Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
Zonder Dana Pemerintah, Biayai Penelitian Rp 30 M

23 Februari 2012 09:05:44 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan

Jember (beritajatim.com) - Bangsa Indonesia saatnya menghargai penelitian. Lembaga penelitian perlu membiayai dirinya sendiri melalui hasil penelitian yang aplikatif.

Ketua Kelompok Pasca Panen Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Misnawi, mengatakan, selama ini lembaganya membiayai sendiri penelitian-penelitian agar bisa bertahan hidup. "Satu tahun, anggaran Puslit untuk penelitian bisa mencapai Rp 30 miliar. Kami tidak dapat dana pemerintah," katanya.

Puslitkoka memiliki dua bidang, yakni bisnis dan penelitian. Sejumlah hasil riset menghasilkan teknologi aplikatif yang bisa dikomersialkan. "Jadi kalau ada bibit dijual di sini dengan harga tinggi, orang mengeluh kok mahal, itu namanya tidak menghargai. Research and Development adalah bagian dari ongkos produksi. Di Indonesia, itu tidak pernah dihitung," kata Misnawi.

Kendati memperhatikan aspek komersial, Puslitkoka tidak membabibuta. Puslitkoka tidak menarik royalti untuk setiap pohon kakao yang ditanam dengan bahan tanam klon ciptaan lembaga tersebut. Ada unsur sosial yang masih ditanggung oleh Puslitkoka sebagai badan usaha milik negara.

Target pemerintah Indonesia adalah produksi satu juta ton kakao pada 2015, untuk menyaingi Pantai Gading dan Ghana yang menjadi produsen terbesar kakao dunia. Tahun 2012 ini, targetnya 800 ribu ton. [wir]

KOMENTAR ANDA Posting Komentar 
0 Komentar
   Berita Terkait : KAKAO