Moratorium Industri Semen, Kenapa Tidak? (2)

Semen, Baja, China, dan Jeritan Trump

Kamis, 26 Juli 2018 18:15:07
Reporter : Ainur Rohim
Semen, Baja, China, dan Jeritan Trump
Pabrik Semen Gresik di Kabupaten Tuban, Jatim. [Foto: Ainur Rohim/bj.com]

Serbuan semen China ke pasar domestik dalam 5 tahun terakhir sangat deras. Anhui Conch adalah pemain besar bisnis semen dunia, yang produknya mulai membanjiri pasar semen domestik. Posisinya di tempat ketiga produsen semen global. Conch punya kapasitas produksi semen di Tanah Air sebesar 5,2 juta ton per tahun. Pabrikan semen dari Negeri Tirai Bambu ini juga merencanakan membangun pabrik semen di Provinsi Papua, selain memiliki pabrik di Kalimantan Selatan dan Sumatera.

Tak hanya Anhui Conch yang menyerbu pasar semen Indonesia, sejumlah pabrikan semen dari China dan negara lain menjadikan Indonesia sebagai pasar empuk: Semen Hippo (Sun Fook), Semen Serang (Haohan), Semen Jui Shin, dan Siam Cement dari Thailand. Siam Cement merupakan pabrikan semen terbesar di kawasan Asia Tenggara sebelum posisinya digeser Semen Indonesia Grup, yang kini memiliki desain kapasitas produksi 35,9 juta ton per tahun.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tak pernah menyentuh angka 5,5 persen per tahun di sepanjang 2014-2017, akselerasi ekonomi nasional tak bisa diharapkan berputar cepat dengan dinamika ekonomi tinggi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 2015 tumbuh 4,88% dan pada 2016 dengan 5,02%. Sedang pada 2017, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,07%. Itu angka pertumbuhan ekonomi paling tinggi di era pemerintahan Jokowi-JK. Bandingkan dengan India dan China, yang mana kedua negara ini pada 2015 masing-masing ekonominya tumbuh di level 7,3% dan 6,8%.

Di sisi lain, sebelum rezim Jokowi-JK, angka pertumbuhan ekonomi nasional cukup meyakinkan. Pada 2010, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 6,81%, tahun 2011 tumbuh sebesar 6,44%, tahun 2012 tumbuh 6,19%, dan tahun 2013 pertumbuhan ekonomi nasional di level 5,56%.

Konsumsi semen di tingkat domestik yang masih rendah juga menjadi pemicu rendahnya sales semen di Indonesia, selain perspektif makro ekonomi yang berhubungan dengan growth ekonomi nasional. Data 2016 menunjukkan, tingkat konsumsi semen per kapita per tahun penduduk Indonesia sebesar 262 kilogram. Bandingkan dengan China dengan 1.648 kilogram per kapita/tahun, Korea Selatan dengan 1.000 kilogram per kapita/ tahun, Malaysia dengan 763 per kapita/tahun, Vietnam dengan 617 kilogram per kapita/tahun, dan Australia dengan 399 kilogram per kapita/ tahun.

Sejak pemerintahan Jokowi-JK, program pembangunan infrastruktur terus digenjot pemerintah. Hal itu dibuktikan dengan besarnya alokasi anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk sektor ini. Tahun 2018 ini, Jokowi-JK mengucurkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur sebesar Rp 410,4 triliun, tahun 2017 sebesar Rp 388,3 triliun, tahun 2016 sebesar Rp 269,1 triliun, tahun 2015 sebesar Rp 256,1 triliun. Pada 2 tahun akhir pemerintahan SBY-Budiono, alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur tak sampai Rp 200 triliun, yakni di tahun 2013 dengan Rp 155,9 triliun dan tahun 2014 dengan 154,7 triliun.

Kucuran anggaran pembangunan infrastruktur itu ternyata belum mampu menderek angka pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan. Lebih khusus lagi, sales semen nasional sepanjang 2015-2017 tak lebih baik dibanding di sepanjang 2010-2014.

Di tataran internasional, semen menjadi komoditas ekonomi global, di mana price semen ditentukan berdasar mekanisme hukum ekonomi: posisi demand and supply. Semua pemain global persemenan masuk dan berbisnis di Indonesia, seperti Anhui Conch dari China, Heidelberg dari Jerman, dan Lafarge Holcim dari Prancis dan Swiss. Jumlah demografi Indonesia yang besar, ekonominya selalu tumbuh di atas 4,5% per tahun, dan akselerasi ekonomi yang konsisten di Indonesia menempatkan negara ini jadi market potensial bagi pelaku persemenan global.

Di samping itu, tata ekonomi global mewajibkan hilangnya berbagai barrier perekonomian masing- masing negara. Globalisasi ditandai dengan hilangnya batas nation-state dalam perspektif politik. Dalam perspektif ekonomi, globalisasi menjadikan integrasi ekonomi. Artinya, ekonomi nasional Indonesia mesti menyatu dengan perekonomian global. Otomatis berbagai komoditas ekonomi mesti bergerak tanpa batasan ketat antarnegara dan kebijakan yang menghambat perdagangan bebas. Semen termasuk komoditas ekonomi yang diperdagangkan dengan prinsip perdagangan bebas secara konsisten dan paripurna.

Globalisasi ekonomi tak mungkin dilepaskan dari Konsensus Washington yang diperkenalkan John Williamson pada tahun 1989. Konsensus ini melibatkan Amerika Serikat, IMF, dan World Bank, yang dimanifestasikan dengan pentingnya deskripsi 10 kebijakan ekonomi, yang perlu menjadi standar reformasi bagi negara berkembang yang baru didera krisis.

Ke-10 kebijakan ekonomi itu antara lain: Disiplin anggaran pemerintah; Pengarahan pengeluaran pemerintah dari subsidi ke belanja sektor publik, terutama di sektor pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan, sebagai penunjang pertumbuhan dan pelayanan masyarakat kelas menengah ke bawah; Reformasi pajak, dengan memperluas basis pemungutan pajak.

Poin lainnya adalah tingkat bunga yang ditentukan pasar dan harus dijaga positif secara riil; Nilai tukar yang kompetitif; Liberalisasi pasar dengan menghapus restriksi kuantitatif; Penerapan perlakuan yang sama antara investasi asing dan investasi domestik sebagai insentif untuk menarik investasi asing langsung; Privatisasi BUMN; Deregulasi untuk enghilangkan hambatan bagi pelaku ekonomi baru dan mendorong pasar agar lebih kompetitif; Dan keamanan legal bagi hak kepemilikan.

Liberalisasi ekonomi di era globalisasi mengakibatkan banyak hal, terutama di bidang ekonomi berupa integrasi ekonomi antarnegara. Secara praktis, yang kita saksikan sekarang adalah produk China membanjiri banyak negara di dunia, tak terkecuali Amerika Serikat, sebagai negara kapitalis dan liberalis utama dunia. Jika semen China dan produk ekonomi lainnya dari negeri Mao Zedong itu membanjiri Indonesia, fenomena itu bukan hal aneh dan luar biasa.

Mengutip BBC edisi Maret 2018, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru melakukan kebijakan proteksionisme dalam bidang ekonomi, untuk membentengi ekonomi Negeri Paman Sam menghadapi serbuan produk China. Trump menjerit mengingat besarnya defisit perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Besaran defisit perdagangan itu sekitar USD 350 miliar lebih atau lebih dari Rp 4.000 triliun.

Salah satu kebijakan yang diambil Presiden Trump adalah menetapkan kenaikan tarif bea masuk impor baja dan alumunium dari China yang masuk ke market Amerika Serikat. China merespon kebijakan Trump ini dengan menyebut sebagai serangan serius bagi perdagangan dunia yang memicu perang dagang. "Pemerintah Amerika Serikat berlaku adil dan fleksibel," tegas Trump.

Dia yakin kebijakan tarif baru itu akan menggenjot industri dalam negeri AS yang selama ini disebutnya menderita akibat ketimpangan perdagangan. Produk baja yang masuk ke AS akan dikenakan tarif sebesar 25%, sedang produk alumunium sebesar 10%. China dan Rusia adalah pengekspor baja dan aluminum terbesar ke-8 dan ke-9 ke pasar Amerika Serikat. Perang dagang antara Amerika Serikat versus China berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi global. Trump menyebut kebijakannya untuk melindungi kepentingan pekerja industri baja dan aluminium negaranya dan ingin mengembalikan kembali kejayaan kedua jenis industri manufaktur Amerika Serikat ini.

Tak hanya kebijakan pengenaan tarif bea masuk bagi produk baja dan aluminium dari China dan sejumlah negara lainnya, Presiden Trump merencanakan pengenaan tarif atas sekitar USD 60 miliar atau Rp 826 triliun atas produk China dan membatasi kegiatan investasinya di AS sebagai sanksi atas yang diduga pelanggaran hak kekayaan intelektual selama bertahun-tahun. Presiden Trump mengatakan dia mengupayakan kondisi perdagangan yang timbal balik untuk perusahaan-perusahaan Amerika.

Amerika Serikat sebagai kampiun ideologi kapitalisme-liberalisme dan yang pertama kali getol mengkampanyekan perdagangan bebas di era globalisasi akhirnya termakan sendiri oleh materi kampanyenya. Menghadapi perdagangan dengan China, banyak barang produk Amerika Serikat kalah bersaing. Neraca perdagangan kedua negara defisit besar bagi Amerika Serikat dan sangat menguntungkan China. Trump lantas mengambil kebijakan proteksionisme. Kebijakan untuk melindungi eksistensi dan survival industri manufaktur Negeri Paman Sam.

Kenapa hal yang kurang lebih sama tak dilakukan pemerintah Indonesia? Salah satu komoditas industri nasional yang kini menghadapi gempuran hebat produk serupa dari negara lain adalah semen. Ini jenis industri manufaktur yang pertama kali berdiri dan diresmikan Presiden Soekarno pada Agustus 1957: Pabrik Semen Gresik di Kabupaten Gresik, Jatim. Moratorium pabrik semen mungkin salah satu policy alternatif bersifat moderat yang bisa ditempuh. Pendirian dan pembangunan pabrik semen baru dalam beberapa tahun ke depan tak diizinkan, mengingat tingkat oversupply yang sangat besar: 30 juta ton. Apakah kebijakan ini bakal ditempuh pemerintah? Kita lihat saja apa yang akan dilakukan pemerintah. [air/habis]

Tag : semen gresik, semen indonesia

Berita Terkait

Komentar

Kanal Ekonomi