Gowes Jawa-Bali
Delapan Tuna Rungu Menggelinding di Jalan Raya
 

22 Februari 2012 23:58:43 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono

Jombang (beritajatim.com) - Keterbatasan fisik tak membuat delapan orang tuna rungu asal Bandung Jawa Barat patah semangat. Mereka menempuh perjalanan dengan sepeda angin dari ibukota Jakarta menuju Pulau Dewata Bali. Bagaimana kisahnya?

Telapak kaki Rico Milano (41) terus mengayuh pedal sepedanya. Roda sepeda warna putih itu beradu dengan aspal jalan. Sesekali roda itu menghantam jalanan yang bergelombang. Jika sudah demikian, pria asal Bandung ini buru-buru menarik rem untuk memperlambat laju kendaraan tersebut. Rico tidak sendiri. Di belakangnya tujuh orang mengikuti. Ya, delapan orang itu merupakan komunitas Tuna Rungu Bersepeda (TRB) Bandung yang sedang bertualang.

Rico tersenyum lebar ketika roda sepedanya menggelinding ke halaman kantor PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jombang. Dengan begitu ia dan kawan-kawannya bisa melepas lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Kota Kembang ke Kota Santri. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Bali. "Kita sampai di kantor PWI Rabu sore. Rencananya hari ini kita melanjutkan perjalanan lagi," kata Rico dengan menggunakan bahasa isyarat, Kamis (23/2/2012).

Sembari melepas lelah, Rico berkisah, perjalanan yang ia beri nama 'Tour Jawa-Bali' itu dimulai pada 14 Pebruari 2012 lalu. Dia dan tujuh rekannya menargetkan sampai Pulau Dewata 3 Maret 2012. Rute yang ditempuh meliputi Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Magelang, Yogyakarta, dan Solo. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Ngawi, Madiun, Jombang. Usai dari Jombang, rute disambung ke Surabaya, Pasuruan, probolinggo, Banyuwangi, Ketapang, dan berakhir di Bali.

Sebenarnya, kata Rico, tour tersebut diikuti sembilan personel. Hanya saja, satu anggota bernama Yunara berhalangan. Praktis, hanya delapan orang saja yang menggowes menuju pulau dewata. Mereka adalah Rahma Anggraini (31), Wahyu Fitrianto (28), Siswandi (25), Alriyanto (29), Oyi Sukandar (38), Ishak Santika (19), dan Sansan Sanjaya (50). Dalam tour tersebut Rico didapuk sebagai ketua rombongan.

Meski terbilang lancar, namun bukan berarti perjalanan penyandang bisu-tuli ini bebas dari halangan. Rico dan kawan-kawan berkali-kali mengalami ban pecah dan rantai putus. Walhasil, berkat kolektivitas, kendala tersebut mudah teratasi. Bahkan, ketika menambah angin ban, mereka kerap diberi gratisan oleh penjual jasa angin yang ada di pinggir jalan. "Saat berada di Pekalongan, kami mengalami pecah ban," kata Rico sembari menunjukkan catatannya guna memudahkan wawancara.

Dalam catatan terbungkus map itu disebutkan, tour Jawa-Bali tersebut merupakan kelanjutan dari perjalanan suami-istri penyandang tuna rungu, Rahma-Yunara, yang sukses menempuh rute Sabang sampai Merauke pada 2010 lalu. Delapan pengayuh sepeda ini juga ingin menunjukkan eksistensi kelompoknya. Yakni, meski menyandang keterbatasan fisik, namun mereka tidak bisa dianggap remeh. "Ini cara kami mencintai Indonesia," tulisnya.

Dari perjalanan ratusan kilometer yang ia tempuh, Rico menyesalkan kurang ramahnya jalan raya terhadap pengguna sepeda. Hal itu terutama ketika rombongan ini berpapasan atau didahului oleh kendaraan-kendaraan besar. Apalagi komunitas yang dipimpin pria kelahiran Bandar Lampung ini mengandalkan indera yang tak lengkap. Tak jarang mereka terpaksa menepi ke jalan tanah untuk menghindari celaka.

Bisa dibilang, hambatan di jalan raya menjadi tiga kali lipat berbahaya bagi mereka. Sebab, seluruh anggota tim merupakan penyandang bisu-tuli. "Kami bersyukur selama perjalanan tidak ada kendala berarti. Namun sekali lagi, jalan raya belum ramah bagi pengguna sepeda," ujar Rico yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua TRB Bandung. [suf/kun]

KOMENTAR ANDA Posting Komentar 
0 Komentar
   Berita Terkait : TUNA RUNGU,SEPEDA