Kadin Jatim dan BKSP Perkuat Kerjasama dengan IHK Jerman

Kamis, 10 Agustus 2017 18:31:40
Reporter : Renni Susilawati
Kadin Jatim dan BKSP Perkuat Kerjasama dengan IHK Jerman

Surabaya (beritajatim.com) -  Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jawa Timur terus berupaya meningkatkan kompetensi dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Jawa Timur.

Hal ini dilakukan agar tenaga kerja di Jatim bisa bersaing dengan tenaga kerja luar Jatim atau bahkan tenaga kerja asing yang sudah mulai masuk ke Indonesia.

Bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, BKSP telah menjalin kerjasama  dengan berbagai pihak, salah satunya dengan Kadin Jerman atau  IHK Trier Jerman.

Ketua Umum Kadin Jatim, La Nyalla Mahmud Mattalitti mengatakan bahwa globalisasi dunia telah memaksa tenaga kerja Indonesia untuk lebih siap bersaing dalam dunia kerja.

Mereka tidak hanya dihadapkan pada ketatnya kualifikasi yang diinginkan industri, tetapi juga pada kondisi ketatnya persaingan kerja karena semakin banyaknya tenaga asing yang menyerbu Indonesia, termasuk di Jatim.

“Untuk itu, bekal keahlian harus dimiliki agar mereka bisa memenuhi persyaratan yang dibuat industri dan agar lebih bisa bersaing,” ujar La Nyalla Mahmud Mattalitti saat acara peningkatankerjasama antara BKSP, Kadin Jatim dan IHK Trier di Graha Kadin Jatim, Surabaya.

La Nyalla mengatakan, problem ketenaagkerjaan di  Indonesia saat ini diantaranya adalah tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah.

Struktur pendidikan angkatan kerja di Indonesia masih didominasi pendidikan dasar, yaitu sekitar 63,2 persen. Data BKSP Jatim menunjukkan tenaga kerja yang hanya lulusan Sekolah Dasar pada tahun 2017 mencapai 10,60 juta tenaga kerja atau lebih dari 50 persen dari jumlah angkatan kerja di Jatim yang mencapai sekitar 20,62 juta tenaga kerja .

Sementara yang lulus SLTP mencapai  3,54 juta tenaga kerja, lulus SLTA sebantak 2,71 juta tenaga kerja, SLTA Kejuruan 2,06 juta tenaga kerja dan lulusan Diploma serta universitas sebanyak 1,69 juta jiwa.

Dan pada tahun 2018, jumlah angkatan kerja diproyeksikan mencapai 20,78 juta jiwa dengan perincian, tenaga kerja lulusan  SD sebanyak 10,58 juta tenaga kerja, lulusan  SLTP sebanyak 3,53 juta tenaga kerja, lulusan SLTA sebanyak 2,74 jutatenaga kerja , SLTA Kejuruan sebanyak 2,14 juta tenaga kerja, dan Diploma serta Universitas sebesar 1,76 jutatenaga kerja. 

Padahal perusahaan membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi tinggi (knowladge, attitude, dan skill). Dengan rendahnya tingkat pendidikan tenaga kerja, maka perusahaan masih harus melatih ulang lulusan pendidikan formal.

“Menyikapi kondisi tersebut, Pemprov Jatim telah mencanangkan target peningkatan rasio tenaga kerja yang lulus dari SLTA Kejuruan akan semakin banyak. Pada tahun 2010, rasio tenaga kerja lulusan  SMA berbanding SMK  mencapai 46,52 berbanding  53,48, tahun 2015 naik menjadi 37,98 berbanding 62,02. Dan di  tahun 2019 arah kebijakan pemprov Jatim peningkatan rasio SMA berbanding SMK menjadi 30 berbanding 70,” terang Ketua BKSP Jatim, Adik Dwi Putranto.

Hal ini dilakukan agar industri bisa langsung menyerapnya. Tahun 2016, jumlah industry di Jatim mencapai sekitar 813.140 unit usaha yang terdiri dari Industri logam, mesin, tekstil dan aneka (ILMTA), industry agro, industry alat transportasi, elektronika, dan telematika dengan nilai investasi sebesar Rp 67,99 triliun dan dengan nilai produksi Rp 215,149 triliun. Jumlah tenaga kerja yang bisa terserap mencapai  3.163.511 tenaga kerja.

Untuk mencapai target rasio SMK sebesar 70 persen pada tahun 2019, BKSP sebagai lembaga yang dibentuk Pemprov Jatim untuk membina lembaga diklat dalam rangka menyiapkan SDM yang berkualitas global telah melakukan sosialisasi dan kerjasama atau sinergitas dengan berbagai lembaga.
Sosialisasi yang telah dilakukan diantaranya adalah sosialisasi kompetensi kerjasma BKSP dengan Disnakertransduk Jatim dalam menghadapi MEA 2015 diseluruh Jatim. Kerjasama dengan Biro Administrasi Pembangunan Jatim, Sosialisasi kompetensi dunia industry, sosialisasi kompetensi kerjasama BKSP   dengan Dinas Kominfo Jatim terkait daya saing SDM melalui kompetensi pada MEA 2015.

Selain itu, bersama Kadin Jatim dan Diknas Jatim, BKSP telah menjalin kerjasama dengan Kadin Jerman atau IHK Jerman untuk menerapkan metode pembelajaran dual system atau Sistem Ganda di seluruh SMK di Jatim.

Sistem Ganda  sebagai suatu bentuk yang dominan pada Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Jerman telah dikenal luas di dunia.  Sistem ini sudah secara tradional sejak 700 tahun yang lalu dan berakar pada permulaan abad pertengahan.  Seiring perjalalan waktu,  sistem ini telah berkembang secara mantap dan membawa perubahan pada masyarakat, ekonomi, dan teknologi tanpa kehilangan identitas sebagai suatu bentuk pelatihan yang paling sesuai dengan ekonomi dan pasar kerja.

“Kemapuannya untuk mengadopsi perubahan situasi merupakan alasan utama kesuksesan Sistem Ganda pada masa lalu, sekarang dan pada masa depan,” katanya.

Menurut Adik, tujuan utama Sistem Ganda adalah untuk menjamin secara berkelanjutan keterserapan tenaga kerja pada pasar kerja tertentu sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan individu dan kebutuhan Dunia Usaha serta Dunia Industri (DUDI).
Untuk memenuhi permintaan ini pendidikan dan pelatihan harus mengembangkan kualifikasi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan hasil kinerja secara independen.  Hal ini memerlukan pengembangan dan kombinasi fungsional, ekstra-fungsional, dan qualifikasi sosial.

“Struktur Sistem Ganda di Jerman dibatasi pada empat aspek, yaitu pemilahan tanggungjawab untuk pendidikan/pengajaran teori dan pelatihan praktik, pembagian waktu pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, pengorganisasi pendidikan dan pelatihan serta konsentrasi pada mata pelajaran utama dalam pembelajaran teori,” terangnya.

Selain sosialisasi dual system Jerman pada SMK se Jatim, BKSP dan IHK Trier juga telah melakukan singkronisasi kurikulum antara SMK dengan DUDI. Mendorong pembentukan kelompok mitra SMK-DUDI, melakukan  TOT yang diikuti SMK-DUDI, membuat buku program untuk memudahkan duplikasid serta melakukan duplikasi untuk implementasi dual  system seperti di Jerman.

“Untuk program selanjutnya di tahun 2018, kami menargetkan ada sekitar 30 SMK dan 30 Industri yang ikut mendukung program ini,” tambah Adik.

Sementara itu, Koordinator Program IHK Trier, Andreas Gosche berharap DUDI lebih aktif lagi dalam pelaksanaan program ini.

Tidak hanya dengan mengirimkan pelatih industri saja, tetapj juga ikut serta dalam pembahasan dan penentuan kurikulum yang akan dijadikan rujukan agar singkronisasi antara dunia oendidikan dan DUDI bisa terjalin. Dampam positif selanjutnya, DUDI tidak kesulitan lagi mencari tenaga kerja yang sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan.

“Ada tiga poin penting dalam keberhasilan paksanaan program vokasi sistem ganda ini, pertama pelaku harus profesional, baik pelaku imudaha dan industrk ataupun pelaku pendidikan. Kedua kurikulum harus diselaraskan dengan kebutuhan industrk dan ke tiga harus ada hubungan dan wadah dimana kedua pihak, dunia pendidikan dan dunia usaha serta industri bisa bertemu, dalam hal ini di Jatim sudah dibentuk Pokmi atau Kelompok Mitra yang selalu bertemu untuk menyelaraskan langkah,” pungkasnya.[rea/ted]

Tag : kadin jatim

Berita Terkait

Kanal Ekonomi