom berjenis Robusta. Luas lahan kopi di Kecamatan Dampit saja mencapai 3.500 hektar lebih. Dampit adalah salah satu kecamatan sentra penghasil kopi di Kabupaten Malang. Lahan kopi di wilayah ini tersebar di 17 kecamatan. Mayoritas berada di lereng empat gunung: Gunung Semeru, Bromo, Arjuno, dan Gunung Kawi. [yog/air]

Tag : kopi

Berita Terkait

Komentar

Kanal Ekonomi