Pulau Putri, Habis Gelap Terbitlah Terang

Sabtu, 21 Oktober 2017 19:45:28
Reporter : Temmy P.
Pulau Putri, Habis Gelap Terbitlah Terang
Rombongan KEI mengunjungi Pulau Tonduk melihat mesin PLTD. [Foto: Temmy/BJT]

Sumenep (beritajatim.com) - Meski tak se-ekstrem pepatah 'bagai sayur tanpa garam', hidup tanpa listrik juga terasa hambar. Mungkin nyaris serupa dengan menyantap makanan tetapi tak memenuhi kaidah empat sehat lima sempurna.

Itu yang dirasakan warga Pulau Tonduk, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep. Bertahun-tahun, warga pulau yang dikenal sebagai Pulau Putri ini, bertahan menjalani aktifitas sehari-hari, tanpa listrik.

"Sumber listrik di Pulau Tonduk hanya dari genset pribadi yang kekuatannya tidak seberapa. Itupun harus dibagi-bagi dengan beberapa rumah. Hanya cukup untuk menyalakan lampu sekadarnya saja," kata Kepala Desa Tonduk, Sri Hajati.

Pulau Tonduk hanya terdiri dari satu desa, yakni Desa Tonduk. Secara administratif, pulau ini masuk dalam wilayah Kecamatan Raas.

Selama dua hari, media ini berkesempatan mengikuti kunjungan Kangean Energy Indonesia, salah satu kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas yang beroperasi di wilayah perairan Raas, ke beberapa pulau di Raas. Tujuannya untuk melihat realisasi program kelistrikan dengan menggunakan mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Salah satu desa yang dikunjungi rombongan Kangean Energy Indonesia dan sejumlah media adalah Desa Tonduk. Desa ini juga disebut sebagai Pulau Putri, karena memang sebagian besar warganya berjenis kelamin perempuan. Sebagian besar para ibu. Sedangkan yang laki-laki atau para suami, pergi melaut berbulan-bulan. Kadang sampai 5 bulan baru pulang.

Sri Hajati menceritakan, bagi warga desanya, bisa menikmati terangnya lampu dan menonton acara di televisi sebagai hiburan, nyaris tak ubahnya seperti mimpi.

Hanya beberapa warga yang ekonominya relatif mapan yang mampu menyalakan televisi setiap hari. Selebihnya, cukup bercengkerama bersama keluarga dan tetangga yang bisa dilakukan untuk mengusir sepi.

"Kalau warga yang mampu beli solar secara urunan untuk genset, ya berarti di rumah itu lampunya bisa menyala. Tapi kalau tidak punya uang untuk beli solar, ya terpaksa menggunakan lampu 'teplok' atau lilin untuk penerangan," ujar kades cantik ini.

Mimpi warga Desa Tonduk untuk menikmati listrik, akhirnya menjadi kenyataan setelah SKK Migas dan Kangean Energy Indonesia (KEI) melalui program penunjang operasi (PPO), membangun kelistrikan di beberapa Pulau di Kecamatan Raas, termasuk Pulau Tonduk.

"Di Desa Tonduk, program kelistrikan yang dibangun KEI terealisasi mulai 2015. Alhamdulillah, sekarang warga kami sudah bisa menikmati nyala listrik saat malam hari," ungkapnya.

Ia menuturkan, dengan PLTD di desanya, listrik menyala mulai pukul 18.00 - 06.00 WIB. Meski baru menyala 12 jam, kondisi itu sangat membantu aktifitas warga Desa Tonduk.

"Kami berharap, suatu saat nanti, listrik disini bisa menyala 24 jam, sehingga membantu aktifitas perekonomian warga," ucapnya.

Ia menambahkan, pengelolaan PLTD tersebut diserahkan pada kelompok masyarakat (Pokmas). Pokmas itulah yang bertanggungjawab penuh terhadap kelangsungan pengoperasian mesin PLTD.

"Tiap rumah dikenai biaya Rp 32 ribu per bulan. Warga tidak ada yang keberatan, karena biaya itu jauh lebih murah dibanding sebelumnya, saat kami harus beli solar sendiri untuk menghidupkan genset pribadi," paparnya.

Sementara Senior Public Government Affairs Kangean Energy Indonesia, Kampoi Naibaho menjelaskan, program kelistrikan di Pulau Raas sebenarnya mulai terealisasi tahun 2013, tepatnya di Pulau Gowa-gowa dan Komerian. Setelah itu menyusul untuk Pulau Kalosot, Pulau Talangu Aeng, Pulau Talangu Tengah, dan Pulau Tanduk.

"Setiap tahun, program PPO kami memang berwujud kelistrikan. Itu program tunggal, sesuai keinginan masyarakat. Karena saat ditanya, masyarakat bilangnya hanya ingin listrik. Bukan yang lain," ujarnya.

Sedangkan untuk Kecamatan Raas daratan (Pulau induk), dalam dua tahun terakhir Kangean Energy Indonesia mulai merintis program kelistrikan berupa pengadaan tiang dan jaringan.

"Di Raas daratan nantinya listrik tersentral. Karena itu, kami tengah menggarap pengadaan tiang dan jaringan. Kami memang sengaja mendahulukan program kelistrikan di pulau-pulau kecil ketimbang di Raas daratan," terangnya.

Menurut Kampoi, pihaknya sengaja menggarap kelistrikan di pulau-pulau kecil lebih awal, karena selama ini pembangunan di tempat yang jauh itu relatif terbatas.

"Jadi ketika kami mendahulukan yang di pulau-pulau kecil, masyarakatnya kaget. Merasa 'surprise', karena mereka didahulukan dibanding daratan. Apresiasi mereka luar biasa," ucapnya bangga.

Hanya saja, lanjut pria ramah ini, butuh dana yang tidak kecil untuk bisa menuntaskan program kelistrikan di Pulau Raas. Ia mengkalkulasi, setidaknya perlu Rp 30-40 milyar untuk program kelistrikan itu. Karenanya, ia berharap ada campur tangan pihak lain yakni PLN, untuk ikut membantu mempercepat realisasi progran kelistrikan di Raas.

"Kalau hanya menunggu dari kami, bisa-bisa perlu waktu hingga 10 tahun lebih. Karena itu akan lebih bagus kalau persoalan kelistrikan ini diambil alih PLN. Kami hanya sebagai stimulan saja," tuturnya.

Sedangkan Kepala Bagian Energi dan Sumber Daya Alam Pemkab Sumenep, Abd Kahir menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya, PLN akan mengambil alih pembangunan kelistrikan di Kecamatan Raas daratan. Sedangkan untuk Raas kepulauan atau pulau-pulau kecil yang mengelilingi Raas, tetap diserahkan pada Pokmas yang mengelola PPO Kangean Energy Indonesia.

"Kalau untuk Raas daratan, saat ini kami tengah melakukan komunikasi intensif dengan PLN, SKK Migas, dan KEI. Kami berharap, pada 2018, program kelistrikan di Raas daratan bisa terwujud," ucapnya.

Menurutnya, pemerintah daerah 'kebagian' tugas menyiapkan lahan berukuran 60 x 50 meter persegi. Lahan seluas 3000 meter persegi itu akan digunakan untuk rumah listrik, perkantoran, dan pos jaga. Sedangkan kebutuhan-kebutuhan lain seperti jaringan dan mesin disediakan oleh PLN, dan tiang disiapkan KEI.

"Kami sudah melakukan komunikasi dengan berbagai pihak terkait, sekaligus survei untuk menentukan lokasi yang paling tepat secara teknis," paparnya.

Kini, gelap di Pulau Raas hanya tinggal cerita. Meski hanya separuh hari listrik  menyala, tetapi pulau-pulau kecil di Raas telah menjadi pulau yang bercahaya. Secantik Pulau Putri, habis gelap, terbitlah terang. [tem/but]

Tag : migas

Berita Terkait

Kanal Berita Migas