Soal Harga Bawang Merah, Bulog Tunggu Kebijakan Pembelian

Senin, 15 Januari 2018 09:57:47
Reporter : Nanang Masyhari
Soal Harga Bawang Merah, Bulog Tunggu Kebijakan Pembelian

Nganjuk (beritajatim.com) – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Sub Divisi Regional (Divre) Kediri mulai merespon anjloknya harga bawang merah di tingkat petani dan pasaran di Kabupaten Nganjuk. Akan tetapi, lembaga pangan milik pemerintah ini belum dapat melakukan penyerapan hasil produksi, karena menunggu kebijakan dari instansi diatasnya.
 
"Akan kita laporkan ke pimpinan terlebih dahulu berkaitan dengan rendahnya harga bawang merah ini. Kalau ada perintah penyerapan, tentu akan kita lakukan pembelian secepatnya," kata Kepala Perum Bulog Sub Divre Kediri, Akhmad Kholisun kepada beritajatim.com, Senin (15/1/2018).
 
Penyerapan bawang merah pernah dilakukan Perum Bulog Sub Divre Kediri, pada 2017 kemarin. Pembelian hasil produksi dari petani ini mencapai 12 ton. Seperti tahun ini, saat itu harga bawang merah juga rendah. Sehingga Kementerian Perdagangan RI dan Kementerian Pertanian mengambil kebijakan untuk menyerap produksi bawang merah.
 
"Seperti tahun kemarin, apabila sudah ada perintah penyerapan, akan kita lakukan pembelian bawang merah. Kemudian kita distribusikan ke Sub Divre lain di Jawa Timur agar disalurkan kepada masyarakat. Tujuannya supaya harga tidak lebih rendah lagi," kata Kholisun.
 
Diakui Kholisun, penyerapan bawang merah tidaklah mudah. Selain harus menunggu keputusan instansi diatasnya, Bulog Sub Divre Kediri juga belum memiliki tempat penyimpanan yang modern. Akibatnya, bawang merah yang disimpan ditempat manual, beratnya mudah merosot.

"Apabila bawang merah kita simpan di tempat yang manual penurunan beratnya mencapai 8-10 persen per bulan. Bahkan, bisa sampai 12 persen, tergantung dengan kondisi barang saat kita serap. Tetapi kalau pakai penyimpanan modern, penurunan beratnya 3,5 persen saja. Disini belum punya alat penyimpanan yang modern. Oleh karena itu, apabila kita lakukan penyerapan, harus cepat didistribusikan," jelas Kholisun.
 
Ditanya apakah pemerintah bisa menetapkan harga minimum bawang merah untuk melindungi petani dari kerugian, Kholisun menjawab bawah merah tidak memiliki HET (harga eceran tertinggi). Tetapi, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan pernah menerbitkan harga pembelian, namun sifatnya insidental.
 
Diberitakan sebelumnya, para petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk minta Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) segera melakukan penyerapan. Penurunan harga bawang merah secara drastis di tingkat petani hingga Rp 5-6 ribu per kilogram (kg) membuat mereka merugi.
 
"Seharusnya pemerintah sudah ambil tindakan pembelian. Karena harga bawang merah di pasaran sangat rendah, tidak sebanding dengan harga pokok produksi (HPP)," kata Ketua Asosiasi Bawang Merah Jawa Timur, Akad. [nng/suf]

Tag : bawang merah

Berita Terkait

Komentar

Kanal Ekonomi