Dewan Energi Nasional Dorong Penggunaan Biomassa Pellet

Kamis, 14 April 2016 20:32:55
Reporter : Fahrizal Tito
Dewan Energi Nasional Dorong Penggunaan Biomassa Pellet
Anggota Dewan Energy Nasional Dwi Hary Soeryadi

Surabaya (beritajatim.com)  - Tingginya kebutuhan bahan bakar berbasis fosil untuk keperluan rumah tangga membuat penggunaan energi baru terbarukan secara massif perlu segera dilakukan.

Anggota Dewan Energi Nasional, Dwi Hary Soeryadi mengatakan penggunaan bahan bakar untuk keperluan sehari-hari seperti memasak dengan menggunakan elpiji dan minyak tanah terus meningkat, sementara energi seperti itu makin berkurang dan tidak bisa diperbarui.

"Karenanya penggunaan energi alternatif seperti biomassa dengan pellet energi harus segera disosialisasikan dan pemanfaatannya bisa segera direalisasikan," katanya di sela sosialisasi dan Survei Potensi Pasar Gassifikasi Biomassa berbasis Pallet Energi di Kelurahan Manukan Wetan Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, Kamis (14/4/2016).

Dalam sosialisasi tersebut, warga masyarakat diperkenalkan penggunaan bahan bakar alternatif untuk kebutuhan sehari-hari berbasis pellet energi. Pellet energi merupakan bahan bakar yang merasal dari berbagai bahan bekas seperti serbuk gergaji kayu, sekam padi dan lainnya.

Dalam aplikasinya, penggunaan pallet energi ini membutuhkan kompor khusus untuk bisa digunakan memasak.

Penggunaan pallet energi ini sendiri memberikan beberapa keuntungan di bandingkan bahan bakar lain, diantara lebih hemat karena bahan bakarnya murah, lebih sehat karena tidak menimbulkan asap, bahan baku untuk palet energi juga melimpah, dan penggunaan energi ini lebih aman karena tidak ada resiko meledak.

Dwi menambahkan, pihaknya akan terus berkoordinasi dan mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan energi baru terbarukan termasuk biomassa. Dengan demikian diharapkan target bauran energi dalam jangka panjang bisa tercapai.

Sementara itu, Ketua RT 04 RW 01 Kelurahan Manukan Wetan, Kecamatan Tandes, Didik Kurniawan, mengatakan sejak dikenalkan 2 minggu lalu, warga tampak cukup antusias dengan penggunaan energi baru terbarukan ini.

"Beberapa warga yang sudah mencoba mengatakan cukup antusias dengan energi jenis baru ini. Namun sebelum menggunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga juga meminta kepastian ketersediaan pasokan bahan bakar," ujarnya.

Ia berharap jika penggunaan pellet energi ini sudah massif, maka bisa menjadi alternatif atau bahkan substitusi untuk jenis bahan bakar lain seperti elpiji, kayu bakar atau minyak tanah. Namun Didik juga menegaskan program ini harus berkelanjutan, baik dari sisi sosiaslisasi dan dukungan pemerintah maupun ketersediaan pasoka bahan baku di pasaran sehingga nantinya cita-cita diversivikasi energi bisa tercapai.

Salah seorang warga, Ny Kasijo menambahkan dirinya tertarik menggunakan bahan bakar jenis baru ini. Selama ini ia masih menggunakan bahan bakar kayu untuk kebutuhan memasak setiap hari.
Pun halnya dengan Anton, warga lain yang selama ini menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak.

"Saya trauma jika menggunakan gas untuk memasak, karenanya selama ini memilih menggunakan minyak tanah. Dengan adanya bahan bakar alternatif ini sepertinya cukup menarik karena harganya yang jauh lebih murah," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim, Dewi J Putriatni, mengatakan pellet energi untuk bahan bakar sebenarnya sudah pernah diujicobakan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahkan kompor untuk pellet ini juga sudah diproduksi secara massal oleh Uni versitas Brawijaya (UB) Malang. Meski demikian, program percontohan dari  pemerintah pusat ini nilai keekonomiannya kurang menarik dan juga suplainya kurang berkelanjutan.

"Harus diatur regulasinya oleh pemerintah pusat sehingga antara energi satu dan lainnya akan saling mengisi. Dengan demikian program diversivikasi bisa berjalan dengan lebih baik," katanya.

Ditambahkan Dewi, kurangnya minat masyarakat menggunakan energi baru terbarukan seperti pallet energi ini disebabkan masih murahnya harga gas elpiji yang mendapat subsidi dari pemerintah. (gil/ted)

Tag : biomassa, energy baru

Berita Terkait

Komentar

Kanal Ekonomi