Jelang Tutup Tahun, PG Jamin Pasokan Pupuk Bersubsidi 4 Kali Lebih Banyak

Kamis, 07 Desember 2017 16:11:46
Reporter : Deni Ali Setiono
Jelang Tutup Tahun, PG Jamin Pasokan Pupuk Bersubsidi 4 Kali Lebih Banyak

Gresik (beritajatim.com) - Menjelang tutup tahun 2017, produsen pupuk terlengkap PT Petrokimia Gresik (PG) menjamin pasokan pupuk bersubsidi empat kali lebih banyak, atau sebesar 955.905 ton. Angka tersebut, lebih banyak dibanding ketentuan minimum yang ditentukan pemerintah sebanyak 367.497 ton.

Hingga saat ini, produsen pupuk yang ber-home based di Gresik itu terus menambah pasokan pupuk bersubsidi mulai dari lini I hingga IV, atau gudang produsen hingga gudang distributor sampai kios.

Berdasarkan alokasinya, pupuk bersubsidi secara nasional tahun 2017 sebesar 9,55 juta ton. Dari jumlah tersebut PG mendapat alokasi sebesar 4,93 juta ton, atau 51 persen dari alokasi nasional. Sedangkan dari 4,93 juta ton itu, PG telah menyalurkan 4,48 juta ton, atau 91 persen dari alokasi yang diberikan kepada PG.

Sekretaris Perusahaan PT Petrokimia Gresik (PG) Yusuf Wibisono mengatakan, dalam penyaluran pupuk bersubsidi perusahaannya berpedoman pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan), SK Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota Madya.

"Kami mendistribusikan pupuk bersubsidi berpegang teguh pada prinsip 6 tepat. Yakni, tepat tempat, tempat harga, tepat jumlah, tepat mutu, tepat jenis, dan tepat waktu," katanya, Kamis (7/12/2017).

Yusuf Wibisono menambahkan, untuk mendukung penyaluran pupuk subsidi tersebut. Pihaknya secara maksimal telah mengerahkan 77 staf perwakilan daerah penjualan (SPDP), 323 asisten SPDP, 305 gudang penyangga dengan kapasitas total 1,4 juta ton, 652 distributor, dan 28.228 kios resmi yang tersebar di seluruh nusantara. PG siap memastikan penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan prinsip 6 tepat," tambahnya.

Yusuf memaparkan sejumlah kendala yang sering ditemui di lapangan, diantaranya adalah bahwa menjelang akhir tahun. Alokasi pupuk bersubsidi di daerah telah habis. Sehingga, perusahaan bersama dinas pertanian setempat berusaha merealokasi pupuk bersubsidi, baik antar tempat maupun waktu.

"Relokasi ini ditindaklanjuti dengan terbitnya surat keputusan dari dinas provinsi atau kabupaten yang menjadi dasar bagi perusahaan dalam merelokasi pupuk bersubsidi," ujarnya.

Kendala lain lanjut Yusuf, adalah bahwa kebutuhan pupuk lebih besar daripada alokasi pupuk bersubsidi yang sudah ditetapkan. Sehingga, terdapat gap kebutuhan pupuk yang tidak terpenuhi. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan menyediakan pupuk nonsubsidi di kios-kios resmi.

Selain itu kata dia, masih terdapat petani yang belum tergabung dalam kelompok tani dan membuat Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Padahal, berdasarkan aturan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi petani wajib tergabung dalam kelompok tani dan membuat RDKK.

"Kami menghimbau kepada petani agar tergabung dalam kelompok tani dan mengajukan RDKK. Untuk teknisnya dapat menghubungi dinas pertanian setempat," ungkapnya.

Dari segi pemupukan, masih terdapat petani yang menggunakan pupuk secara berlebihan dengan, sehingga serapan pupuk menjadi tinggi, namun kurang efisien. Padahal, perusahaan merekomendasi pemupukan berimbang 5:3:2, yaitu 500 kg/ha pupuk organik Petroganik, 300 kg/ha pupuk NPK Phonska, dan 200 kg/ha pupuk Urea.

"Kami terus mensosialisasikan pemupukan berimbang kepada petani. Karena sudah terbukti melalui serangkaian demonstration plot di berbagai daerah. Hasilnya, pemupukan berimbang minimal dapat meningkatkan panen 1-2 ton per hektar," tandas Yusuf.

Saat ditanya mengenai pengawasan. Dijelaskan Yusuf,  perusahaannya melalui petugas SPDP meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait. Mulai dari distributor, Dinas Pertanian, Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3), Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), TNI, dan aparat penegak hukum. Masyarakat juga dapat turut serta mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi. "Jika masyarakat menemukan penyelewengan maupun peredaran pupuk palsu, langsung saja laporkan ke pihak berwajib," papar Yusuf. [dny/kun]

Tag : pupuk

Berita Terkait

Kanal Ekonomi