Moratorium Industri Semen, Kenapa Tidak? (1)

Growth Tipis-tipis, Pemain Asing Menyerbu, Harga Dibanting

Rabu, 25 Juli 2018 13:57:39
Reporter : Ainur Rohim
Growth Tipis-tipis, Pemain Asing Menyerbu, Harga Dibanting
Pabrik Semen Indonesia di Tuban. [Foto: Air/bj.com]

Pasar semen nasional sedang sesak. Tak kurang ada kelebihan pasokan sebesar 30 juta ton. Tak hanya itu, tingkat utilisasi pabrikan semen di Indonesia rata-rata di kisaran 64-66 persen. Itu angka tak terbilang tinggi.

Tingginya oversupply produksi semen nasional itu setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, peningkatan kapasitas produksi dari pabrik semen yang telah eksisting di Tanah Air. Pabrikan eksisting telah merencanakan cukup lama untuk membangun pabrik baru guna meningkatkan kapasitas produksi setelah melihat growth tinggi bisnis semen di Indonesia pada periode 2007-2014.

Kedua, kebijakan ekspansi pemain semen kelas dunia yang mengalir deras dalam 4 terakhir ke Indonesia, terutama pemain semen dari China dan Thailand. Produk mereka membanjiri pasar semen nasional di tengah menurunnya demand semen nasional, kendati ada proyek infrastruktur pemerintahan Jokowi-JK. Pemain semen asing yang ekspansif masuk ke Indonesia di antara Anhui Conch dari China dan Siam Cement dari Thailand.

Data per April 2018 menunjukkan bahwa pada periode 2017, desain kapasitas produksi 15 brand produk semen di Indonesia mencapai 107,4 juta ton. Sedang tingkat kapasitas produksi riil hanya 69,3 juta ton, sehingga tingkat utilisasi pabrik semen di Indonesia pada periode 2017 hanya mencapai 64,5 persen.

Kendati sepanjang tahun 2017, tingkat pertumbuhan semen nasional cukup tinggi: 7,60 persen, tapi angka growth yang tinggi tersebut tak bisa dirasakan sebagai 'buah manis' bagi pabrikan semen. Sebab, persaingan harga semen di pasar nasional sangat keras. Harga semen cenderung bergerak menurun dari tahun ke tahun. Karena itu, margin pabrikan semen persentasenya juga turun.

Ujung-ujungnya profit bersih pabrikan semen di Indonesia juga ikut turun sejak tahun buku 2014 sampai 2017 kemarin. Yang lebih ekstrim, ada pabrikan semen yang cukup lama beroperasi di Indonesia mengalami kerugian dalam 3 tahun terakhir.

Data akhir 2017 menunjukkan, dari total desain kapasitas produksi seluruh pabrikan semen di Indonesia yang mencapai 107,4 juta ton per tahun, Semen Indonesia Grup tetap jadi produsen dengan kapasitas produksi tertinggi dengan 35,9 juta ton per tahun. Indocement Tunggal Prakarsa dengan 24,9 juta ton per tahun, Lafarge Holcim Indonesia dengan 15,7 juta ton per tahun, Semen Merah dengan 7,5 juta ton per tahun, Semen Bosowa dengan 7,4 juta ton per tahun, Semen Anhui Conch (China) dengan 5,2 juta ton per tahun, Semen Baturaja (BUMN) dengan 3,8 juta ton per tahun, Semen Panasia dengan 1,9 juta ton per tahun, Siam Cement Group (Thailand) dengan 1,8 juta ton per tahun, Semen Jui Shin dengan 1,5 juta ton per tahun, Semen Serang (Haohan) dengan 1,2 juta ton per tahun, Semen Jakarta dengan 1,0 juta ton per tahun, Semen Hippo (Sun Fook) dengan 0,6 juta ton per tahun, Semen Kupang (BUMN) dengan 0,3 juta ton per tahun, dan Semen Puger (Jember) dengan 0,3 juta ton per tahun).

"Pada tahun 2017, tingkat market share kita sebesar 40,8 persen," kata Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia, Agung Wiharto kepada wartawan beberapa waktu lalu. Pada tahun 2017, tingkat penjualan semen di pasar domestik mencapai 66,3 juta ton, sedang pasar ekspor hanya 2,9 juta ton. Pada periode Januari hingga April 2018, tingkat penjualan semen di pasar domestik dan ekspor mencapai 22,35 juta ton. Rinciannya, pasar domestik dengan 21,05 juta ton dan ekspor dengan 1,29 juta ton. Untuk periode sama tahun 2017, tingkat penjualan semen di pasar domestik dan ekspor mencapai 20,40 juta ton. Rinciannya, pasar domestik dengan 19,78 juta ton dan ekspor dengan 615.005 ton. Di periode Januari sampai April 2018, terjadi peningkatan perjualan semen sebesar 9,6 persen dibanding periode sama tahun 2017.

Untuk Semen Indonesia Grup, di periode Januari hingga April 2018, tingkat penjualan semen produknya mencapai 10,049 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 4,4 persen dibandingkan periode 2017 dengan 9,629 juta ton. Khusus pada bulan April 2018, tingkat penjualan semen dari Semen Indonesia Grup mencapai 2,664 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 8,7 persen dibanding periode sama tahun 2017 dengan 2,452 juta ton. "Memang terjadi peningkatan penjualan semen tiap tahun, tapi harganya cenderung bergerak turun," tambah Agung.

Pulau Jawa tetap jadi pasar terbesar semen nasional. Pada April 2018, dari total penjualan semen nasional yang mencapai 5,337 juta ton, serapan semen di Pulau Jawa sebesar 3,026 juta ton. Sisanya oleh pasar di luar Pulau Jawa. Pada periode April 2018, total penjualan semen di Indonesia termasuk yang diekspor mencapai 5,257 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 12,8 persen dibanding periode April 2017 dengan 5,257 juta ton.

Bila kita cermati lebih dalam lagi, dari total penjualan semen sebesar 5,337 juta ton pada periode April 2018 di Indonesia, tingkat sales di DKI Jakarta dengan 383.227 ton, Banten dengan 281.008 ton, Jabar dengan 771.142 ton, Jateng dengan 754.882 ton, DI Yogyakarta dengan 88.772 ton, Jatim dengan 743.899 ton, Pulau Sumatera dengan 1.153.076 ton, Pulau Kalimantan dengan 340.520 ton, Pulau Sulawesi dengan 428.691 ton, Nusa Tenggara dan Bali dengan 284.996 ton, dan Maluku serta Papua dengan 103.479 ton.

Dari 15 pabrikan semen yang sekarang beroperasi di Indonesia, sebelum tahun 2010 hanya ada 7 pabrikan yang bergerak dalam bisnis semen di Tanah Air. Ketujuh pemain itu antara lain, Semen Indonesia Grup (BUMN), Indocement Tunggal Prakarsa, Lafarge Holcim Indonesia, Semen Bosowa, Semen Baturaja (BUMN), Semen Kupang (BUMN), dan Semen Puger. Dalam tempo sekitar 5 tahun terakhir telah menyerbu ke pasar semen nasional sebanyak 8 pabrikan baru, dengan tawaran harga sangat kompetitif.

Sekalipun 3 pabrikan besar bisnis semen Indonesia adalah pemain lama, mereka menghadapi gempuran dan tantangan tak ringan di era pasar bebas bisnis semen di Tanah Air, terutama dalam perspektif harga jual.

Dari sisi desain kapasitas produksi, Semen Indonesia Grup, Indocement Tunggal Prakarsa, dan Lafarge Holcim Indonesia menguasai sekitar 73-74% dari produksi semen di Tanah Air. Ketiga korporasi semen ini memiliki desain kapasitas produksi sebesar 76,5 juta ton per tahun. Sisanya sebesar 30,9 juta ton dikuasai 12 pabrikan semen lain.

Tapi, para pemain baru bisnis semen di Indonesia tersebut mampu melempar harga produknya di pasar jauh di bawah harga pasar yang selama ini berlaku. Sehingga persaingan bisnis semen di Indonesia yang beraras pada level harga berdampak pada turunnya margin yang diterima produsen maupun trader di lini pertama, kedua, dan ketiga.

Kini, karakter market bisnis semen di Indonesia benar-benar bersifat pasar persaingan sempurna, yang ditandai dengan sejumlah karakteristik: Pembeli dan penjual dalam jumlah yang sangat banyak; Produk, baik barang dan jasa, yang diperjualbelikan bersifat sejenis (homogen); Untuk penjual dan pembeli memiliki kebebasan untuk keluar dan masuk dalam pasar; Tak pernah ditemui hambatan pada mobilitas sumber ekonomi dari satu usaha dengan usaha yang lain; Harga yang ada cenderung stabil meskipun jumlah produk yang terjual mengalami sebuah perubahan; Penjual dan pembeli masing-masing mengetahui dan memahami tentang harga dan keadaan pasar secara keseluruhan dan sempurna; Dan penjual dan pembeli bebas mengadakan perjanjian ataupun transaksi tanpa harus ada campur tangan pemerintah. [air/bersambung]

Tag : semen gresik, semen indonesia

Berita Terkait

Komentar

Kanal Ekonomi