Yang Luar Biasa HUT RI ke-73 di Kapal Karapan Armada Sterling III

Sabtu, 18 Agustus 2018 15:33:56
Reporter : Ibnu F Wibowo
Yang Luar Biasa HUT RI ke-73 di Kapal Karapan Armada Sterling III
SKK Migas Jabanusa dan HCML rayakan HUT RI ke-73 di Kapal Armada Sterling III.

Upacara bendera di bawah laut? Sudah beberapa kali dilakukan di Indonesia. Upacara bendera di kapal perang? TNI Angkatan Laut sudah tentu sering melakukan hal itu.

Bagaimana dengan upacara bendera di kapal yang berfungsi sebagai Floating Production Storage and Offloading (FPSO) dari lapangan BD offshore migas? Tentu jarang sekali terdengar di telinga masyarakat Indonesia.

Jumat (17/8/2018), Husky-CNOOC Madura Ltd (HCML) sebagai pengelola Blok Madura Strait melakukan Upacara HUT ke-73 Republik Indonesia di atas Kapal Armada Sterling III. Kapal itu berfungsi sebagai Production Storage and Offloading (FPSO) dari lapangan BD offshore dari gas yang berhasil diproduksi HCML di Blok Madura Strait.

Tidak sendirian, HCML menggandeng SKK Migas selaku regulator industri migas nasional untuk turut serta di acara yang sangat istimewa itu. Kepala SKK Migas Jabanusa, Ali Masyhar turun langsung untuk memimpin sebagai Inspektur Upacara bagi 70-an awak Kapal Karapan Armada Sterling III.

Tidak Mudah Menuju ke Sana

Untuk menuju ke lokasi kapal bukanlah perkara yang mudah. Kurang lebih 3 jam perjalanan harus ditempuh dari Kota Surabaya agar bisa sampai ke Kabupaten Sampang, lokasi shorebase dari HCML.

Di lokasi shorebase, setiap orang yang akan menuju ke Kapal Karapan Armada Sterling III diperiksa secara menyeluruh. Tidak ada pengecualian, baik awak media hingga Kepala SKK Migas Jabanusa sekali pun. Disana, pemeriksaan mulai dari tujuan berkunjung, kondisi kesehatan hingga barang bawaan akan diperiksa.

Jika tengah mengidap penyakit yang dianggap berbahaya, maka besar atau tidak memiliki alasan berkunjung yang jelas, maka Anda tidak akan dapat melanjutkan perjalanan. Begitu juga dengan barang bawaan terlarang, seperti korek api, obat-obatan terlarang, maupun senjata.

"Ini demi keselamatan seluruh awak kapal yang ada di tengah laut sana. Setiap panel yang ada sangat sensitif. Jadi, pemeriksaan harus dilakukan dengan sangat detail agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan," kata Shorebase Superintendant HCML Bimo Aryo, Kamis (16/8/2018).

Usai melakukan berbagai macam tahapan pemeriksaan di shorebase, maka satu lembar boarding pass akan didapatkan. Kemudian perjalanan harus berlanjut selama lebih kurang 30 menit menuju Pelabuhan Branta, Kabupaten Pamekasan. Lantas, mereka yang hendak berkunjung atau bekerja di Kapal Karapan Armada Sterling III akan berpindah moda transportasi menggunakan utility boat yang siap mengantar ke lokasi. Lama waktu yang harus ditempuh kira-kira sekitar 1 jam.

Apabila Anda berada di atas boat ketika waktu matahari terbenam dengan kombinasi cuaca yang cerah, maka beruntunglah. Suasana matahari terbenam dihiasi pemandangan Pulau Kambing dari kejauhan akan senantiasa menunggu Anda.

"Kalau perjalanan pagi, bisa lihat matahari terbit. Kalau sore, matahari terbenamnya juga luar biasa. Meski kalau siang, ya agak panas dan berangin," kata Donald Rakiraung, Kapten Kapal SMS Prestige yang menjadi salah satu utility boat.

Benar saja, jika ombak dan angin sedang tidak bersahabat, maka Anda yang tidak terbiasa harus siap-siap mual dan merasakan mabuk laut. "Kalau di darat, orang cari-cari itu pusing (akibat mabuk) maka di sini bisa dapat sepuasnya dan gratis," kata Kapten Donald yang asli Lampung sambil terkekeh.

Setibanya di lokasi, untuk bisa masuk ke Kapal Karapan Armada Sterling pun juga tidak mudah. Karena ukuran yang kapal yang sangat besar lagi tinggi, maka setiap orang yang akan datang dan pergi diharuskan dengan menggunakan beberapa cara. Salah satunya adalah dengan rope basket.

Bayangkan sebuah kerucut dengan sisi-sisi yang berupa jalinan tali. Setiap orang harus berpegangan di tali-tali itu di sisi luar. Sangat tidak disarankan bagi Anda pengidap vertigo atau yang takut ketinggian.

"Rasanya kayak main paralayang, kalau angin kenceng luar biasa goyang-goyangnya. Kalau anginnya lagi santai, ya enak. Tapi kalau pertama kali pasti deg-degan luar biasa. Saran saya, ikuti arahan para kru yang bertugas agar senantiasa aman," kata Hamim Tohari, selaku Senior Head of Relations HCML.

Setelah proses menegangkan itu, maka tibalah di Kapal Karapan Armada Sterling III. Kapal yang berfungsi sebagai Floating Production Storage and Offloading (FPSO) dari lapangan BD offshore migas HCML.

Keamanan Ketat

Meski sudah menginjakkan kaki di atas kapal, jangan kira bisa seenak jidat melakukan apapun yang diinginkan. Ada banyak peraturan dan item yang harus dikenakan atau dibawa selama beraktifitas di atas kapal. Mulai dari safety google, pakaian overall, safety helmet, hingga alat pernapasan darurat.

"Alat-alat itu sangat berguna demi keselamatan mereka yang ada di atas kapal. Karena sensitifitas peralatan yang ada, maka kehati-hatian juga sangat penting. Beberapa hal juga sangat dilarang di beberapa sudut kapal. Seperti misalkan mengaktifkan handphone hanya dimungkinkan di area akomodasi saja," kata Kapten Kapal Boy Valentino.

Bukan hanya itu saja, di area akomodasi yang terbilang memiliki peraturan yang paling longgar sekalipun, mereka yang berada di sana tidak bisa sembarangan. Ada beberapa peraturan yang tidak boleh dilanggar.

"Membuang sampah pun harus dipilah-pilah. Setiap jenis sampah memiliki tempatnya sendiri. Lalu juga tidak diperkenankan menyalakan api secara sembarangan meski di area akomodasi. Kamar-kamar yang ada juga tidak disarankan untuk dikunci demi tindakan penyelamatan jika terjadi hal darurat. Alas kaki juga harus selalu digunakan," ujar Kapten Boy.

"Juga ada beberapa mekanisme yang harus dilakukan setiap orang ketika kondisi darurat. Semisal, ada beberapa kartu identitas yang harus di balik untuk menandakan jika orang itu sudah berada di titik evakuasi ketika kondisi darurat terjadi. Ini untuk memudahkan kami mengidentifikasi siapa-siapa saja yang sudah berada di titik evakuasi ketika hal yang tidak diinginkan itu terjadi," tambah pria berusia 38 tahun itu.

Semua Sama, Rindu Keluarga

Kru yang bertugas di atas Kapal Karapan Armada Sterling III total berjumlah 73 orang. Terdiri dari kru yang bekerja di sektor maintenance, katering, maupun sektor-sektor lainnya. Bekerja di tengah lautan, menjadikan mereka tidak bisa sewaktu-waktu pulang ke rumah untuk bercengkrama dengan keluarga.

Memiliki jadwal bekerja yang berbeda, paling cepat seorang kru baru bisa pulang setelah bekerja selama dua minggu dan bisa berlibur selama dua minggu pula. Waktu terlama yang harus ditempuh adalah 3 bulan bekerja dan mendapatkan libur satu bulan penuh.

Tentu saja ini menjadi hambatan tersendiri bagi mereka yang menjadi kru di sana. Berkumpul dan asyik mengobrol dengan istri atau anak yang masih kecil seringkali hanya menjadi angan dan harus dipendam sementara waktu. Tapi tentu saja hal itu bisa disiati dengan teknologi. Di atas kapal, mereka masih bisa melakukan panggilan video dengan orang tersayang di rumah. Fasilitas internet di atas kapal dengan jaringan wifi memiliki kecepatan yang luar biasa tinggi.

"Dikit-dikit anak minta video call sama saya ke Ibunya. Padahal, 1 tahun genap saja juga belum ha ha ha. Sementara saya di sini jadwal bekerja juga padat sekali. Jadi ya seringnya video call 1-2 menit saja cukup lalu nanti disambung lagi kalau sudah senggang," beber Umar, staf maintenance asal Gresik.

"Yang kasihan kalau malam itu, Mas. Anak kecil kan sering itu ya kebangun malam-malam. Nah sering juga itu anak saya, baru bisa tidur lagi kalau sudah video call," tambahnya dengan raut muka menahan rindu.

Bagaimana jika jenuh bekerja? Dari pria berpotongan rapi ini terungkapkan jika pihak manajemen di kapal tempat ia bekerja sangat memperhatikan kondisi psikologis bagi segenap kru yang bertugas.

"Fasilitas hiburan dan olahraga di sini lengkap. Yang suka karaoke, ada ruang karaoke. Yang suka pingpong, ada arena pingpong. Yang suka ngegym, gym di sini juga lengkap. Selain itu, kompetisi-kompetisi antar kru juga sering ada. Jadi kita nggak stres," bebernya.

Sederhana, Namun Penuh Haru Matahari baru saja terbit, sekitar pukul 06.30, tetapi pagi itu, Jumat (17/8/2018), segenap kru Kapal Karapan Armada Sterling III sudah berbaris rapi di buritan yang juga berfungsi sebagai heli deck. Mereka hendak melakukan Upacara HUT ke-73 Republik Indonesia.

Jangan dikira upacara akan dapat dengan mudah dilakukan. Kecepatan angin saat itu mencapai kurang lebih 15 knot dan ombak hingga sekitar setengah meter. Berdiri tegap di tengah terpaan angin dan kapal yang kadang bergoyang mengikuti ombak bukan main susahnya.

"Saya kebetulan berdiri di pinggir, rasanya badan ini mau roboh saja. Ini pengalaman pertama saya upacara bendera di atas kapal. Luar biasa sekali. Rasa haru dan bangga jadi benar-benar terasa," kata Hamim Tohari.

"Kurang lebih dua bulan mereka berlatih dan mempersiapkan diri. Itu mereka lakukan di tengah kesibukan mereka dalam turut serta menjaga ketahanan energi nasional yang juga sangat padat," tambah Hamim.

Meskipun demikian, tampak segenap peserta dan petugas upacara yang terdiri dari seluruh personel yang berada di Kapal Karapan Armada Sterling III dan perwakilan HCML dari kantor Surabaya serta perwakilan SKK Migas Jabanusa tetap dengan khidmat dan haru bercampur bangga tergambar di ekspresi wajah melakukan seluruh rangkaian prosesi upacara.

Kepala SKK Migas Jabanusa Ali Masyhar yang turun langsung untuk memimpin sebagai inspektur upacara pun nampak sangat bersemangat. Tidak tampak sekali rasa lelah ataupun goyah akibat ombak maupun angin dari wajah pria berumur 54 tahun itu.

"Momentum peringatan HUT ke -73 Kemerdekaan Republik Indonesia mari kita manfaatkan untuk kembali menyadari bahwa kita adalah pekerja migas yang mengemban amanah untuk mengisi kemerdekaan dengan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Saya mengajak seluruh insan migas Indonesia, mari bersinergi dengan mengedepankan profesionalitas dan integritas. Terus terus berkarya, memastikan prestasi industri hulu migas berkontribusi bagi kemajuan bangsa," kata Ali dalam amanatnya sebagai Inspektur Upacara.

Tidak salah jika dibilang puncak acara upacara ini adalah ketika pengibaran bendera merah putih. Seluruh peserta upacara memberi hormat dengan gagah dan bangga bak siap maju di medan pertempuran bersama para pahlawan. Bendera merah putih pun tampak seperti sempurna akibat tiupan angin. Dan Sang Merah Putih pun berkibar di buritan Kapal Karapan Armada Sterling III.[ifw/air]

Tag : hcml

Berita Terkait

Komentar

Kanal Berita Migas