Harga Terjun Bebas, Petani Bawang Merah Nganjuk Menangis

Minggu, 14 Januari 2018 12:17:20
Reporter : Nanang Masyhari
Harga Terjun Bebas, Petani Bawang Merah Nganjuk Menangis

Nganjuk (beritajatim.com) – Meskipun musim panen, tetapi para petani bawang merah di Kabupaten Kediri justru menangis. Harapan mereka untuk mendapatkan untung tinggi pupus, karena harga bawang merah justru turun drastis.
 
Hermawan (35) petani di Dusun Ngrandu, Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso mengatakan, harga bawang merah turun dikisaran Rp 6 ribu per kilogram. “Pengepul hanya berani membeli dengan harga Rp 6 ribu per kg. Kami belum bisa melepasnya, karena tidak sebanding dengan biaya operasional yang sudah keluar,” keluh Hermawan, Senin (14/1/2018).
 
Menurut pria yang juga menjabat sebagai perangkat di Desa Mlorah ini, petani bawang merah seakan menangis, meskipun saat ini memasuki musim panen. Terlebih bagi mereka yang hasil panennya buruk akibat pengaruh cuaca maupun serangan hama penyakit ulat daun.
 
“Alhamdulillah produktifitas bawang merah kami di musim panen ini dapat terbilang bagus. Dari lahan setengah bahu, bisa menghasilkan bawang merah kurang lebih dua ton. Tetapi pengepul hanya mampu membeli dengan harga Rp 6 ribu per kg. Jauh dibawah harga sebelum-sebelumnya,” ungkap pria bertubuh agak tambun ini.
 
Menurutnya, petani baru bisa menikmati hasil panen apabila harga bawang merah dikisaran Rp 10 ribu per kg. Sebab, biaya operasional menanam bawang merah cukup tinggi. Seperti yang dialami Hermawan ini, dalam satu musim tanam hingga panen setidaknya dia butuh dana Rp 7- 8 juta. Biaya meliputi, upah menggarap lahan, pembelian bibit, upah tanam, pembelian pupuk, pestisida untuk hama penakit, masa panen, penjemuran, ombyong hingga pemotongan bawang.
 
“Untuk menanam bawang merah ini setiap tahapan butuh uang. Karena tidak bisa dikerjakan sendiri. Sehingga, petani menangis apabila harganya rendah,” imbuhnya. Hermawan terpaksa menahan terlebih dahulu bawang merahnya. Dia masih melihat harga pasar. Harapannya, harga bisa meningkat agar tidak merugi banyak.
 
Tahun 2017 hingga memasuki masa panen awal tahun ini petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk memang mendapatkan banyak ujian. Sebelumnya, mereka harus berperang dengan ulat yang menyerang tanaman bawang merah. Akibatnya, banyak petani yang memanen bawangnya lebih awal.
 
Tidak hanya itu, mayoritas bawang merah juga kerdil akibat diserang ulat. Ternyata, setelah panen mereka harus menghadapi harga yang terus merosot. akibat mulai melimpahnya pasokan.
 
Terpisah, Masinah (65) salah satu pengepul di Desa Campur, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk mengatakan, harga bawang merah memang terus merosot. Penurunan harga bawang merah ini terjadi sejak masa panen dimlai hingga saat ini. Harga bawang merah di pasaran berkisar Rp 6-7 ribu per kg.
 
“Saat ini dimana-mana sedang terjadi panen raya bawang merah. Stok bawang melimpah dan harganya rendah. Panen di Kabupaten Nganjuk ini bersamaan dengan daerah di Jawa Tengah seperti Brebes dan juga Demak. Disanapun harganya juga sama,” kata Masinah.
 
Dia menambahkan. harga bawang merah bisa terus turun jika pasokan melimpah. Sedangkan permintaan tidak sebesar pasokan yang tersedia saat panen. Pasokan tinggi inilah yang menurut Masinah membuat harga merosot.
 
Sebagaimana diketahui, Kabupaten Nganjuk merupakan penghasil bawang merah terbesar di Jawa Timur. Banyak petani yang memilih membudidayakan bawang merah ketimbang padi ataupun palawija, khususnya petani di Kecamatan Rejoso dan Gondang.

Di musim panen seperti sekarang ini, hampir di setiap rumah warga dijumpai bawang merah yang sedang dijemur ataupun dibersihkan dari daun keringnya. Begitu juga di sawah-sawah, petani tengah sibuk memanen bawang merah. [nng/but]

Tag : bawang merah

Berita Terkait

Kanal Ekonomi