SI Terus Bertahan di Tengah Gempuran Semen Asing

Minggu, 10 Juni 2018 15:40:08
Reporter : Ainur Rohim
SI Terus Bertahan di Tengah Gempuran Semen Asing
Kawasan pabrik Semen Indonesia di Tuban.

Surabaya (beritajatim.com)--Manajemen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk terus bekerja keras untuk mempertahankan diri di tengah kuatnya gempuran produk semen pabrikan asing di pasar nasional.

"Tahun 2015 sampai 2022 menjadi tahun sangat berat bagi industri semen nasional, termasuk Semen Indonesia," kata Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia (SI), Agung Wiharto kepada wartawan di Surabaya beberapa hari lalu.

Kendati market share SI di pasar semen nasional tetap tinggi, di kisaran 42%, namun profit bersih perusahaan terus menurun akibat penurunan harga semen di pasaran.

Pada 2017 lalu, tingkat profit bersih korporasi sekitar Rp 2 triliun. Padahal perusahaan ini tahun 2013 sempat membukukan keuntungan bersih Rp 5,37 triliun.

Besaran keuntungan SI pada akhir 2013 sebesar Rp 5,37 triliun atau meningkat 10,8 persen jika dibanding periode yang sama akhir 2012 sebesar Rp 4,84 triliun. Laba bersih itu setara dengan Rp 905 per saham dasar meningkat dari Rp 817 pada akhir 2012.

Dari sisi pendapatan, perseroan berhasil mencatat sebesar Rp 24,5 triliun, tumbuh 25 persen dibanding tahun sebelumnya Rp 19,5 triliun. Total volume penjualan pada tahun tersebut sebesar 27,81 juta ton, meningkat 27 persen dibanding 2012 yang mencapai 21,9 juta ton.

"Tahun 2017 lalu, harga semen turun 9% dibandingkan dengan periode 2016," tambah Agung. Tahun 2016 harga semen per ton mencapai USD 800, sedang tahun 2017 turun ke level USD 730 per ton.

Penurunan harga semen secara signifikan dalam 3 tahun terakhir dan kemungkinan besar berlanjut pada tahun 2018 ini, karena banyaknya pemain semen besar masuk ke Indonesia.

"Tiga pabrikan semen besar di dunia melemparkan produknya ke pasar Indonesia," jelas Agung. Satu di antaranya pabrikan semen dari China, Anhui Conch. Korporasi semen dari negeri tirai bambu ini menargetkan beberapa tahun ke depan, tingkat kapasitas produksinya mencapai 14 juta ton. Mereka memiliki pabrik di Banten, Kalimantan, dan merencanakan pembangunan pabrik semen di Papua.

"Saat ini pasar semen nasional terjadi oversupply sekitar 40 juta ton," kata Agung. Pada tahun 2017 lalu, tingkat konsumsi semen nasional mencapai 66 juta ton, sedang tingkat kapasitas produk semen dari seluruh pabrikan di Indonesia mencapai 107 juta ton. Karena itu, tingkat utilisasi pabrikan semen di Indonesia kini menurun di level 63%. "Tapi, pabrik Semen Indonesia tingkat utilisasinya masih di angka 83%," ungkapnya.

"Selain itu, tingkat konsumsi semen per kapita per tahun di Indonesia masih rendah, yakni 262 kilogram. Bandingkan dengan China dengan 1.648 kilogram/kapita/tahun. Kita masih kalah dengan Vietnam, Malaysia, dan Thailand," tegas Agung. [air]

Tag : semen gresik, semen indonesia

Berita Terkait

Komentar

Kanal Ekonomi