Bisnis Hulu Migas Tak Selalu Manis

Senin, 09 Oktober 2017 11:29:14
Reporter : Renni Susilawati
Bisnis Hulu Migas Tak Selalu Manis

Surabaya (beritajatim.com) - Bisnis hulu Minyak dan Gas (Migas) bukanlah bisnis yang mudah. Meskipun memiliki banyak modal, tidak menjadi jaminan bisnis Migas akan untung besar.

Hal itu diungkapkan olehDirektur Utama Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf bersama Dicky Rahmadi, Senior G&G Eastern Indonesian Region SKK Migas menjadi pembicara dalam ITS International Geoscience Convention di Surabaya, Minggu (8/10/2017).

Dalam acara yang mengangkat  tema Optimizing Role of Geoscientist itu, Nanang menyebutkan industri hulu migas sangat beresiko, baik resiko kecelakaan kerja maupun resiko hilangnya modal akibat tak menemukan minyak maupun gas sesuai prediksi semula.

"Resiko lebih tinggi lagi untuk wilayah kerja Indonesia Timur. Belum lagi aturan yang ketat agar lingkungan tetap terjaga hingga perijinan yang lebih rumit," ungkap Nanang.

Beruntung tahun ini sejumlah kebijakan yang menyangkut industri hulu migas sudah banyak yang direvisi  sehingga sedikit membantu perusahaan hulu migas.

"Saking beresikonya, saya ingat tahun 2012 lalu, banyak pengusaha migas yang datang ke wilayah kerja Indonesia Timur untuk melakukan ekplorasi migas, hasil setelah menghabiskan 2 miliar dollar, tak banyak migas yang dikeluarkan," ungkapnya dihadapan mahasiswa ITS serta undangan yang datang.

Nanang berharap dari pemerintah kedepan semakin memberikan data dan seismik yang lebih detail tentang potensi Migas sehingga akan semakin banyak investor yang menanamkan modalnya di industri migas ini.

Hal yang sama juga diamini oleh Dicky, sebab Indonesia masih kekurangan minyak dari kebutuhan 1,2 juta barrel yang terpenuhi baru 800 ribu barrel setahun. Salah satu faktornya adalah penurunan alami sumur-sumur migas, hingga mahalnya dana yang dikeluarkan sehingga dibutuhkan perencanaan yang matang dan tepat.

Dua pakar geologis dari Taiwan yakni Prof How Wei Chen , National Central University Taiwan dan Prof Chao Hung Lin dari National Cheng Kung University juga menyebutkan decline adalah momok di dunia migas. Untuk itu teknologi harus terus dikembangkan.[rea/ted]

Tag : migas

Berita Terkait

Kanal Berita Migas