Di Wilayah Produksi

Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field Paparkan Kajian Gas H2S

Kamis, 13 Desember 2018 02:18:38
Reporter : Tulus Adarrma
Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field Paparkan Kajian Gas H2S

Bojonegoro (beritajatim.com) - Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field sebagai operator lapangan Blok Tuban memaparkan kajian tentang H2S dan flammable gas (gas mudah terbakar) bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Bojonegoro, serta pemerintah desa ring satu, Rabu (12/12/2018).

Kajian tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Teknik, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Sumardi. Dia menjelaskan, kajian paparan H2S dan flammable gas yang ada di Pad B sebagai dasar pertimbangan bagi pemerintah dan Kementrian Lingkungan dan Kehutanan untuk mengeluarkan izin Amdal terkait dengan rencana pengeboran sumur injeksi.

Selain itu, untuk mengidentifikasi \'harzadous area\' dan berbagai pencegahan yang harus dilakukan oleh Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field saat mengerjakan proses pengeboran sumur injeksi. Pria 50 tahun ini menjelaskan, seandainya terjadi kebocoran gas dari mulut sumur saat produksi, tidak semuanya gas yang keluar adalah H2S. Pun keluar, jumlah gas H2S hanya 132 gram per menit.

Menurut dia, konsentrasi gas H2S yang memberikan dampak pada manusia adalah di atas 1 ppm (part per million). Kalau masih di bawah itu, dampaknya tidak seberapa. Sementara, dari pengukuran yang dilakukan operator saat terjadi kebocoran gas, H2S yang keluar adalah 0,6 ppm. \"Yang terjadi selama ini, gas dari mulut sumur tidak semuanya H2S. Kalaupun ada, dibawah 1 ppm,\" katanya.

Meski demikian, Sumardi merekomendasikan kepada Pertamina EP agar membentuk tim dalam hal emergency. Sebab, kata dia, lapangan Sukowati sendiri lokasinya dekat dengan rumah sakit. Secara psikologis masyarakat dengan pasien yang menderita sakit itu berbeda. Kalau masyarakat masih bisa mencium bau tanpa ada resiko kesehatan yang dialami.

Beda dengan pasien, karena sudah sakit apabila mencium bau khas dari H2S, pasti akan marah dan timbul kepanikan. \"Oleh sebab itu, kami merekomendasikan agar Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field ini membentuk tim dalam hal emergency,\" tukasnya.

Selain itu, juga harus ada pemasangan alarm untuk mendeteksi keberadaan H2S di setiap sudut tembok RSUD Sosodoro Djatikusumo agar ada tindakan SOP jika memang terjadi kebocoran gas diatas 1 ppm. Juga, menyiapkan semprotan air agar gas yang keluar larut dalam air tersebut dan tidak sampai menyebar ke udara. \"Jadi, jangan terlalu panik jika ada kebocoran gas,\" imbuhnya.

Kepala DLH, Nurul Azizah, mengapresiasi langkah Pertamina EP Asset 4 Sukowati Field yang memberikan paparan terkait H2S. Hal ini menjawab keresahan warga terutama keberadaan RSUD yang berjarak hanya 200 meter dari Pad B. \"Kami akan tindaklanjuti pertemuan ini, seperti harus membentuk tim emergency jika memang ada kebocoran gas yang membahayakan warga dan pasien di rumah sakit,\" ungkapnya.

Sementara, HSSE Sukowati Field, Jason Purba mengatakan bencana yang ada di Lapangan Sukowati selama ini bukanlah bencana nasional, hanya saja apabila ada pembentukan tim penanganan bencana maka pihaknya akan mendukung di dalamnya. \"Nanti bentuknya seperti apa, masih dikoordinasikan,\" tandasnya.

Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga sebagai pemberitahuan atas kegiatan yang dilakukan Pertamina EP Asset 4 Field Cepu pasca alih kelola Maret 2018 lalu dari Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ). Salah satunya pengeboran di Pad B, ini kedepannya seperti apa dan bagaimana.

\"Jadi, nanti akan kita bahas lagi adanya wacana pembentukan tim emergency, pelaksanaan penghijauan, CSR, dan lain sebagainya,\" katanya. [lus/suf]

Tag : pertamina ep

Berita Terkait

Komentar

Kanal Berita Migas